On top of its order for 24 Sukhoi Su-35 fighters, Beijing may purchase more if Moscow is willing to share more technologies. Photo: Wiki Commons via Asiatimes

On top of its order for 24 Sukhoi Su-35 fighters, Beijing may purchase more if Moscow is willing to share more technologies. Photo: Wiki Commons via Asiatimes

Di bawah Presiden Donald Trump, Amerika Serikat makin menunjukkan diri sebagai polisi dunia. Media pada Jumat (21/9/2018) ramai mengabarkan bahwa Pemerintah AS telah menjatuhkan sanksi kepada Cina karena membeli jet tempur dan rudal permukaan-ke-udara (surface-to-air missile) dari Rusia. Cina menyatakan keputusan AS ini tidak masuk akal dan melanggar norma-norma dasar hubungan internasional.

“AS telah secara serius melanggar norma-norma dasar hubungan internasional dan mengganggu hubungan antara Cina dan AS. Kami sangat menyerukan kepada AS untuk memperbaiki kesalahan dan membatalkan sanksi. Jika tidak, AS harus menanggung konsekuensinya,” ancam Beijing melalui juru bicara kementerian luar negeri Cina, Geng Shuang, Jumat (21/9/2018).

Washington mengatakan bahwa pembelian oleh Departemen Pengembangan Peralatan (EDD) dari Kementerian Pertahanan Cina melanggar sanksi AS terhadap Rusia. Baik EDD dan direkturnya, Li Shangfu, telah disebutkan dalam sanksi yang dilempar AS pada hari Kamis itu. Sanksi ini membuat Li tidak akan bisa mendapatkan visa AS.

Postcomended   Hubungan Australia dan Cina Membeku, Sebeku Es Antartika

Di bawah sanksi AS tersebut, EDD akan ditolak izin ekspor asing AS, dilarang membuat transaksi valuta asing dalam yurisdiksi AS dan dilarang menggunakan sistem keuangan AS. Setiap properti dan kepentingan EDD dalam kendali AS akan diblokir. Transaksi Cina dengan Rusia itu melibatkan pembelian pesawat tempur Rusia Su-35 dan peralatan sistem terkait rudal permukaan-ke-udara S-400.

Tindakan (pemberian sanksi) itu, kata seorang pejabat senior pemerintah AS, bertujuan membebankan biaya pada Rusia sebagai tanggapan atas kegiatan-kegiatan jahatnya. Kegiatan jahat yang dimaksud adalah mengacu pada dugaan peretasan oleh Rusia selama pemilihan presiden AS 2016 dan intervensi militernya di timur Ukraina.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri kepada wartawan yang meminta identitasnya dikaburkan, yakin bahwa sanksi itu dimaksudkan untuk menarget Rusia saja, bukan Cina atau militernya, dan tidak dimaksudkan untuk merusak kemampuan pertahanan negara tertentu (dalam hal ini Cina).

Postcomended   10 Atlet Voli Indonesia Ini Punya Wajah yang Cantik Bak Model

Cina menerima 10 Sukhoi Su-35 pada Desember 2017 dan batch pertama peralatan sistem terkait rudal S-400 tahun ini, kata pernyataan itu. “Kedua transaksi tersebut dihasilkan dari pra-2 Agustus 2017, kesepakatan dinegosiasikan antara EDD dan Rosoboronexport (ROE), badan ekspor senjata utama Rusia,” tambahnya.

Namun Cina yang kadung emosi telah menyampaikan pesan pembangkangannya dengan menyatakan bahwa Cina akan melanjutkan kerjasama tersebut. “Kerja sama antara Cina dan Rusia bertujuan membantu kedua negara melindungi kepentingan sah mereka dan menjaga perdamaian dan stabilitas regional. Itu tidak melanggar hukum atau target internasional di pihak ketiga mana pun, ”kata Geng.***

Share the knowledge