sumber ilustrasi: pinterest.com

sumber ilustrasi: pinterest.com

“Nggak semua orang itu kreatif” adalah kalimat bermakna pesimis dan sayangnya, banyak orang percaya dengan kalimat tersebut. Hidup di era dimana perkembangan teknologi lagi melejit-melejitnya, saya merasakan perbedaan yang cukup terasa dalam hal berkarya zaman dulu dan zaman sekarang. Flashback ke tahun 2006-2008, waktu itu saya masih SD dan belum mengenal yang namanya internet. 

Apalagi waktu itu ibu saya tidak memiliki gadget yang bisa digunakan untuk mengakses internet seperti laptop, android, atau smartphone. Satu-satunya media untuk berkarya saya adalah kertas. Saya menggambar komik, melukis kartun, sampai menulis mini novel saya di buku tulis.

Dalam seminggu saya bisa menghabiskan 2 buku gambar seukuran A3 karena saking sukanya dengan menggambar. Ingin waktu itu menunjukan karya saya kepada banyak orang, tapi apa daya tidak ada media yang bisa saya gunakan untuk menyebarkan ide kreatif milik seorang bocah SD.

Lalu tibalah tahun sekitaar 2011 sekarang. Tahun 2011 saya mulai memiliki facebok. Tahun 2012 saya mulai membuat akun twitter. Tahun 2013 saya memposting foto saya pertama kali di Instagram. Saat-saat itulah zaman ketika kreatifitas bisa disebarkan dengan mudah.

FOTO: Meme Kocak Perubahan Zaman Dulu dan Sekarang | jadiberita.com jadiBerita.com581 × 640Search by image Meme perubahan zaman dulu dan sekarang (Hotmagz)

FOTO: Meme Kocak Perubahan Zaman Dulu dan Sekarang | jadiberita.com jadiBerita.com581 × 640Search by image Meme perubahan zaman dulu dan sekarang (Hotmagz)

Saya suka mengedit foto di Facebook pada tahun 2011. Hasil editan saya kemudian digunakan teman saya menjadi profil picturenya pada saat itu. Dari situ saya merasakan bahwa berkarya, mengerjakan ide adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Kemudian Twitter. Tweet-tweet saya dulu berisi quotes-quotes yang saya buat sendiri. Saya rangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat bermakna berjumlah 140 karakter.

Dari Twitter saya bisa mengekspresikan passion dan hobi dalam menulis dan storytelling. Berbeda ketika zaman 2008 dimana saya menulis di sebuah buku yang hanya diri saya sendiri saja yang mengetahuinya. Tahun 2013 ketika saya punya Instagram untuk pertama kali, tidak ada yang istimewa pada saat itu. Follower nggak ada tapi following bejibun ( Hayo siapa pernah begini?).

Postcomended   Kali Temi Kini Super Bersih Bagai Cheonggyecheon-nya Lumajang

Coba-coba berhadiah saya posting foto perdana di akun saya yaitu foto pohon dengan matahari bersembunyi dibaliknya dan dengan caption yang mengandung hastag, eh nggak tahunya tiba-tiba ada yang nge-like! Lalu tak berselang lama beberapa orang mulai mem-follow saya. Dengan kegirangan saya mulai memposting hasil jepretan saya di Instagram sampai sekarang. Betapa mudahnya menyebarkan karya di social media, pikir saya waktu itu. Dan di tahun 2017 saya juga memulai membuat video-video kreatif di youtube dan instagram.

Perbedaan Anak Zaman Dulu dan Zaman Sekarang oleh Rizkya Bunga ... Kompasiana.com402 × 402Search by image Perbedaan Anak Zaman Dulu dan Zaman Sekarang

Perbedaan Anak Zaman Dulu dan Zaman Sekarang oleh Rizkya Bunga … Kompasiana.com402 × 402Search by image Perbedaan Anak Zaman Dulu dan Zaman Sekarang

Hal-hal yang sedang happening saat ini membuat saya rindu dengan  masa lalu tepatnya tahun-tahun saya belum mengenal internet dan gadget. Dimana saya masih seorang anak kecil yang menggambar di buku tulis bukan di windows paint. Zaman dimana masih sulit untuk berbagi pikiran dan berekspresi.

Kids jaman dulu pasti jago menggunakan ini (dokpri)

 

Postcomended   Tom Cruise Pamer Tempat Syuting "Mission: Impossible 6"

Nah, mumpung masih ada dan hidup di era digital yang lagi gila dan naik daun sekarang ini, saya akan berkarya terus. Entah menulis, memotret, membuat video, menggambar, atau menjual sesuatu yang bernilai jual. Kalau katanya Bobby Solomon, sih begini

“Publikasikan diri dan karyamu setiap hari, kamu akan bertemu orang-orang hebat.”

Lalu bagaimana dengan kreatifitas?

Kabar baiknya, Semua orang berpotensi dan bisa untuk menjadi kreatif. Ingat, semua orang! Kabar buruknya, nggak semua orang mau jadi kreatif alias berpikir out of the box. Novel saya pernah ditolak penerbit major karena dikata kurang menarik dan membosankan. Sudah menunggu cukup lama, eh ternyata ditolak (sakitnya tuh disini). Awal mendapat info bahwa naskah saya tidak diterima pasti down, dong. Saya mikir apa saya kurang kreatif ya? Bisa nggak ya saya buat novel yang lebih menarik dan nggak ditolak lagi?

Untungnya saya nggak mutung dan berhenti begitu saja. Saya terus berkarya, menulis apapun yang saya suka. Dan syukurlah novel kedua saya sudah hampir selesai dan kalau dibaca-baca cukup menarik daripada yang pertama hihihi… Anyway, daripada menghabiskan waktu untuk menangis tersedu-sedu karena karya ditolak mulu, lebih baik buatlah karya lagi dan berkaryalah lebih banyak.

Postcomended   Malaysia Bersiap Kembangkan Proyek Mobnas Ketiga

Ohya, sewaktu membuat karya saya juga sering dilanda sakit yang tiba-tiba seperti nggak enak badan dan pusing karena sering tidur malam untuk mengerjakan ide-ide dan tugas saya. Bingung juga, sih awalnya apalagi saya bukan orang yang suka menegak obat. Kalau bisa sembuh sendiri, lah daripada minum obat-obatan, toh sakitnya juga bukan sakit yang begitu parah.

Namun perut kembung, pusing, dan nggak enak badan itu rasanya nggak banget, deh! Melakukan apa-apa jadi nggak nyaman. Bawaanya ingin tidur mulu kalau sudah diserang penyakit begituan. 

Share the knowledge