Frankfurt Book Fair 2015 | Blog Yayasan Pustaka Obor Indonesia Blog Yayasan Pustaka Obor Indonesia640 × 360Search by image Frankfurt Book Fair 2015

Frankfurt Book Fair 2015 | Blog Yayasan Pustaka Obor Indonesia Blog Yayasan Pustaka Obor Indonesia640 × 360Search by image Frankfurt Book Fair 2015

Tak seluruh jalan ke Frankfurt harus dilalui dengan berpahit-pahit. Dan tak semua problem bisa dijelaskan sebabnya.

Bahwa untuk program persiapan di tahun 2014 tak ada anggaran khusus dari Kementerian, hal itu disebabkan APBN tahun itu sudah disahkan DPR tanpa ada item buat persiapan kehadiran Indonesia sebagai “Guest of Honour”. Untuk mengubahnya akan makan waktu lama, seperti dalam prosedur administrasi negara, sementara program persiapan harus dilaksanakan segera. Jadi: kami pun mengais-ngais dari anggaran rutin Kementerian.

Menjelang masuk ke tahun 2014, keadaan jauh lebih baik. Sesjen Kementerian, Ainun Na’im menginformasikan, ada anggaran sebesar Rp 150 milyar untuk Frankfurt.

Saya tak tahu bagaimana Kementerian sampai kepada jumlah itu. Agaknya buat mengejar waktu agar bisa masuk ke RAPBN tahun 2014, budget disusun tanpa didahului program yang siap.

Tapi tampaknya sudah dibayangkan besarnya proyek nasional ini. Sebagaimana dijalankan oleh negeri lain yang jadi “Guest of Honour”, apalagi oleh Indonesia yang tak dikenal, ada langkah yang harus iikuti: Indonesia perlu memperkenalkan diri berturut-turut setidaknya dalam tiga pekan raya buku internasional: di Leipzig (dulu Jerman Timur), Bologna (Italia), dan London (Inggris). Selain itu, perlu promosi yang cukup intensif di Eropa, bahkan sampai ke kalanhgan perbukuan Amerika. Belum lagi perlu adanya pelbagai pameran kreatifitas Indonesia dalam seni rupa, arsitektur, film, fotografi, tari, musik dan kuliner.

Ainun Na’im kepada pers menyebutkan, bahwa semua usaha ini harus dilihat sebagai sebuah “investasi”.

Kata “investasi” rasanya tepat. Pertama, Frankfurt Book Fair (FBF), yang dalam sejarahnya dimulai para pedagang buku, pada dasarnya ajang bisnis. Di sana, pemegang kepentingan pertama adalah industri buku.

Menjadi Tamu Kehormatan di FBF akan mengubah industri buku Indonesia. Para penerbit akan dimotivasi untuk memasarkan karya Indonesia. Ini perubahan sikap 180%. Bertahun-tahun sebelumnya, mereka cuma jadi pembeli. Mereka hanya punya pasar dalam negeri yang terbatas.

Mereka juga cenderung bergantung kepada satu “captive market”, pasar yang tetap, terutama untuk buku-buku kurikulum sekolah. Sebaliknya, jika pasar berkembang di luar, keberlanjutan industri buku akan punya dasar yang lebih luas; apalagi ketika dunia memasuki zaman buku digital dan jual-beli on-line. Kompetisi, apalagi di arena internasional, lazimnya mendorong pembaharuan-pembaharuan.

Postcomended   Ramalan PricewaterhouseCoopers: Negara-negara Berkembang Menuju Negara Maju

Pada gilirannya, para penerbit Indonesia akan lebih mencari, dan mungkin menigkatkan kualitas produk: tulisan, desain grafis, ilustrasi, dan sebagainya.

Dampaknya, secara langsung atau tak langsung, mengenai pasar di dalam negeri: para konsumen akan lebih sadar kualitas, dengan selera yang meningkat. Akibatnya ketrampilan dan kemahiran di bidang intelektual dan artistik akan dicari, diberi kesempatan, dan ditantang. Bisa diharapkan akan ada gerak membangkitkan minat kepada bacaan bermutu, yang di Indonesia imasih sangat rendah.

“Investasi” juga bisa dilihat dari segi “branding”. Saya selalu ingat akan Korea Selatan. Negeri ini memprodusir karya-karya kreatif (film, musik, tari, sastra) dan mengeskpornya dengan sistematis sebagai bagian dari pencitraan bangsa.

Jika di Indonesia dunia industri dan perdagangan melihat nilai karya kreatif hanya sebagai bagian “ekonomi kreatif”, saya kira orang Korea Selatan punya dasar yang agak beda: ketika dari negeri mereka muncul karya-karya kreatif yang mencerminkan kepiawaian dan selera estetik yang tidak serampangan, orang di luar pun akan berangsur-angsur punya kepercayaan kepada kualitas produk negeri merek a pada umumnya. Orang luar akan melupakan Korea yang di tahun 1950-an dianggap keranjang sampah produk Amerika.

“Branding” dalam arti itu yang agaknya belum dipahami benar oleh banyak orang, terutama di kalangan birokrasi. FBF hanya dilihat sebagai semacam lapak raksasa menawarkan buku, dan “brand” hanya merk. Kami memperkenalkan pengertian baru — sebenarnya yang sudah lazim di dunia swasta.

