Matahara' refers to the all-too-common practice of demoting or ... Public Radio International Aya Kanihara and her son Ayumu. Kanihara is taking maternity leave from her job in

Matahara’ refers to the all-too-common practice of demoting or … Public Radio International Aya Kanihara and her son Ayumu. Kanihara is taking maternity leave from her job in

Populasi orang Jepang yang cenderung menurun, tampaknya antara lain disebabkan budaya “matahara,” atau “pelecehan kehamilan”. Di era sekarang, budaya ini masih hadir di lingkungan kerja Jepang, yang mencegah wanita memiliki anak (sesuka mereka), kata para ahli.

Masalah ini menjadi sorotan baru-baru ini setelah surat kabar Jepang, The Mainichi, menampilkan seorang pria yang mengatakan dia dan istrinya (akan) melanggar “aturan tak tertulis” di tempat kerjanya, dengan hamil sebelum “giliran” mereka tiba.

Pria 28 tahun ini, dan istrinya; seorang pegawai di tempat pengasuhan anak di Prefektur Aichi Jepang, seperti dikatakannya kepada surat kabar tersebut melalui sebuah surat, meminta maaf atas apa yang digambarkan atasannya sebagai “melanggar aturan secara egois”.

Postcomended   Danau Toba Siap Merayu Wisatawan Asian Games 2018

Isi surat itu adalah, direktur pusat penitipan anak itu mengatur “giliran” karyawan perempuannya untuk memiliki anak dengan maksud menghindari terlalu banyak pegawai yang mengambil cuti; terlebih negara ini menghadapi kelangkaan pilihan pengasuhan anak.

Lebih dari 47.000 anak menunggu terdaftar di tempat penitipan anak bersertifikasi di Jepang tahun lalu. Kondisi ini menurut Japan Times, menimbulkan tekanan yang memuncak pada tempat-tempat penitipan anak profesional.

Tapi masalah ini bisa jadi tidak terbatas pada pusat perawatan anak. Seorang karyawan perusahaan kosmetik di area Tokyo, mengungkapkan bahwa jadwal melahirkan dan membesarkan anak diemailkan kepadanya dan 22 rekan wanitanya, tulis The Mainichi.

Surat kabar ini tidak menyebutkan nama-nama karyawan atau suami pekerja perawatan anak. Tapi wartawan Jepang Toko Shirakawa, yang bertugas di panel pemerintah tentang budaya kerja, menegaskan bahwa penjadwalan kehamilan memang ada, baik secara eksplisit maupun tidak, di perusahaan Jepang.

Postcomended   Sambut Asian Games, 75 Paket Wisata Dipasarkan

“Bahkan ketika aturan kehamilan tidak ditegakkan secara ketat (oleh perusahaan), wanita cenderung untuk tidak hamil pada saat sama dengan rekan wanita mereka yang lebih dulu mengambil perawatan kehamilan atau cuti untuk merawat anak, karena mereka tidak ingin menimbulkan masalah bagi rekan-rekan mereka yang lain,” Shirakawa mengatakan kepada The Mainichi.

Praktik ini ilegal, kata Shirakawa kepada The Times di London, tetapi wanita yang menuntut menerima uang penyelesaian, relatif sedikit. Brigitte Steger, seorang peneliti di Jepang modern di Universitas Cambridge, mengatakan kepada London’s Daily Telegraph bahwa ide-ide pasca-perang tentang gender dan tenaga kerja tetap aktif di banyak tempat kerja Jepang

“Perempuan dilecehkan karena egois, karena mengambil waktu untuk memiliki anak atau merawat mereka, dan karena tidak memperhatikan sesama karyawan, sementara mereka juga dikritik karena egois dan tidak memiliki anak,” kata Steger.

Postcomended   Hubungan Australia dan Cina Membeku, Sebeku Es Antartika

Tekanan yang meningkat di Jepang, termasuk kekurangan tempat perawatan anak dan lembur yang meluas, lapor The Times, telah membuat melahirkan menjadi begitu tidak biasa, sehingga para pengusaha dan kolega semakin melihat kehamilan rekan kerjanya sebagai pilihan gaya hidup yang egois.

Share the knowledge