Taman Nasional Teluk Cendrawasih Pakai Cara 'Baru' Awasi Kawasan Cahaya Papua500 × 300Search by image

Taman Nasional Teluk Cendrawasih Pakai Cara ‘Baru’ Awasi Kawasan Cahaya Papua500 × 300Search by image

Saya memulai perjalanan menuju Bandar Udara Soekarto Hatta(Bandara Soetta) Tangerang pada tanggal 23 Oktober 2017 pukul 15.00 WIB dari kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Sesampainya di Bandara Soetta, teman-teman saya sudah menunggu sekitar 20 menit yang lalu.

Akhirnya dua jam lebih waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penerbangan menuju Biak yang akan berangkat pukul 21.00  WIB. Hal itu saya manfaatkan untuk berdiskusi  mengenai persiapan menuju Soetta. Akhirnya tepat jam 21.00 WIB pesawat lepas landas menuju Biak dengan transit terlebih dahulu di Sultan Hasanuddin Airport, Makassar.

24 Oktober 2017 sekitar pukul 05.00 WIT kami tiba di Bandara Biak dan melanjutkan penerbangan menuju Nabire. Waktu transit selama di bandara tersebut selama satu jam. Waktu telah menunjukkan pukul 06.10 WIT, saya melanjutkan penerbangan menuju Nabire.

Selama di perjalanan, terdapat cerita menyenangkan karena fasilitas yang ada di pesawat ini sungguh berbeda dengan fasilitas di pesawat sebelumnya. Pesawat yang kami gunakan saat ini adalah pesawat komersil yang khusus untuk penerbangan ke pelosok negeri. Jadi seat yang ada di pesawat tersebut hanya 2(kiri) dan 2(kanan).

Sekitar pukul 07.45 WIB saya tiba di bandara Douw Aturure, Nabire, kabupaten Nabire, Papua. Kami pergi menuju kantor bidang wil. 1 Kabupaten Nabire untuk menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami ke TNTC. Pukul 09.00 WIT saya meninggalkan kantor bidang untuk pergi ke pantai Wage karena disana merupakan salah satu pantai yang terdapat perahu untuk perjalanan menuju resort Kali Lemon yang berada di kampung Kwatisore, Nabire.

Resort yang merupakan penginapan saya selama tiga hari berkegiatan disini. Sesampainya di pantai Wage pada pukul 11.10 WIT, kami menunggu speedboat yang akan digunakan hingga pukul 12.10 WIT kami memulai perjalanan menuju resort Kalilemon.

Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang menajubkan. Khatulistiwa Tour Travel878 × 575Search by image

Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang menajubkan. Khatulistiwa Tour Travel878 × 575Search by image

25 Oktober 2017. Perjalanan dipagi hari dimulai dari kunjungan ke Kwatisore untuk menikmati tarian “Bambu Gila” dan Sejarah Batu Akudiomi serta pengamatan burung Cenderawasih di habitat aslinya. Sekitar pukul 09.00 WIB kami berangkat dari resort menuju Kwatisore, sekitar 15 menit perjalanan yang ditempuh.

Postcomended   Indonesia Belajar Minum Kopi Tanpa Ampas

Sesampainya di sana, kami disambut hanya oleh ketua suku di Kampung Kwatisore, Distrik Yaur dengan tari-tarian “Selamat Datang” yakni tamu undangan yang dihormati diharuskan untuk menginjak pasir yang terletak diatas dayung yang sudah dipersiapkan. Kemudian dilanjutkan dengan iring-iringan oleh masyarakat adat. Sekitar 30 menit lebih tari-tarian penyambutan tamu undangan dilakukan, kami pun sangat menikmatinya dan ikut menari bersama mereka.

Setelah itu saya diperlihatkan penampilan tarian Bambu Gila yang dilakukan oleh masyarakat adat. Bambu Gila. Atraksi tarian Bambu Gila tersebut dimainkan dengan mamasukkan ruh nenek moyang mereka kedalam bambu tersebut. Kemudian masing-masing dari mereka memegang batang bambu namun tidak diperkenankan untuk memegang bagian bilah dari bambu tersebut.

Terdapat proses pengasapan yang dilakukan terhadap bilah-bilang pada bambu tersebut agar bambu dapat bergerak. Bahan-bahan yang digunakan selama pengasapan yakni tanaman kemenyan(dihaluskan terlebih dahulu), daun gila(dalam ejaan bahasa Indonesia dan bahasa Yaur disebut Na’run Na’ri) dan bulu Burung Kasuari.