***

Di awal 2015 saya berpindah tugas: jadi Ketua Organizing Commitee,(OC) atau Panitia Pelaksana. Agus Maryono, seorang doktor lulusan Universitas Karlsruhe yang menguasai masalah sungai, mengundurkan diri dan meminta saya menggantikannya. Ia tinggal di Yogya dan ia ingin mengabdikan dirinya untuk perbaikan sungai di sana. Semenara itu, jadi Ketua OC untuk sebuah proyek nasional di luar negeri memang makan waku dan tenaga.

Saya, yang sudah tak bekerja penuh sehari-hari, tentu longgar waktu. Saya memenuhi permintaannya.

Di bawah saya, Komite Nasional pun membentuk (sub-)Komite Desain — sesuatu yang belum pernah ada, Tugas pokoknya: merumuskan brand apa yang akan kita proyeksikan dalam (dan melalui) kehadiran Indonesia sebagai Guest of Honour Pekan Raya Buku intenasional yang berwibawa itu.

Postcomended   Simpang siur seputar informasi pembangunan fisik di puncak Ijen

Setelah itu, menerjemahkan rumusan itu ke dalam semua produk yang akan dibawa: umumnya produk visual, dari bentuk dan interior pavilyun sampai dengan menu makanan. Tapi tak hanya itu. Juga ke dalam jenis buku yang akan dipamerkan (bukan sekedar akan ditawarkan), model kuliner yang akan dipertunjukkan, ekhibisi seni rupa, arsitektur, fotografi dan lain-lain yang akan diselenggarakan.

Apa “brand” Indonesia yang baru? Segera Komite sepakat bahwa dunia perlu melihat citra Indonesia yang selama ini tak dilihat: bangsa yang bisa kreatif, cerdas, inovatif, serius dalam kerja tapi tak kaku, dan pada saat yang sama membawa serta khasanah budaya yang tak lekang dan tak lapuk.

Indonesia bukan hanya negeri yang memanggil-manggil turis. Ia bagian dari masa kini, bukan gambar eksotik yang disiarkan para pengelana dan penjajah di masa lalu. Kebhinekaan Indonesia hidup, bukan artefak museum, dan disitu pula kesatuan Indonesia dikembangkan.

Langkah pertama: menciptakan logo.

Cerita penciptaan logo ini agak panjang dan di sana-sini lucu. Ketika Wiendu Nuryanti masih aktif, sebuah logo yan bagus dipilih: elemen dari pola batik MegaMendung, berupa awan yang dibentuk mirip bunga mawar merah. Sederhana, impresif, dan cepat menarik perhatian dan dikenali, tanpa berteriak. Ia kabarnya karya seorang desainer grafis Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan iklan asing.

Tapi ternyata logo yang bagus itu tak bisa terus. Pada suatu hari Ibu Wiendu menunjukkan, dengan wajah merengut, gambar yang sudah berubah. Rupanya ia menerima instruksi (mungkin dari Menteri Nuh, tapi ia tak bilang) agar bentuk mega-bulat-mirip-mawar-merah itu ditambahi gambar pulau yang hijau. Nah, instruksi itu dilaksanakan. Hasilnya menggelikan: seperti bibir merah yang sedang berusaha, tapi gagal, mengunyah sirih.

Tapi untung, tambahan itu masih belum final. Ibu Wiendu meminta saya (waktu itu belum Ketua OC) buat menghubungi desainer pencipta logo megamendung untuk bikin sesuatu yang baru. Tapi ternyata sang pencipta sudah di luar negeri dan logo itu (yang belum juga diputuskan sebagai logo “Guest of Honour”) sudah dibeli perusahaan lain.

Postcomended   Midnight transfer surcharge

Saya coba menghubungi desainer grafis terkemuka, yang kebetulan teman saya, Cecil Mariani. Tapi ia sedang melanjutkan studinya, dengan beasiswa Pemerintah, di New York. Ia berkonsentrasi untuk itu. Sementara itu dari Frankfurt disebutkan satu deadline untuk menyiarkan logo Indonesia, dan deadline itu sudah dekat.

Akhirnya saya meminta Edi Restiadi, desainer grafis senior di Majalah Tempo — yang telah pensiun tapi tetap jadi konsultan tatamuka majalah itu — buat menciptakan satu logo. Tolong cepat, pesan saya.

Edi dengan segera menawarkan logo yang lebih “jelas”: bentuk gunungan dalam wayang kulit yang bertaut dengan image buku. Ini memuaskan mereka yang ingin identitas “Indonesia” diperlihatkan lebih eksplisit, meskipun sebenarnya identitas Indonesia itu tak hanya Jawa. Segera logo ini disetujui dan dikirim ke Jerman.

Tapi makin lama makin terasa logo itu justru tak cocok dengan ide sebuah Indonesia yang tak sekedar dunia eksotis, dan tak sekedar hanya “Jawa”. Ia tak cocok dengan branding yang kami sudah rumuskan.

Setelah (sub-) Komite Desain dibentuk, logo itu diubah lagi. Dan ternyata, pihak FBF tak menolak — meskipun saya duga mereka bingung bahwa dalam soal ini pihak Indonesia belum siap.

Avianti Armand, Ketua (sub-) Komite Desain, arsitek dan penyair, merekrut satu team yang kemudian memang terbukti handal dalam kerja dan kreatifitas. Logo yang diciptakan pada dasarnya monokromatik, yang akan segera membedakannya dari logo-logo negeri lain yang jadi Guest of Honour. Ia dibangun oleh sejumlah besar pixel, seperti ribuan bintang di langit malam atau kembang-kembang di taman luas bila dilihat dari atas.