Brand equity Wonderful Indonesia semakin hari semakin happening di kancah global. Pada 2013, Wonderful Indonesia praktis tidak dikenal oleh dunia, namun pada 2015 peringkatnya berada di posisi 47. Country Brand Index kita naik 100 peringkat, jauh mengungguli Malaysia bahkan Thailand. Wonderful Indonesia sudah menjadi “global brand” karena exposure kita di mancanegara sudah cukup massif.

Berbagai strategi promosi kita lakukan untuk mendongkrak performa brand Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia (WI/PI) dengan investasi yang tentu tidak sedikit, sehingga brand kita semakin dikenal dan menarik wisman untuk datang ke Indonesia.

Salah satu strategi yang sudah kita lakukan sejak pertengahan tahun 2017 lalu dan cukup berhasil adalah cobranding. Kita telah menggaet lebih dari 100 brand besar di berbagai industri untuk kita ajak ber-cobranding memajukan pariwisata Indonesia. Termasuk di dalamnya brand milik para selebritas yang sekaligus bisa menjadi brand influencer/ambassador bagi Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia.

Brand Milik Masyarakat
Tahun 2018 ini saya ingin agar penetrasi brand WI/PI lebih mendalam lagi dengan menjadikannya sebagai brand milik seluruh lapisan masyarakat Indonesia. WI/PI harus menjadi “People’s Brand”. Brand yang dimiliki, dicintai, dan dibanggakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Saya yakin dengan “sense of ownership” dan “sense of proud” yang tinggi terhadap brand WI/PI, maka akan muncul kesadaran seluruh lapisan masyarakat untuk mengembangkan dan mempromosikan pariwisata Indonesia. Ini sejalan dengan komitmen Pak Jokowi untuk menjadikan pariwisata sebagai core economy bangsa. Karena menjadi pilar ekonomi bangsa, maka sektor ini harus didukung dan dibela oleh seluruh rakyat Indonesia, tak cukup hanya oleh Kemenpar.

Postcomended   Insinyur Australia Via Google Earth Klaim Temukan Bangkai MH370 Penuh Lubang Peluru

Kita masih ingat, pada tahun 1990 untuk pertama kalinya Pemerintah meluncurkan program kampanye Visit Indonesia Year yang mendapatkan sambutan luar biasa dari masyarakat. Program tersebut begitu menggema di seluruh Tanah Air karena mendapat sambutan luas dari masyarakat. Masyarakat secara sukarela memasang atribut-atribut brand Visit Indonesia Year sehingga exposure-nya begitu luas.

Dalam skala kota, pada awal tahun 2000-an Yogyakarta juga pernah untuk pertama kalinya meluncurkan kampanye city branding ber-tagline Jogja Never-Ending Asia yang mendapatkan sambutan luar biasa dari masyarakat kota gudeg. Para pedagang di Pasar Beringharjo, tukang becak, pelapak di Jl. Malioboro, dan seluruh warga Jogja secara sukarela memasang atribut logo Jogja Never-Ending Asia di tempat mereka masing-masing.

Saya ingin agar brand WI/Pi betul-betul menjadi People’s Brand dimana seluruh lapisan masyarakat dengan sukarela dan rasa bangga memasang atribut brand WI/PI di tempat dan aktivitas mereka masing-masing. Dengan begitu seluruh masyarakat betul-betul menjadi brand ambassador WI/PI. Bayangkan, apabila 260 juta penduduk Indonesia menjadi brand ambassador WI/PI, maka promosi pariwisata kita bakal menggema luar biasa.

Nasionalisme Baru
Kalau tahun lalu kita menggarap segmen korporat dan artis sebagai partner cobranding kita, maka tahun ini kita juga akan menggarap segmen masyarakat luas terutama UKM, komunitas-komunitas, dan seluruh elemen masyarakat secara luas. Kita sebut mereka sebagai “Friends of Wonderful Indonesia”.

Postcomended   Gebrak Awal Tahun, Jakarta Gelar Sederet Event Berkualitas

Saya sudah minta Pak Priyantono Rudito untuk mulai menggarap segmen ini dengan merancang sebuah program untuk mengajak partisipasi masyarakat luas untuk memasang atribut branding WI/PI dan mempromosikan pariwisata Indonesia secara luas dan massif.

Sebagai contoh, kita bisa mengajak semua bus-bus atau kendaraan pariwisata memasang logo WI/PI. Ingat, kendaraan pariwisata ini sudah seperti layaknya “billboard berjalan” yang sangat efektif untuk memperluas exposure brand WI/PI. Bahkan kalau perlu kita bisa memasang logo WI/PI di bak belakang truk-truk yang sering viral dengan tulisan-tulisan yang lucu dan menggelitik.

Kita juga bisa mengajak pemiliki toko dan para pelapak di destinasi-destinasi wisata untuk memasang logo WI/PI. Begitu juga pemilik resto dan kafe yang bertebaran di berbagai destinasi wisata maupun di jalan-jalan utama (mainstreet) di seluruh penjuru Tanah Air untuk menjadi “etalase” bagi brand WI/PI.

Contoh lain adalah rumah-rumah dengan lokasi yang strategis atau ruang-ruang publik seperti taman kota, alun-alun, atau sekolah-sekolah. Kita bisa mem-branding-nya dengan membuat mural WI/PI atau seni instalasi dengan tetap mempertimbangkan aspek estetika dan keindahannya. Demikian juga dengan kaos-kaos souvenir WI/PI yang dijual di seluruh Destinasi Pariwisata.

Kalau secara serempak seluruh elemen masyarakat melakukannya, maka dua tujuan bisa kita capai secara bersamaan. Pertama, exposure brand WI/PI akan sangat luas dengan biaya yang yang minimal. Kedua, kesadaran masyarakat mengenai pentingnya membangun sektor pariwisata sebagai core economy akan terbangkitkan. Seluruh elemen bangsa akan tergerak.

Postcomended   Indonesia Bangun Gudang Raksasa Kedua, Singapura Kian Menjerit

Kalau terwujud, maka ini akan menjadi bentuk “Nasionalisme baru” di kalangan masyarakat, kaya maupun miskin, untuk berkontribusi mengembangkan ekonomi bangsa melalui sektor pariwisata. Seperti sering saya katakan, bangsa ini akan maju dan besar jika sektor pariwisatanya maju dan besar.

Kalau sudah begitu saya yakin brand WI/PI akan menjadi milik kita semua dan menjadi kebanggaan kita semua. Brand WI/PI akan menjadi “brand untuk semua”.

Salam Pesona Indonesia!!!

Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc.

Share the knowledge