Bupati Lebak, Banten (screenshot Youtube)

Satu video yang menampakkan seorang perempuan muda berjilbab, berpakaian batik, sedang marah-marah, viral di media sosial belum lama ini. Marahnya tak main-main. Kata serapah paling ngetop di negeri ini pun berhamburan dari mulutnya. Wajahnya tegang dan gusar. Penyebabnya, sebuah taman yang menjadi bagian dari gerbang menuju pemukiman suku Badui –begitu menurut satu postingan di Facebook– berubah menjadi bangunan beton seperempat jadi. Lama setelah reformasi bergulir, baru belakangan muncul paradigma pemimpin marah-marah kepada bawahannya yang tak becus bekerja. Rakyat Merasa Terwakili. Ataukah ini hanya ekspos media sosial saja?

Perempuan yang marah besar itu adalah Bupati Lebak, Banten, Iti Octavia (39). Iti memarahi Jaro, setara Kepala Desa, karena tanpa izin, bangunan itu tahu-tahu sudah berdiri di lokasi tersebut.

Kabarnya, bangunan itu untuk ruko atau minimarket. Iti pun memberi waktu enam hari agar bangunan tersebut dibongkar.

Sejumlah warganet khususnya Facebook, membagikan video tersebut di lini masanya. “Wanian pisan ieu pamingpin!” tulis seniman dan budayawan Bandung, Tisna Sanjaya di akun Facebook-nya. “IBU Pemberani ieu mun jadi gubernur Jawa Barat jigana Citarum bersih…” tambah Tisna.

(artinya: Berani sekali ini pemimpin. IBU pemberani ini kalau menjadi gubernur Jawa Barat sepertinya Citarum bersih).

Dalam postingan Tisna, seniman lainnya, Setiawan Sabana, menulis: Satuju pisan Bu kedah digalakan kitu.

Iti Octavia sedang memarahi jaro (sumber: screenshot youtube)

Akun lainnya, Indri, menulis: itu Bupati Lebak Prov.Banten… sakti lah… nggak akan tergantikan kecuali habis periode sesuai ketentuan dan digantikan keluarganya sendiri, bapaknya kan jawara Lebak, Rivalnya keluarga Bu Atut…

Reformasi kendatipun berjalan lambat bahkan cenderung dianggap lebih koruptif, bagaimanapun telah mencapai satu proses: lahirnya pemimpin-pemimpin berani memarahi bawahannya. Rakyat umumnya merasa terwakili oleh kemarahan para pemimpinnya itu.

September 2016 misalnya, Wali Kora Surabaya, Tri Risma Harini marah-marah di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Surabaya. Dia memprotes lambatnya pembuatan KTP sehingga antrian menumpuk. Sebelumnya, Mei 2014, dia juga pernah mengamuk gara-gara taman rusak

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, pada April 2014, melabrak petugas jembatan timbang yang kedapatan melakukan pungli.

Aksi marah-marah mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), bahkan tak terhitung. Namun yang paling populer adalah ketika pada Maret 2015 dia melingkari ajuan anggaran oleh DPRD DKI, sebesar Rp 8,8 triliun, lalu dilingkari dengan tulisan “pemahaman nenek lu!”.

Sayangnya, aksi “marah-marah” ini belum menunjukkan kualitas moral pemimpin yang bersangkutan. Mereka masih sangat mungkin tersandung kasus korupsi.

Meski masih sebagai terperiksa, Ganjar Pranowo misalnya, diduga menjadi bagian dari rombongan anggota DPR RI yang menerima kucuran suap dari skandal megaproyek e-KTP.

Pada Agustus 2017 lalu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, memberikan penghargaan “Wanita Berpengaruh 2017”. Salah satu dalam daftar penerima penghargaan adalah Iti Octavia.

Namun dalam daftar itu juga ada nama Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari, yang bekum lama ini ditangkap KPK karena diduga menerima suap izin perkebunan sawit.***