Ekonomi

Boeing Minta Maaf pada Indonesia dan Etiopia, Seiring Airbus Babat Penjualan

Share the knowledge

Airbus dengan dua jenis pesawatnya, "petantang petenteng" di Paris Airshow 2019, di tengah keterpurukan Boeing (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=BFGtvzdQaeM)

Airbus dengan dua jenis pesawatnya, “petantang petenteng” di Paris Airshow 2019, di tengah keterpurukan Boeing (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=BFGtvzdQaeM)

Boeing meminta maaf kepada maskapai dan keluarga korban 737 Max yang jatuh di Indonesia dan Etiopia, di saat pembuat pesawat AS ini berjuang mendapatkan kembali kepercayaan. Di sisi lain, Airbus menikmati peningkatan penjualan pesawat yang sekelas dengan Max.

Permintaan maaf itu disampaikan Senin (17/6/2019), di ajang Paris Air Show ke-53, di Le Bourget, Paris, Prancis, Associated Press melaporkan. Beberapa keluarga korban menyambut baik sikap Boeing, namun yang lain menyebutnya kurang dan dianggap sudah terlambat.

Boeing berada dalam suasana penuh penyesalan ketika Paris Air Show dibuka, Senin, di mana faktor keselamatan berada di banyak pikiran orang ketika elit penerbangan global berkumpul memamerkan dan memperdagangkan teknologi canggih yang mahal.

“Kami sangat menyesal atas hilangnya nyawa dalam kecelakaan Lion Air pada Oktober dan kecelakaan Ethiopian Airlines pada Maret,” Kevin McAllister, CEO pesawat komersial Boeing, mengatakan kepada wartawan. Sebanyak total 346 orang tewas dalam dua insiden yang hanya berjarak lima bulan itu.

McAllister juga menyatakan permintaan maafnya atas gangguan yang terjadi kepada maskapai penerbangan di seluruh dunia yang memiliki Max, dan kepada penumpangnya yang menghadapi gangguan perjalanan pada musim panas ini.

Eksekutif Boeing membela upaya perbaikan pada perangkat lunak Max yang telah berimplikasi pada kecelakaan tetapi tidak dapat memprediksi kapan pesawat itu bisa terbang lagi.

Postcomended   Skizofrenia Dunia Maya

Investigasi sedang dilakukan atas apa yang terjadi, meskipun diketahui bahwa sensor pengukur sudut di kedua pesawat tidak berfungsi, dan memberi informasi salah pada perangkat lunak anti-stall untuk mendorong hidung pesawat ke bawah, yang menyebabkan kecelakaan.

“Saya harap ini adalah sinyal yang baik untuk keluarga korban yang telah mengajukan tuntutan hukum terhadap Boeing,” kata Ningsih Ayorbaba, yang suaminya, Paul Ferdinand Ayorbaba, terbunuh dalam kecelakaan Lion Air.

“Tidak ada jumlah uang yang dapat mengembalikan suami saya, tetapi saya ingin Boeing menjadi lebih transparan dalam proses kompensasi demi anak-anak dari para korban yang ditinggalkan,” katanya kepada The Associated Press.

Juru bicara Kementerian Perhubungan Indonesia, Hengki Angkasawan, mengatakan, pemerintahnya membutuhkan kerja transparan Boeing untuk memperbaiki masalah. Boeing telah mengakui komunikasi yang gagal dengan regulator atas sistem peringatan kokpit di 737 Max, dan menjanjikan lebih banyak transparansi tentang perbaikan yang dijanjikannya.

CEO Ethiopian Airlines, Tewolde Gebremariam, hanya mengatakan bahwa permintaan maaf Boeing “konsisten dengan pendapat kami”. Seorang Etiopia yang kehilangan adik laki-lakinya dalam kecelakaan Ethiopian Airlines mengatakan, permintaan maaf Boeing tidak bias mengembalikan orang-orang terkasih yang meninggal, dan menyatakan keprihatinan tentang rencana Boeing mengembalikan 737 Max ke langit.

Postcomended   28 Agustus dalam Sejarah: Lokomotif Uap Generasi Awal Dipacu dengan Kuda dan Kalah

Airbus Lampaui Boeing

Max, yang sangat penting untuk masa depan Boeing, merupakan versi terbaru dari pesawat terlaris Boeing, dan merupakan respons langsung terhadap Airbus A320neo yang hemat bahan bakar.

Pelanggan menyukai efisiensi bahan bakar karena menghemat uang dan membantu mereka merespons tekanan publik dan peraturan yang semakin meningkat untuk mengurangi emisi. Tapi Airbus telah melampaui Boeing dalam menjual pesawat dalam kategori ini.

Dengan banyak pelanggan dan pemasok maskapai penerbangannya di pertunjukan udara Paris Air Show, Boeing berulang kali bersikeras bahwa mereka berfokus untuk mendapatkan sertifikasi ulang Max dan mempercepat produksi pesawat.

Masalah keamanan transportasi udara, perlambatan ekonomi global, dan ketegangan perdagangan, terasa  membebani suasana di pameran udara tersebut.

Boeing hanya mengumumkan pesanan yang kurang memuaskan pada awal pertunjukan, sementara saingannya Airbus mengumumkan penjualan baru dan meluncurkan jet lorong tunggal jarak jauh; mengalahkan Boeing ke pasar yang diprediksi oleh kedua raksasa penerbangan ini akan tumbuh.

Dalam pengumuman pesawat baru terbesar yang diharapkan di Le Bourget, Airbus secara resmi meluncurkan A321XLR jarak jauhnya. Pesawat harus siap untuk pelanggan pada 2023 dan dapat terbang hingga 4.700 mil laut. Tepat setelah peluncuran, Air Lease Corporation yang berbasis di Los Angeles, AS, menandatangani surat niat untuk membeli 27 pesawat Airbus baru.

Postcomended   31 Desember dalam Sejarah: Bangkrut, VOC Dibubarkan

Sementara itu Boeing mengatakan masih mengerjakan rencana kemungkinan jet dalam kategori yang sama, yang dijuluki New Midsize Airplane, atau NMA. Produksi ini disebut akan mengisi celah dalam jajaran Boeing antara 737 yang lebih kecil dan yang lebih besar, 777 dan 787.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top