Nyai Ahmad Dahlan (film) - Wikipedia bahasa Indonesia ... Wikipedia220 × 315Search by image Nyai Ahmad Dahlan

Nyai Ahmad Dahlan (film) – Wikipedia bahasa Indonesia … Wikipedia220 × 315Search by image Nyai Ahmad Dahlan

Bioskop di Tanah Air akan kembali diramaikan film biografi tokoh wanita Indonesia. Masanya pemutaran film Kartini yang dibintangi artis Dian Sastrowardoyo usai, kini giliran Nyai Ahmad Dahlan. Film dengan judul sama yang akan diperanutamakan artis Tika Bravani ini, bisa mulai ditonton 24 Agustus 2017. Seiring bangkitnya perfilman Indonesia, film biografi alias biopik, meski tidak selalu mendulang untung, selalu punya alasan untuk diproduksi.

Nyai Ahmad Dahlan adalah tokoh emansipasi perempuan, istri dari pendiri Muhammadiyah, Kiai Haji Ahmad Dahlan. Keduanya dikenal sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Nyai Ahmad Dahlan pernah memimpin Kongres Muhammadiyah pada 1926. Untuk memerankan tokoh perempuan kuat ini, Tika mengisahkan bagaimana dia mengobservasinya lebih dulu, antara lain dengan menemui Ibu Hadiroh, cicit Nyai Ahmad Dahlan.

Tika berpikir, jika cicitnya saja hebat apalagi Nyai Ahmad Dahlan. “Dia benar-benar luar biasa. Umurnya sepuh tapi masih hebat dan lincah. Makanya saya pikir Nyai juga pasti hebat seperti itu,” kata Tika.

Postcomended   Menpar Pantau Keadaan Gunung Agung hingga Pura Besakih

Film ini turut dibintangi David Chalik sebagai KH Ahmad Dahlan. Olla Ata Adonara ditunjuk sebagai sutradaranya. (http://m.republika.co.id/berita/senggang/film/17/08/04/ou565j280-perankan-nyai-ahmad-dahlan-ini-persiapan-tika-bravani).

Mengenai film biopik, sineas Robby Ertanto, mengatakan, ada faktor “latah” yang melatari ramainya sineas membuat film biopik. “Kalau ada satu yang bikin dan meraup untung besar, lainnya bikin juga. Itu sah saja,” ujar Robby kepada merdeka.com.

Film biopik sebut Robby, lahir dari kekaguman kepadap satu tokoh. Bisa karena jasanya, kisah hidupnya yang fenomenal, hingga faktor kontroversinya. Namun kata dia, film biopik juga bisa sebagai alat propaganda paling efektif; ada yang sengaja mengangkat satu tokoh ke dalam film demi meluruskan fakta sejarah.

Menurut Robby, meski tidak selaris film-film remaja atau horor, film biopik tetap punya pasar tersendiri di tengah karakteristik penonton Indonesia yang cukup beragam. “Jadi sesungguhnya sineas tidak terlalu berjudi (ketika mengambil genre ini),” kata Robby.

 

Film biopik adalah film yang mengangkat kisah kehidupan nyata satu tokoh. Tak jarang film biopik disebut juga film sejarah karena tokoh yang diangkat ke layar lebar umumnya tokoh sejarah. Hal itu sangat terasa di film biopik Indonesia. (https://m.merdeka.com/peristiwa/ramai-ramai-bikin-film-tokoh-indonesia.html).

Postcomended   1 NIGHT 2 DAY TRIP DESTINASI - Pulau Menjangan

Film biopik tersukses dalam sejarah sinema Indonesia sejauh ini adalah film biografi BJ Habibie dalam judul “Habibie dan Ainun”. Film ini sukses membetot dua juta penonton, sehingga menempati posisi ke-3 film Indonesia dengan penonton terbanyak dalam satu dekade ini.

Apalagi selain menjanjikan dalam hal jumlah penonton, film biopik juga bisa mengincar dari sisi penghargaan. Tak heran jika ada juga yang berani mengangkat tokoh Wiji Thukul dengan judul “Istirahatlah Kata-kata”.

Tak sanggup meraih rating penonton di bioskop, setidaknya film ini justru pertama kali dirilis di Locarno International Film Festival, Swiss, pada Agustus 2016. (https://m.kumparan.com/rina-nurjanah/dari-15-tokoh-yang-difilmkan-siapa-juaranya).

Film biopik lainnya yang tidak terlalu sukses di bioskop namun meraih penghargaan adalah film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, yang justru berhasil memborong penghargaan di Festival Film Bandung 2015.

Dari 8 nominasi, film yang dibintangi Reza Rahadian ini memenangkan tiga penghargaan, termasuk sebagai Film Terpuji. Film ini mengalahkan film-film yang meraup cukup banyak penonton seperti film Surga yang Tak Dirindukan.

Share the knowledge