Loading...
Internasional

Berupaya Sebarkan Agama, Pemuda 26 Tahun Tewas Dipanah Suku Asli Samudra Hindia

Share the knowledge

 

https://www.mirror.co.uk/news/world-news/first-picture-tourist-killed-north-13623398

John Allen Chau (foto dari: Mirror.co.uk)

Seorang petualang gaya Amerika dan misionaris Kristen, John Allen Chau (26), demikian dilaporkan penegak hukum setempat pada Rabu (21/11/2018), tewas dipanah oleh penduduk asli di pulau bernama Sentinel Utara. Jasadnya dikubur oleh suku pemburu-pengumpul ini di pulau lainnya yang terpencil di kawasan Samudra Hindia tersebut.  

Dependra Pathak, Direktur Jenderal Kepolisisan di Andaman dan Nikobar mengatakan, seperti dilansir laman Reuters, pulau Sentinel Utara adalah rumah bagi suku pra-Neolitik terakhir di dunia dan biasanya berada di lokasi di luar batas pengunjung. Laman Washington Post menyebutnya terlarang bagi pengunjung di bawah hukum India.

Pathak menambahkan, insiden ini didaftarkan sebagai kasus kasus pembunuhan terhadap orang yang tidak dikenal. Dia juga mengatakan, nelayan lokal yang diduga mengangkut Chau secara ilegal ke pulau seluas 60 km persegi tersebut telah ditangkap dengan tuduhan terpisah. Chau dibunuh oleh anggota komunitas Sentinel menggunakan busur dan panah, menurut beberapa akun media.

Polisi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah meluncurkan penyelidikan atas kematian Chau setelah dihubungi oleh konsulat AS di kota Chennai, India selatan. “Kami menerima laporan mengenai warga negara AS di Kepulauan Andaman dan Nikobar,” kata seorang juru bicara konsulat dalam email, tetapi menolak memberikan rincian lebih lanjut.

Pathak mengatakan sebuah kapal penjaga pantai dengan polisi dan para ahli suku telah pergi untuk mengintai pulau itu dan menyusun rencana untuk memulihkan tubuh Chau. Pulau Sentinel Utara berjarak sekitar 50 km di sebelah barat Port Blair, ibukota gugus pulau itu.

https://www.indiatoday.in/india/story/american-tourist-killed-on-andaman-island-home-to-uncontacted-peoples-1393013-2018-11-21&source=ctrlq.org

Foto langka dua anggota suku Sentinelese, yang dilindungi oleh hukum India dan yang populasinya diperkirakan di bawah 50. Foto ini diambil oleh Penjaga Pantai India (foto dari India Today)

Postingan di akun media sosial (medsos) milik Chau mengidentifikasi dia sebagai petualang dan penjelajah. Di akun medsos-nya itu dia tampak menanggapi permintaan suatu blog perjalanan tentang apa yang ada di puncak daftar rencana petualangannya. Chau yang berasal dari Vancouver Wash, Kanada,  menjawabnya: “Kembali ke Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.”
Chau juga mengatakan di blog itu: “Saya pasti mendapatkan inspirasi saya untuk hidup dari Yesus.” Berdasarkan postingan di medsosnya, Chau tampaknya telah mengunjungi India beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, menjelajahi dan berkhotbah di banyak bagian India selatan.

Postcomended   Lauren Cohan: Iko Uwais The Next Jackie Chan

Aggota keluarga Chau dalam postingan di halaman Instagram menggambarkan Chau sebagai “putra, saudara laki-laki dan paman tercinta” serta seorang misionaris Kristen, teknisi medis darurat padang gurun, pelatih sepak bola, dan pendaki gunung. “Dia mencintai Tuhan, hidup, membantu mereka yang membutuhkan dan tidak memiliki apa-apa selain cinta untuk orang-orang Sentinelese,” kata keluarganya.

“Kami memaafkan mereka yang dilaporkan bertanggung jawab atas kematiannya. Kami juga meminta pembebasan teman-teman yang dia miliki di Kepulauan Andaman.” Keluarga meminta agar kontak lokal tidak dituntut dalam kasus ini.

Sementara itu kepada Washington Post, ibunda Chau, Lynda Adam-Chau, membagikan jurnal milik anaknya tersebut yang menunjukkan perjalanan gelap berbahaya dalam perahu nelayan kecil ke daerah di mana ada suku kecil tinggal di gubuk.

Postcomended   27 November dalam Sejarah: Jawaharlal Nehru Serukan Amerika dan Soviet Hentikan Perang Dingin

Chau: yang Lainnya Agresif

Chau menulis, orang-orang dengan tinggi sekitar 5 kaki 5 inci, memiliki pasta kuning di wajah mereka, bereaksi dengan marah ketika dia mencoba berbicara dengan bahasa mereka dan menyanyikan “lagu pujian” kepada mereka. “Saya berteriak, ‘nama saya John, saya mencintaimu dan Yesus mencintaimu,'” tulisnya dalam jurnalnya. Salah seorang remaja suku asli itu menembaknya dengan anak panah, yang menembus Alkitab tahan airnya, tulisnya.

“Kalian mungkin berpikir saya gila dengan semua ini, tetapi saya pikir itu berharga untuk menyatakan Yesus kepada orang-orang ini,” tulisnya dalam catatan terakhir kepada keluarganya pada 16 November, tak lama sebelum dia meninggalkan kapal nelayan yang ditumpanginya untuk menemui suku di pulau itu, sambil kembali menulis, “Ya Tuhan, saya tidak ingin mati.”

Chau melakukan dua atau tiga perjalanan ke pulau itu menggunakan perahu sejak 15 November lalu, melakukan kontak dengan suku itu tetapi kembali ke perahunya, kata Pathak. Dia mengatakan kepada nelayan pada 16 November bahwa dia tidak akan kembali dari pulau dan memerintahkan mereka untuk kembali ke rumah dan menyampaikan beberapa catatan tulisan tangan yang telah dia buat untuk seorang teman.

Keesokan paginya mereka melihat tubuhnya diseret di pantai dan terkubur di pasir, kata kepala polisi, seraya menambahkan: “Ini adalah petualangan yang salah tempat di kawasan yang sangat terlindungi.”

Postcomended   10 Juli dalam Sejarah: Telstar 1 Diluncurkan, Mengubah Cara Manusia Berkomunikasi Selamanya

Seorang sumber dengan akses ke catatan Chau mengatakan Chau telah mengambil gunting, peniti dan bola sebagai hadiah untuk suku. Dalam catatannya, kata sumber itu, Chau menulis bahwa beberapa anggota suku itu baik kepadanya sementara yang lain sangat agresif. “Saya sangat baik kepada mereka. Mengapa mereka begitu marah dan begitu agresif? ”Sumber itu mengutip ucapan Chau.

Sumber, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengatakan, Chau menulis bahwa dia “melakukan ini untuk mendirikan kerajaan Yesus di pulau. Jangan menyalahkan penduduk asli jika aku terbunuh.”

Pada tahun 2006, dua nelayan yang tersesat ke pulau itu tewas dan tubuh mereka tidak pernah pulih. Helikopter Coast Guard India yang dikirim untuk mengambil mayat-mayat itu ditolak oleh lontaran panah dari masyarakat asli tersebut.***

 

Loading...


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Loading...
To Top