Bocah Autis Tahun Bangun Replika Titanic 8 Meter: Mengungkap Kejeniusan Penyandang Autisme

Internasional Keluarga Lifestyle
Share the knowledge

Hebat, Remaja Pengidap Autisme Sukses Bikin Replika Titanic dari ... Liputan6.com Brynjar Karl Birgisson dan Lego Titanic buatannya. (Titanic Museum)
Hebat, Remaja Pengidap Autisme Sukses Bikin Replika Titanic dari … Liputan6.com Brynjar Karl Birgisson dan Lego Titanic buatannya. (Titanic Museum)

Seorang penyandang autis berhasil membangun replika Lego kapal Titanic terbesar di dunia di saat dia masih berusia 10 tahun. Brynjar Karl Bigisson, bocah asal Reykjavik, Islandia (kini berusia 15), menyelesaikan Lego tersebut dengan waktu hampir satu tahun, tepatnya sekitar 11 bulan 700 jam.

Brynjar mengaku, dengan membangun replika Titanic itu, dia mampu “merangkul” autismenya. Brynjar, seperti umumnya penyandang autistik, bisa jadi memiliki kecerdasan Albert Einstein, Issac Newton, dan Mozart. Stephen Wiltshire, bisa menggambar detail seluruh kota hanya dari ingatannya. Atau semacam Simon yang sanggup memecahkan kode rahasia di film “Mercury Rising”.
Dibutuhkan 56 ribu keping Lego, untuk membangun replika Titanic berukuran panjang 26 kaki (sekitar 7,8 meter, dengan asumsi 1 kaki sama dengan sekitar 30cm) dan tinggi 5 kaki (sekitar 1,5 meter) tersebut. Replika Lego ini dikirim dari Islandia dalam tiga potongan besar dan kemudian secara hati-hati direkonstruksi sebelum kemudian berlabuh di Titanic Museum Attraction di Pigeon Forge, Tennessee, AS, hingga Desember 2019.

Keren! Bocah dengan Autisme Ini Bikin Replika Kapal Titanic dari Lego Haibunda Bocah dengan Autisme Ini Bikin Replika Kapal Titanic dari Lego/ Foto: CNN
Keren! Bocah dengan Autisme Ini Bikin Replika Kapal Titanic dari Lego Haibunda Bocah dengan Autisme Ini Bikin Replika Kapal Titanic dari Lego/ Foto: CNN

Brynjar ingat, dia bermain Lego selama berjam-jam ketika berusia 5 tahun. “Saya kadang-kadang membangun (lego) dari instruksi. Kadang-kadang menggunakan imajinasi saya sendiri,” katanya.
Awalnya Brynjar sebenarnya terobsesi pada kereta api, tetapi berubah ketika kakeknya Ludvik Ogmundsson membawanya memancing di atas kapal, yang memicu minat dan penghargaan untuk kapal. Ketika Brynjar berumur 10 tahun, dia telah tahu segala hal tentang Titanic.
“Ketika saya bepergian dengan ibu saya ke Legoland di Denmark dan melihat untuk pertama kalinya semua model besar yang menakjubkan, mulai rumah dan pesawat, lokasi dan kapal yang terkenal, saya mungkin kemudian mulai berpikir tentang membuat model Lego saya sendiri. Pada saat saya10 tahun, saya mulai berpikir tentang membangun model Lego Titanic seukuran manusia,” kata Brynjar.
Lego Titanic Brynjar seperti proyek keluarga. Kakeknya, Ogmundsson yang seorang insinyur, serta ibunya, Bjarney Ludviksdottir, turut membantu. Ogmundsson menurunkan cetak biru asli ukuran Titanic untuk Lego dan membantu mencari tahu berapa banyak keping Lego yang diperlukan untuk membuat model tersebut.
“Saya sering membantunya dengan proyek-proyek yang membutuhkan pemikiran dan kerja keras yang saya pikir akan baik untuknya. Kemudian dia mendapat ide gila membangun kapal 6 meter dari kepingan Lego. Hari ini dia berspekulasi banyak hal lain yang rumit yang membutuhkan pemahaman teknis,” ujar sang kakek.
Sementara itu Brynjar melihat ibunya bak pemandu sorak pribadinya. “Jika ibu tidak mendukung proyek impian saya, itu tidak akan pernah menjadi kenyataan,” kata Brynjar. Sumbangan dari keluarga dan teman-temannya juga memungkinkannya membeli semua keping Lego.
Brynjar mengaku, sebelum memulai proyek, dia kesulitan berkomunikasi yang katanya membuatnya tidak bahagia dan kesepian. Sekarang, dia memiliki kepercayaan diri dan bahkan menanggapi wawancara tentang pencapaiannya.
“Awalnya, saya (selalu) memiliki seseorang yang membantu saya di sekolah di setiap langkah yang saya ambil. Tetapi hari ini, saya belajar tanpa dukungan siapun pun. Nilai saya meningkat, dan teman-teman sekelas saya menganggap saya sebagai rekan mereka. Saya memiliki kesempatan bepergian dan menjelajah dan bertemu orang-orang yang luar biasa,” katanya.
Ibu Brynjar mengatakan, ketika dia mulai membesarkan Brynjar, dia merasa benar-benar buta seperti apa masa depannya. Dia khawatir pada hambatan yang banyak terjadi pada anak-anak dengan spektrum autisme. Namun dia sekarang bangga bisa berbagi dengan orang tua anak-anak lain dengan autisme, agar anaknya bisa mencapai tujuan mereka.
Kakek Brynjar mengatakan dia yakin ada pelajaran yang bisa dipetik dari apa yang telah dicapai cucunya. “Autisme tidak harus menakutkan. Banyak ilmuwan hebat dan pemimpin nasional memiliki autisme. Yang penting adalah bahwa orang-orang tersebut mendapatkan pemahaman dan dukungan, karena semua orang dapat belajar dari orang-orang ini jika mereka mendengarkan apa yang mereka katakan,” kata Ogmundsson.
Autisme dan Kegeniusan
Banyak tokoh besar yang genius ternyata menyandang autis. Sebut saja Einstein, Newton, dan Mozart. Dilansir New York Post, autisme telah dikaitkan dengan kekuatan tertentu: fokus yang intens, mata elang untuk detail, dan pengenalan pola yang sangat baik.
Dr. Hans Asperger (almarhum), ilmuwan yang sering dikreditkan mengidentifikasi autisme, pada 1940-an pernah menulis, “Individu autis mampu naik ke posisi terkemuka dan mencapai kesuksesan yang luar biasa, sehingga orang bahkan dapat menyimpulkan bahwa hanya orang-orang seperti itu yang mampu melakukan pencapaian tertentu.”
Satu penelitian baru menemukan, orang dewasa non-autistik pun memiliki lebih banyak varian genetik terkait autisme dikaitkan dengan fungsi kognitif yang lebih baik. Anak-anak ajaib tanpa autisme menurut penelitian baru-baru ini, disebut juga bergantung pada sifat-sifat yang terkait dengan autisme.
Banyak anak ajaib diketahui memiliki kerabat yang autistik. Sebuah studi kecil di tahun 2015 bahkan menunjukkan bahwa mungkin ada hubungan genetik antara ajaib dan autisme.
Dalam sebuah studi 2012,
Dr. Joanne Ruthsatz, asisten profesor psikologi di The Ohio State University, menemukan bahwa keajaiban mencatat skor tinggi pada perhatian terhadap detail pada Autisme-Spectrum Quotient, sebuah tes yang dirancang untuk mengukur sifat-sifat autistik.(***/CNN/newyorkpost)


Share the knowledge

Leave a Reply