Internasional

Berharap Perlindungan Eropa, Iran Umumkan Bakal Langgar Batas Pengayaan Uraniumnya

Share the knowledge

 

Presiden Iran, Hassan Rouhani dan Presiden AS, Donald Trump (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=9xTzW6kVgzg)

Presiden Iran, Hassan Rouhani dan Presiden AS, Donald Trump (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=9xTzW6kVgzg)

Iran mengumumkan akan melanggar batas persediaan cadangan uranium yang diperkaya pada 27 Juni; tanggal yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan nuklir 2015 dengan “kekuatan dunia”. Sikap ini diambil dengan harapan negara-negara Eropa akan melindunginya dari sanksi AS.

Badan energi atom Iran mengatakan telah empat kali lipat memproduksi bahan yang digunakan untuk membuat bahan bakar reaktor dan senjata nuklir yang berpotensi. Tetapi mereka kemudian menambahkan, masih ada waktu bagi negara-negara Eropa (yang termasuk dalam kekuatan dunia itu) untuk bertindak, dengan melindungi Iran dari sanksi Amerika Serikat (AS), BBC melaporkan.

Inggris, Prancis, dan Jerman, telah memperingatkan Iran untuk tidak melanggar kesepakatan tersebut. Mereka sebelumnya mengatakan tidak akan punya pilihan selain menerapkan kembali sanksi mereka sendiri, yang (pada 2015) dicabut sebagai imbalan atas komitmen Iran membatasi program nuklirnya.

Perkembangan terakhir ini terjadi saat ketegangan di Timur Tengah meninggi karena AS menuduh Iran berada di balik serangan yang menyebabkan dua tanker minyak terbakar di Teluk Oman, Kamis (13/6/2019). Iran membantah.

Awal Mei lalu, Iran mengisyaratkan niatnya keluar dari beberapa kendala sebagai akibat perjanjian nuklir tersebut.  Senin (17/6/2019), Iran mengulangi ancaman itu, menambahkan bahwa pengayaan sedang ditingkatkan yang akan melanggar batas jumlah uranium yang diperkaya-rendah yang harus dipegangnya sebelum akhir bulan ini.

Postcomended   PM Singapura Isyaratkan Asia Akan Dipaksa Pilih Amerika atau Cina

Setara Nuklir untuk Bom

Ancaman peningkatan pengayaan uranium Iran ini, jika terjadi, akan membawa program nuklir Iran lebih dekat ke materi “senjata”. Di tengah ketegangan tersebut, banyak yang khawatir Washington dan Tehran berada di ambang bentrokan militer.

Di bawah kesepakatan nuklir, Iran hanya diizinkan memproduksi uranium yang diperkaya-rendah, yang memiliki konsentrasi U-235 3-4% dan dapat digunakan untuk menghasilkan bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Uranium “kelas senjata” 90% diperkaya atau lebih, sebut BBC.

Iran mengeluh, kekuatan-kekuatan Eropa telah gagal mematuhi komitmen mereka untuk mengurangi dampak pada ekonomi dari sanksi yang dipulihkan Presiden Trump setelah meninggalkan perjanjian nuklir tahun lalu. Trump ingin memaksa Iran menegosiasi ulang perjanjian itu dan setuju menghentikan program rudal balistiknya dan mengakhiri kegiatan “memfitnah” di Timur Tengah.

Presiden Iran, Hassan Rouhani, memberi negara-negara Eropa di dalam “kekuatan dunia” 60 hari untuk melindungi penjualan minyak Iran, yang mana AS telah mengecam negara-negara yang masih bertransaksi dengan Iran.

Postcomended   Lokakarya untuk Sekolah-sekolah Filipina Belajar Islam dari Indonesia #SURUHGOOGLEAJA

Jika mereka gagal, kata Rouhani, Iran akan menangguhkan pembatasan pengayaan uraniumnya dan menghentikan desain ulang reaktor “air berat”-nya di Arak, yang bahan bakarnya akan mengandung plutonium yang cocok untuk memproduksi bom.

Senin, seorang juru bicara Organisasi Energi Atom Iran mengatakan pada konferensi pers yang disiarkan televisi di Arak bahwa “penghitungan mundur untuk cadangan 300 kg uranium yang diperkaya telah dimulai”. “Dalam waktu 10 hari kita akan melewati batas ini,” kata Behrouz Kamalvandi.

Kamalvandi mengatakan, masih ada waktu untuk orang-orang Eropa. Namun mereka kata Kamalvandi, telah secara tidak langsung menyatakan ketidakmampuan mereka untuk bertindak. “Mereka seharusnya tidak berpikir bahwa setelah 60 hari, mereka akan memiliki kesempatan 60 hari lagi,” ancam Kamalvandi.

Kamalvandi juga mengatakan Iran mungkin mulai memperkaya uranium hingga 5% konsentrasi sehingga dapat menyediakan bahan bakar untuk pembangkit listrik Bushehr, atau bahkan hingga 20% konsentrasi yang diperlukan untuk reaktor riset Teheran.

Seorang juru bicara Perdana Menteri Inggris ,Theresa May, mengatakan, pemerintahnya prihatin pada rencana Iran untuk mengurangi kepatuhan pada kesepakatan 2015 itu. “Jika Iran berhenti memenuhi komitmen nuklirnya, kami kemudian akan melihat semua opsi yang tersedia bagi kami,” ancam balik juru bicara tersebut.

Postcomended   Videonya Difilter Youtube, Seorang Wanita Menyerang Markas Youtube #SURUHGOOGLEAJA

Kementerian luar negeri Jerman mendesak Iran untuk mematuhi perjanjian itu. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu –yang tidak termasuk dalam kekuatan dunia– yang merupakan penentang keras perjanjian nuklir, menyerukan sanksi internasional segera diberlakukan kembali jika Iran memenuhi ancamannya.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top