Kurangi Porsi Makan, Bocah Obesitas Asal Karawang Konsumsi Buah ... Regional Liputan6673 × 373Search by image Kurangi Porsi Makan, Bocah Obesitas Asal Karawang Konsumsi Buah - Regional Liputan6.com

Kurangi Porsi Makan, Bocah Obesitas Asal Karawang Konsumsi Buah … Regional Liputan6673 × 373Search by image Kurangi Porsi Makan, Bocah Obesitas Asal Karawang Konsumsi Buah – Regional Liputan6.com

Berbeda dengan nasib Wahid Zeananda (19), penderita obesitas asal kota Tegal yang akhirnya meninggal dunia, Arya Permana (11), bocah obesitas asal Karawang, kini makin sehat. Saat “ditemukan” pada pertengahan 2016, bobot Arya mencapai 192 kg. Namun kini bobotnya turun hingga 43 kg, menjadi 149 kg.

Meskipun sudah ada upaya menurunkan bobot secara alami, namun tampaknya hal itu sulit dilakukan jika nafsu makan Arya tidak dikekang. Karenanya, Arya akhirnya harus menjalani operasi bariatrik.

Menurut Ade Sumantri, ayah Arya, Rabu (9/8/17), empat bulan setelah menjalani operasi bariatrik, bobotnya mulai turun. Operasi Bariatrik itu ditangani tim medis Rumah Sakit Omni Alam Sutera.

Efek dari operasi tersebut, Arya sudah merasa kenyang walau baru makan 4-5 sendok. Dia juga beraktivitas seperti anak umumnya, tidur normal, dan sudah bisa berjalan tanpa beristirahat sejauh 2 kilometer. “Dulu berjalan 100 meter saja dia sudah kelelahan,” ujar Ade.

Postcomended   Dr Zakir Naik Kehilangan Kewarganegaraan dalam Pelariannya

Selain itu, Arya kini tidak pernah bergadang karena sudah bisa tidur malam dengan baik.

Saat “ditemukan”, usia Arya baru 10 tahun. Untuk mengatasi obesitasnya, Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) waktu itu membentuk tim dokter berjumlah 13 orang yang terdiri dari ahli gizi anak, endokrin anak, tumbuh kembang anak, patalogi klinik, radiologi, bedah anak, ortopedi anak, psikiater anak, dan rehabilitasi medik.

Alasan pelibatan banyak dokter ini karena Arya menderita morbid obesity; penyakit obesitas yang terbilang langka, cirinya berat badan yang ekstrem.

Tim dokter menyebutkan, berat badan Arya melonjak akibat asupan kalori berlebih. Menurut orangtuanya, Arya makan sehari hingga lima kali dan sering makan mie instan.

Jika malam hari sulit tidur, Arya minta minuman kemasan hingga 20 buah. Kalau tidak dituruti, kata Ade, Arya bakal menangis guling-guling. Akibat obesitasnya itu, Arya berhenti sekolah karena tak kuat berjalan lagi ke sekolahnya. Apalagi Arya juga kerap mengalami sesak napas.

Postcomended   Pangeran Saudi Gondrong Ini pun Diborgol

Apa itu operasi bariatrik? Spesialis bedah, dr. Handy Wing, SpB, FBMS, FINACS, FICS, menjelaskan, operasi bariatrik adalah operasi pengecilan dan bypass lambung untuk menghambat serapan makanan.

Syarat operasi bariatrik adalah, pasien harus memiliki indeks massa tubuh lebih dari 35 atau 40, atau juga mengalami kelebihan berat badan 45 kg di atas berat badan idealnya.

Syarat usianya adalah sudah melewati masa pertumbuhan hingga 60 tahun. Handi menyebut minimal 18 tahun. Namun dalam beberapa kasus, anak usia sekolah dasar bisa dioperasi jika obesitasnya sudah membahayakan.

Karena risikonya tinggi, maka operasi ini juga baru bisa diterapkan pada penderita obesitas yang sudah mengalami komplikasi penyakit. Biaya yang dibutuhkan untuk melakukan operasi ini antara Rp 45-60 juta.

Postcomended   Pembunuhan Saudara Tiri Diktator Korut: Siti Aisyah Terancam Digantung

Sementara itu, Wahid Zaenanda (19), warga Kota Tegal, Jawa Tengah, yang memiliki bobot hingga 180 kg, meninggal dunia saat tidur, September 2016. Menurut ibundanya yang mengutip pernyataan dokter, autis yang diderita Wahid sejak usia dua tahun membuat Wahid tidak bisa mengendalikan selera makannya..***(ra)