Internasional

Cina Akui Telah Tangkap 13 Ribu “Teroris” Uighur dengan Dalih Deradikalisasi

Share the knowledge

 

Pagar kawat berduri mengelilingi apa yang disebut kamp reedukasi warga etnis Uighur. Namun PBB menyebut CIna telah menciptakan kamp konsentrasi (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=swCf6Z5REwI)

Pagar kawat berduri mengelilingi apa yang disebut kamp reedukasi warga etnis Uighur. Namun PBB menyebut CIna telah menciptakan kamp konsentrasi (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=swCf6Z5REwI)

Pihak berwenang di Cina akhirnya mengaku telah menangkap hampir 13 ribu “teroris” di wilayah bergolak di Xinjiang yang dihuni mayoritas Uighur sejak 2014. Namun pengakuan ini adalah untuk membela langkah-langkah “deradikalisasi” Beijing.

Pengakuan ini diumumkan Senin (18/3/2019) dalam satu makalah panjang sebagai “buku putih”. Cina menghadapi kecaman internasional karena dituding mendirikan fasilitas yang oleh para ahli PBB digambarkan sebagai pusat penahanan. Fasilitas ini diduga menampung lebih dari satu juta warga Uighur dan Muslim lainnya.

Beijing berdalih mereka memerlukan tindakan untuk membendung ancaman militansi dan menyebut penjara itu sebagai “pusat pelatihan kejuruan”.

Dalam makalah di “bukut putih” itu otoritas di Xinjiang mengaku sejak 2014 telah menghancurkan 1.588 atas apa yang disebut sebagai geng kekerasan dan teroris, menangkap 12.995 teroris, menyita 2.052 alat peledak, menghukum 30.645 orang atas 4.858 kegiatan keagamaan yang dianggap ilegal, dan menyita 345.229 salinan materi agama illegal.

Makalah itu juga menyebutkan, hanya sebagian kecil orang yang menghadapi hukuman ketat, seperti pemimpin kelompok bersenjata. Sedangkan mereka yang (sekadar) dipengaruhi oleh “pemikiran ekstremis” (hanya) menerima pendidikan dan pelatihan untuk mengajarkan mereka kesalahan dalam cara mereka.

Postcomended   Beijing Instruksikan Masjid-masjid Harus Kibarkan Bendera Nasional Cina

Kongres Uighur Dunia; satu kelompok Uighur di pengasingan, dengan cepat mengecam makalah itu. “Cina sengaja mendistorsi kebenaran,” kata juru bicaranya, Dilxat Raxit, dalam sebuah pernyataan melalui email, seperti dilansir laman Al Jazeera.

Menurut mereka, kontra-terorisme adalah alasan politis untuk menekan orang-orang Uighur. “Tujuan sebenarnya dari apa yang disebut deradikalisasi adalah untuk menghilangkan kepercayaan dan melaksanakan Sinifikasi secara menyeluruh,” sebut Raxit.

Postcomended   Ilhan Omar Melawan Lobi Zionis di Kongres Amerika

Laporan di makalah itu juga mengatakan, Xinjiang telah menghadapi tantangan khusus sejak serangan 11 September 2001 ke Menara kembar WTC di Amerika Serikat, ketika pejuang “Turkistan Timur” menggenjot aktivitas (keradikalan) di Xinjiang.

“Mereka meneriakkan kata-kata jahat ‘pergi ke surga dengan mati syahid melalui jihad’, mengubah beberapa orang menjadi ekstremis dan teroris yang sepenuhnya dikendalikan pikiran, dan bahkan berubah menjadi setan pembunuh,” tulis makalah tersebut.

“Kekerasan agama di bawah panji Islam bertentangan dengan doktrin Islam, dan bukan Islam. Xinjiang telah lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Cina, dan kelompok etnis Uighur berevolusi dari proses migrasi dan integrasi etnis yang panjang,” kata makalah itu. “Mereka bukan keturunan orang Turki.”

Turki adalah satu-satunya negara Islam yang secara teratur menyatakan keprihatinan tentang situasi di Xinjiang karena hubungan budaya yang erat dengan Uighur, yang berbicara bahasa Turki. Cina mengecam kekhawatiran Turki sebagai tidak beralasan dan campur tangan dalam urusan internalnya.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top