Masing-masing dari bahan tersebut memiliki manfaat tersendiri yakni Kemenyan sebagai pemanas, Bulu Kasuari agar bamboo dapat berjalan dan daun gila untuk diberikan pada bilah bambu. Beberapa pantangan sebelum melakukan tari tradisional ini, yakni tidak ada seorang pun yang berjalan melangkahi bambu sebelum acara dimulai dan tidak ada salah satu anggota keluarga dari masing-masing peserta Bambu Gila yang hamil karena akan mengganggu jalannya tarian tersebut.

Postcomended   Aktivitas Bandara Silangit Meningkat, Pariwisata Danau Toba Makin Kinclong

Perjalanan dilanjutkan menuju batu Akudiomi. Salah satu situs budaya yang masih ada hingga saat ini. Konon, batu tersebut adalah jejak kaki dari leluhur masyarakat disana. Perjalanan menuju lokasi batu tersebut cukup melelahkan karena harus melalui pendakian agar dapat menikmati keindahan pemandangan dari batu tersebut.

Setelah sampai pada batu tersebut, saya dapat melihat keseluruhan wilayah dari Distrik Yaur, Kabupaten Nabire pesona dari wilayah yang saya yang jajaki sekarang. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman;13).

Sekitar dua jam tiga puluh menit waktu yang saya habiskan dalam perjalanan dan kepulangan dari batu Akudiomi. Waktu telah menunjukkan pukul 13.00 WIT saatnya saya untuk kembali menuju resort untuk ISHOMA hingga pukul 16.00 WIT. perjalanan pun dilanjutkan pada pengamatan burung Cenderawasih yang merupakan maskot sekaligus nama dari Taman Nasional disini.

Sesampainya di lokasi, saya harus melewati hutan Bakau sejauh 600 meter dari pinggir pantai, kemudian melakukan pendakian dengan waktu tempuh sekitar 20 menit dari batas akhir hutan Bakau tersebut. Selama berjalan menuju lokasi pengamatan Cenderawasih, banyak sekali burung yang terdapat dilokasi ini mulai dari burung Rangkong, hingga berbagai jenis burung Cenderawasih.

Sayangnya, pemandangan tersebut belum bisa diabadikan melalui kamera DSLR ataupun smartphone dikarenakan lokasi pengamatan tersebut sedang ada kerusuhan antar suku, sehingga pohon yang menjadi tempat hinggapnya burung pun terpaksa berpindah ke tempat lain. Kami pun hanya menikmati kicauan-kicauan burung dari kejauhan.

Walaupun kami sempat melihat burung-burung tersebut, saat saya melakukan pemfokusan melalui kamera. Burung Kuning Kecil(Paradisaea minor) segera terbang untuk menuju lokasi lain.

Postcomended   10 Ikan Hias Air Tawar Termahal di Dunia, Berminat Memelihara?

26 Oktober 2017. Pagi hari sekitar pukul jam 05.00 WIT saya bangun pagi dan melakukan olahraga pagi secara sendiri-sendiri. Sekitar pukul 07.00 WIT kami tiba di bagan untuk menikmati berenang bersama hiu paus. Saya sangat senang bisa bersama dengan Hiu Paus. Hiu paus di Nabire sudah jinak. Jumlah Hiu Paus diwilayah timur Indonesia (termasuk Papua dan Papua Barat) lebih dari 100 spesies yang tersebar di berbagai wilayah.

Masyarakat di sini sudah berteman dengan Hiu Paus. Setiap pagi masyarakat lokal yang bertugas di bagan memberi makan ikan Puri(seperti Ikan Teri) kepada Hiu Paus dan Hiu Paus tersebut sudah terbiasa berada di bawah bagan tersebut setiap waktu. Sekitar pukul 13.00 WIT saya kembali bergegas pergi menuju kabupaten Nabire untuk melanjutkan perjalanan.

Namun saat menuju perjalanan, salah satu kapal yang teman saya tumpangi mengalami mogok di tengah laut selama 30 menit. Hal ini tentunya menjadi hambatan kami dalam perjalanan dan catatan bagi pihak balai BKSDA karena kru yang ada pada kapal tersebut kurang menguasai tentang bagaimana cara mengatasi kerusakan mesin.

Share the knowledge