TERORIS SIBER: Ransomware WannaCry Dalang Serangan di Rusia Kabar24 - Bisnis Indonesia600 × 400Search by image

TERORIS SIBER: Ransomware WannaCry Dalang Serangan di Rusia Kabar24 – Bisnis Indonesia600 × 400Search by image

Waspadalah. Satu penelitian terbaru menemukan, ekonomi pasar gelap telah mendorong distribusi virus ransomware meningkat pesat. Sebuah laporan pada Oktober 2017 menyebutkan, periset di layanan anti-malware Carbon Black mengidentifikasi adanya peningkatan penjualan ransomware sebesar 2.502 persen dari tahun 2016-2017. Penyebabnya: korban bersedia membayar uang tebusan. Beberapa hari lalu serangan ransomware terbaru bernama bad rabbit muncul di Rusia, Ukraina, Turki, dan Jerman. 

Penelitian yang melibatkan pemantauan di 21 pasar web gelap paling dalam ini mengumpulkan data yang kemudian diekstrapolasi agar menghasilkan perkiraan untuk lebih dari 6.300 pasar saat ini yang meminta uang tebusan.

Peningkatan penjualannya mencapai sebesar 2.502 persen atau sekitar 6,2 juta dolar AS. Jumlah ini naik dibanding tahun sebelumnya yang hanya sekitar 250 ribu dolar AS. Meski jumlahnya tidak banyak yang bisa diamati, namun pertumbuhan yang dilaporkan tetap mengesankan; jika tak mau disebut firasat buruk.

Postcomended   Untuk Menikahi Raisa, Hamish Harus Dapat Restu Kedutaan Australia

Para periset mencatat bahwa hal itu didorong oleh peningkatan penawaran dan permintaan: “Penjahat dunia maya semakin melihat peluang untuk memasuki pasar dan ingin menghasilkan uang dengan cepat melalui salah satu dari banyak penawaran ransom yang tersedia melalui ekonomi terlarang,” kata studi tersebut.

Bursa ransomware yang meluas ini dimungkinkan tidak hanya oleh alat yang membuat anonimisasi perdagangan menjadi sederhana –misalnya melalui Bitcoin dan Tor, jika ingin menyebut dua nama– tetapi juga oleh pengembangan layanan ransomware sehingga memudahkan hampir semua orang untuk meluncurkan perusahaan rintisan (startup) mereka sendiri secara ilegal.

Sebagai hasil dari kematangan inovasi-inovasi tersebut, ekonomi ransomware bawah tanah sekarang adalah industri yang menyerupai perdagangan perangkat lunak, lengkap dengan pengembangan, dukungan, distribusi, penjaminan kualitas, dan bahkan “help desk”.

Menurut CSO Online, pembayaran ransomware tahun lalu (2016) mencapai 1 miliar dolar AS (setara Rp 13 triliun), yakni sekitar 4.000 persen meningkat dari jumlah tahun sebelumnya.

Postcomended   Waspadalah, Serangan "WannaCry" Berikutnya Mungkin Lebih Besar

Pengembang ransomware juga menghasilkan banyak uang dengan beberapa jaringan menghasilkan lebih dari  100 ribu dolar AS per tahun. Sementara pendapatan rata-rata untuk “teman mereka” di industri resmi, turun mendekati 70 ribu dolar AS.

Para periset memperingatkan, penegakan hukum sama sekali tidak berguna dalam mencegah serangan, karena dalangnya bisa jadi masih para penegak hukum itu sendiri.

Dalam kasus ransomware WannaCry yang menyerang sejumlah rumah sakit di Indonesia awal 2017 lalu, muncul dugaan keterlibatan intelijen Amerika Serikat (AS).

Kunci untuk menghentikan serangan ransomware, adalah meyakinkan cukup banyak orang agar tidak menuruti tuntutan para penyerang untuk membayar tebusan.

Menurut data Carbon Black, saat ini sekitar 59 persen responden mengatakan mereka bersedia membayar kurang dari 100 dolar AS untuk mendapatkan kembali akses ke data mereka, .

Angka kesediaan membayar akan turun menjadi 12 persen jika penyerang meminta 500 dolar AS atau lebih. “Sistem hanya bekerja jika korban memilih untuk membayar,” studi menyimpulkan. “Sampai orang memutuskan untuk tidak membayar, masalah ini hanya akan terus bertambah.(***/gizmodo)

Postcomended   Waspadalah, Serangan "WannaCry" Berikutnya Mungkin Lebih Besar

 

Share the knowledge