Nasional

Beredar Tulisan Dokter Reisa Brotoasmoro Telah Mencoba Narkoba Digital, dan Mengaku “Fly”

Biodata Lengkap Dokter Reisa Broto Asmoro, Teman Alm Dokter Ryan ... Foto foto artis ... acara kesehatan yang tampil sehari-hari Senin s/d Jumat jam 07. 00 WIB serta hari Sabtu & Minggu jam 15. 00 WIB. Dalam acara ini ia memandu dengan dr.

Biodata Lengkap Dokter Reisa Broto Asmoro, Teman Alm Dokter Ryan … Foto foto artis … acara kesehatan yang tampil sehari-hari Senin s/d Jumat jam 07. 00 WIB serta hari Sabtu & Minggu jam 15. 00 WIB. Dalam acara ini ia memandu dengan dr.

Media sosial, termasuk aplikasi berbagi pesan WhatsApp, kembali diramaikan isu ihwal narkoba digital. Tulisan yang beredar di WhatsApp menyebut nama dr Reisa Brotoasmoro sebagai penulisnya. Pembawa acara “Dr Oz Indonesia” ini mengingatkan agar orangtua berhati-hati pada aplikasi di internet bernama I-doser, karena bisa berdampak serius pada kesehatan. Isu I-doser sebenarnya pernah ramai dibincangkan pada 2015. Namun Badan Narkotika Nasional (BNN) kala itu seperti tidak mencemaskannya. Mereka hanya menyebut bahwa I-doser tak termasuk golongan narkoba.

BNN, seperti dilaporkan situs Liputan6 pada 2015, merujuk pada penelitian yang dilakukan berbagai universitas, menyatakan bahwa “tidak menemukan perubahan pola otak pada pengguna I-Doser”.

Dalam tulisan yang disebut dibagikan Reisa Brotoasmoro, aplikasi ini bisa memberikan efek seperti menggunakan narkoba melalui brainwave MUSIC!!! “Sebenarnya sih lebih kearah hipnosis ya,” sebut wanita yang baru saja melahirkan putra keduanya ini.

Reisa mengaku penasaran. Dia pikir awalnya ini cuma guyonan. Diapun mengunduh aplikasi tersebut lalu mencoba mendengarkan. Belum sampai tiga menit mendengar (rata-rata durasinya 14 menit), Reisa mengaku efeknya mulai terasa, meskipun dia masih tak yakin. “Saya ga tahu ya, memang sayanya aja atau memang beneran.”

Postcomended   GIPI Babel Hadirkan Lomba Film Pendek dan Kompetisi Jurnalistik

Namun Reisa mengaku dia mulai merasa “fly”. “Saya tidur nyaman sekali, terasa deep sleep. Bangun-bangun bisa langsung seger banget (biasanya mesti males-malesan dulu). Kulit terasa kencang, raga bersemangat!! Saya pikir enak juga nih, brainwave ini bisa bikin deep sleep,” sebut Reisa dalam tulisan yang beredar di WhatsApp tersebut.

Namun kemudian, Reisa mulai merasakan ketidaknyamanan saat memasuki siang hari. Makin siang, tulis Reisa, badan mulai terasa gak enak. Dia merasa kleyengan. Perut mual karena asam lambungnya naik. Mata memerah. Persis seperti orang sakaw, sebut Reisa. “Ya Tuhan… jadi itu beneran ya… Jaman sekarang narkoba bisa lewat telinga dan efeknya tidak enak banget setelahnya?? tulis Reisa.

Reisa juga mengungkapkan, di aplikasinya terdapat nama macam-macam drugs dan pilihan dosisnya. Tiap dosis ada harganya. Reisa juga menyebut digital narcotic ini sangat mudah diakses dari smartphone.

“Jadi hati-hati ya yang punya anak, terutama remaja dan punya akses ke aplikasi mana aja di smartphone. Please help me to report this to apple/android that this is dangerous and not funny at all…” ujar Reisa.

Postcomended   Kantor “Hutan Hujan” Mini Amazon Resmi Beroperasi

Dalam pesan yang beredar di medsos pada 2015, disebutkan bahwa awalnya aplikasi bisa diunduh gratis. “Lalu kita pilih dosisnya. Lalu denger pakai earphone. Durasi sekitar 10-15 menit. Gelombang ini mempengaruhi gelombang di otak. Saat dia on, durasi putus. Karena otak sudah dikacaukan dan akan ada efek.”

Selanjutnya disebutkan bahwa kita bisa membeli dosis baru lagi. Harganya tidak mahal, hanya sekitar $10. Parahnya, sambung pesan tersebut, sel otak kita sudah dirusak dan menjadi addict (kecanduan). Menurut pesan ini –tanpa menjelaskan apakah pasien yang dimaksud di tulisan ini korban i-doser– sudah ada informasi dari BNN bahwa ada pasien yang sedang direhabilitasi “Paling muda yang kena narkoba umur 9th, dan paling tua umur 65.”

Namun dari informasi yang beredar di media, tak ada sumber yang menyebutkan bahwa i-doser telah memakan korban. Komentar BNN seperti dilaporkan situs Tempo pada Jumat (13/4/2018), seperti tak mencemaskan isu ini. Mereka hanya menjelaskan apa itu I-doser.

Disebutkan bahwa I-doser menurut BNN adalah aplikasi berbasis teknologi audio. Komisaris Besar Polisi, Slamet Pribadi, dalam wawancara dengan Tempo pada 2015, mengatakan, I-doser sebetulnya hanya konten berupa binaural (dua suara) berdurasi 30-40 menit. Binaural adalah teknologi yang disebut dapat menstimulasi otak dan mengubah keadaan psikis seseorang. “Persis narkoba,” kata Slamet.

Postcomended   25, 26, 27 Agustus dalam Sejarah: Krakatau Meletus!

Namun dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, bahwa narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman yang dapat menyebabkan ketergantungan, BNN tidak menetapkan I-doser sebagai narkoba.

Dalam keterangan resmi yang dikeluarkan pada 14 Oktober 2015, BNN mengatakan, tak dapat dimungkiri bahwa suara, nyanyian, atau gelombang suara dalam ritme tertentu, mampu memengaruhi manusia secara emosional. Seseorang yang mendengarkan sebuah lagu dapat merasakan ketenangan dalam dirinya atau bahkan menjadi gundah dan gelisah, bergantung pada jenis musik apa yang didengarkan.

Hal ini terjadi lantaran gelombang suara merangsang sel-sel saraf dan menghantarkannya ke otak. “Namun para peneliti dari berbagai universitas tidak menemukan perubahan pola otak pada pengguna I-Doser,” tulis BNN.(***/tempo/liputan6)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top