Bisnis Tak Kenal Nasionalisme: Tesla Bangun Pabrik Mobil Listrik Raksasa di Shanghai

Ekonomi
Share the knowledge

 

Tesla (gambar dari: https://streetsignals.com/tesla-china-factory)
Tesla (gambar dari: https://streetsignals.com/tesla-china-factory)

Bos Tesla, Elon Musk, telah mendirikan pabrik baru di Shanghai, Cina. Ini akan menjadi pabrik pembuat mobil listrik Amerika Serikat (AS) pertama yang membuka pabrik di luar AS, bahkan di negara yang secara ekonomi sedang diperangi pemerintah AS ini. Bisnis adalah bisnis.

Bagai tidak peduli dengan slogan Presiden AS, Donald Trump: “Makes America Great Again”, fasilitas yang dibangun Musk ini akan akan menghasilkan mobil listrik Model 3 dan Model Y yang diharap akan menumbuhkan kehadiran Tesla di Cina.

Pada November tahun lalu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dia tidak senang dengan keputusan GM untuk mengosongkan pabrik di Lordstown, Ohio. Secara terpisah Trump juga mengatakan kepada media bahwa GM harus berhenti membuat mobil di Cina dan kembali ke AS.

Namun di tengah permintaan yang terus merosot terutama mobil kecil, ditambah harga baja yang melambung terkait kebijakan tarif Trump, membuat produsen mobil kebanggan Amerika ini terseok-seok di negeri sendiri. Sementara itu permintaan Cina sebagai pasar mobil terbesar kedua di dunia ini masih bagus.

Kini, produsen mobil AS pun harus menghadapi persaingan dengan rival lokal di Cina sendiri. Tetapi bagaimanapun pabrik baru di Cina ini akan membantu Tesla menghindari tarif impor yang diterapkan AS. Dalam serangkaian cuitan pada Senin (7/1/2019), Musk mengatakan pabrik akan membangun “versi terjangkau” dari Tesla Model 3 yang akan bersifat pasaran dan massal, serta Model Y yang diusulkan untuk wilayah Cina Besar.

Postcomended   Korea Utara-Selatan Damai! Asian Games 2018 Bakal Diuntungkan!

Musk mengatakan apa yang disebut Gigafactory –yang dapat menelan biaya sebanyak 5 miliar dollar AS menurut laporan– yang akan memulai produksi Model 3 pada akhir 2019. Pabrik ini direncanakan akan memproduksi 500 ribu unit mobil setiap tahun.

“Bertujuan untuk menyelesaikan konstruksi awal musim panas ini, mulai produksi Model 3 akhir tahun (dan) mencapai produksi volume tinggi tahun depan,” cuit sang pengusaha.

Postcomended   Pramugari Ceroboh, Garuda Indonesia Digugat Rp 11,2 Miliar

Dorongan ekspansi ke Cina ini datang di tengah-tengah ketegangan perdagangan yang membara antara Beijing dan Washington, yang sekarang masih sedang dalam tahap “genjatan senjata” 90 hari.

Pembuat mobil AS telah menjadi sasaran kritik vokal Presiden Donald Trump, yang kebijakan tarifnya antara lain telah menarget sektor mobil. Pada Oktober 2018, Tesla memperingatkan bahwa tarif di Cina menciptakan tantangan.

Sebagai balasan atas penerapan tarif impor sejumlah produk asal Cina oleh AS termasuk baja, Cina menaikkan bea impor pada mobil buatan AS. Pada saat itu, Tesla mengatakan biaya produksi mobilnya menjadi naik sekitar 55-60 persen.***

Postcomended   Menuju Divestasi Freeport 51%: Kontrak Diperpanjang Lagi Sebulan Tanda Divestasi 51% Kian Dekat

 


Share the knowledge

Leave a Reply