Rapi, 2, sudah belajar merokok sejak berusia dua bulan (sumber foto: Asia Wire)

Rapi, 2, sudah belajar merokok sejak berusia dua bulan (sumber foto: Asia Wire)

Sejumlah media asing ramai mengabarkan seorang bocah dua tahun (lagi-lagi) asal Indonesia yang merokok. Sama persis dengan kasus sebelumnya, selain sama-sama masih berusia dua tahun, bocah asal Jawa Barat ini juga mengisap rokok sekitar 40 batang dalam sehari. Ahli kesehatan mengkhawatirkan nikotin akan merusak fungsi otaknya yang masih berkembang.

Bocah bernama Rapi Ananda Pamungkas ini menjadi sasaran kontroversi di media sosial (medsos) setelah postingan videonya yang sedang merokok menggurita di internet karena dibagikan warganet dalam berbagai platform medsos.

Rekaman video yang beredar itu antara lain yang menunjukkan bocah kurus kecil itu sedang mengisap rokok di depan ibunya yang tersenyum, di kampung halaman mereka, Sukabumi.

Nyaris tak ada bedanya dengan kasus Aldi Rizal, bocah asal Lampung, sekitar 8-9 tahun silam, sang ibu, Maryati, juga dihadapkan pada tantangan anaknya yang tantrum jika tidak diberi rokok.

Postcomended   60 Persen Hunian Meikarta untuk Menengah ke Bawah

Kepada kantor berita Caters, yang diteruskan Inside Edition, Maryati mengatakan, untuk membuat anaknya tak mengamuk, dia terpaksa mengalah dan membelikannya rokok.

Pejabat dari Dinas Kesehatan setempat telah mengunjungi wanita ini dan mengatakan kepadanya bahwa dia harus menyuruh putranya menghentikan kebiasaan tersebut. “Departemen kesehatan memberitahu saya bahwa ini tidak boleh dilanjutkan, tapi bagaimana caranya saya bisa mengubah apa yang dia suka?” ujarnya.

Menurut Maryati, kebiasaan merokok Rapi dimulai saat dia masih berusia dua bulan. Seiring dia mulai bisa berjalan dan bermain sendiri, dia menemukan sendiri puntung bekas di luar kios ibunya.

Sehari-hari, Maryati berdagang di kiosnya. Ketika dia sibuk, Rapi berkeliaran di pasar, mengambil puntung rokok. Namun Maryati mengaku dia sebenarnya bisa mengurangi kebiasaan anaknya itu jika lebih banyak waktu untuk mengajaknya bermain dengan mainannya.

Postcomended   Anda Gadget Freak? Siapkan Ribuan Dolar untuk Ponsel yang Bisa Ditekuk

Setelah menerima pasokan kue dan susu untuk setahun dari pemerintah setempat, Rapi kini telah berhenti merokok. Maryati yang memiliki enak anak ini senang karena putranya sekarang bermain dengan mainan dan bukannya merokok.

Menurut ahli kesehatan, jika kebiasaan ini tidak segera dihentikan, seorang balita akan menghadapi sejumlah bahaya kesehatan seiring fungsi otaknya yang terganggu.

Dilansir laman The Sun, Profesor Associate UNSW dari School of Public Health and Community Medicine, Colin Mendelsohn, mengatakan, penelitian pada hewan menunjukkan terjadinya kerusakan pada otak yang sedang berkembang yang disebabkan paparan nikotin.

“Ini dapat menyebabkan masalah permanen pada fungsi otak, perkembangan emosi, dan fungsi kognitif lainnya,” ujar Mendelsohn. Penyakit mematikan seperti kanker dan penyakit jantung juga cenderung menyerang pada usia yang juga jauh lebih awal.

Indonesia memiliki salah satu tingkat merokok tertinggi di dunia dan masalah merokok pada anak-anak yang sudah berlangsung lama, dengan perkiraan 9 persen dari mereka yang berusia di bawah 18 tahun telah terbiasa merokok.***

Postcomended   Malaysia, Negara dengan Prevalensi Diabetes Tertinggi di Asia, Bakal Pajaki Soda

 

Share the knowledge