China Construction Bank Launched Automated Branch with Robot ... Newschronic China Construction Bank Launched Automated Branch with Robot Assistants and Virtual Reality Rooms

China Construction Bank Launched Automated Branch with Robot … Newschronic China Construction Bank Launched Automated Branch with Robot Assistants and Virtual Reality Rooms

“Selamat datang di China Construction Bank. Ada yang bisa saya bantu hari ini?” ujar Xiao Long kepada para pelanggan yang tiba di cabang bank tersebut di Shanghai, Cina. “Giginya” yang putih terlihat mengilap. Xiao Long yang berarti “Naga Kecil”, bukan karyawan biasa. Dia adalah robot di cabang bank yang sepenuhnya otomatis dan bebas manusia. Bank robot ini menyusul robotisasi petugas keamanan di stasiun kereta, hingga pelayan restoran. Kebangkitan industri robot Cina disebut sebagai inti dari ambisi ekonomi Beijing.

Sebagai petugas bank, Xiao Long berbicara kepada pelanggan, mengambil kartu bank, dan mengecek rekening (dia datang lengkap dengan PIN pad) dan dapat menjawab pertanyaan dasar.
Setelah obrolan awal yang cepat dengan Xiao Long, pelanggan melewati gerbang elektronik di mana wajah dan kartu identitas mereka dipindai. Pada kunjungan berikutnya, pengenalan wajah saja sudah cukup untuk membuka gerbang dan memanggil informasi pelanggan.

Di dalam robot, mesin teller otomatis dapat melayani pembukaan rekening, serta transfer uang dan valuta asing. Robot kedua menunggu di dalam penghalang, dan ada ruang VR (video recorder) dan tautan video jika pelanggan ingin berbicara dengan manusia.

Ada juga sejumlah kamera keamanan, namun tetap dilengkapi penjaga keamanan manusia yang bersembunyi di luar pandangan. Namun bagi pelanggan, keberadaan bank robot ini agak ambivalen. Pasalnya, sejumlah pelanggan telah terbiasa melakukan transaksi online.

Postcomended   Puan Maharani Sangkal Tuduhan Setya Novanto Ikut Terima Saweran Korupsi e-KTP

Meskipun dikenal dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, robot menangani lebih banyak aspek kehidupan sehari-hari di kota-kota di Cina. Mereka telah ditempatkan di stasiun-stasiun kereta api untuk tujuan keamanan. Robot penjaga keamanan di stasiun kereta api Zhengzhou East misalnya, diprogram untuk memindai wajah para pelancong dan menanggapi pertanyaan umum.

Kepala eksekutif JD.com, raksasa e-commerce Cina, baru-baru ini meramalkan bahwa robot pada akhirnya akan menggantikan pekerja manusia di industri ritel, dengan sektor ritel tak berawak Cina yang diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat menjadi 65 miliar yuan (sekitar Rp 100 triliun) pada 2020, menurut iResearch.

Robot juga digunakan untuk memasak, baik di restoran maupun dapur industri, sekaligus dengan pelayannya. Video dari pabrik pangsit yang sepenuhnya otomatis, beredar di media social Cina tahun lalu.

Pelayan robot telah menjadi tren selama beberapa tahun. Restoran-restoran tertarik memilikinya untuk menarik pelanggan dengan pengalaman baru, serta menghemat biaya staf.

Tetapi kebangkitan industri robot Cina merupakan bagian inti dari ambisi ekonomi Beijing. Rencana Pengembangan Industri Robotika Beijing adalah program lima tahun yang menargetkan produksi minimal 100.000 robot industri per tahun pada 2020, sebagian untuk menghidupkan kembali sektor manufaktur yang sedang sakit di negara itu.

Postcomended   Putra Sulung Bung Karno yang Pendiam Ini Mendadak Vokal

“Dalam AI (artificial intelligent) dan robotika, Cina jelas tertarik untuk muncul sebagai pemimpin global,” kata Profesor Yu Zhou di departemen ilmu bumi dan geografi di Vassar College.

“Memindahkan rantai nilai benar-benar merupakan langkah Cina untuk menjadi robotik. Upah kerja telah meningkat dan ada kekurangan tenaga kerja tingkat rendah. Robot benar-benar dilihat sebagai upgrade produk yang lebih baik, lebih efisien, dan lebih murah,” ujarnya.

Menurut angka-angka dari Federasi Internasional Robot, Cina sudah menjadi pemegang saham terbesar dari pasar global robot dengan kekayaan bersih 30 miliar dolar AS (sekitar 300 triliun lebih).

Produsen Taiwan, Foxconn, telah memangkas puluhan ribu karyawan dengan menggantikan mereka dengan tenaga mesin, yang dilaporkan mengerahkan lebih dari 40.000 robot pabrik. Mereka mengatakan bertujuan untuk mencapai otomatisasi 30% pada 2020.

Pesan KFC dengan Pengenalan Wajah
Munculnya robot juga terkait dengan investasi publik dan swasta yang besar dalam “pengenalan wajah” dan AI. Di Shenzhen, Shanghai, dan Beijing, pihak berwenang setempat telah menggunakan pengenalan wajah untuk menarget para “jaywalker”.

Mereka yang tertangkap menyeberang jalan secara ilegal telah diambil fotonya. Setelah diidentifikasi, jaywalker ini secara terbuka diberi nama, lalu dipermalukan di layar besar di pinggir jalan .

Di festival bir Qingdao, polisi menggunakan jaringan kamera dan teknologi pengenalan wajah untuk memindai wajah 2,3 juta orang yang hadir. Mereka yang diidentifikasi dari database polisi nasional memiliki riwayat kecanduan , diuji. Akibatnya, 19 ditangkap karena menggunakan narkoba.

Postcomended   Seabad dari Sekarang, Asteroid sebesar Gedung Empire State Mengancan Bumi

Sementara itu, pelanggan di cabang Hangzhou KFC dapat membayar pesanan hanya dengan menggunakan wajah mereka. Pengecer, termasuk Tencent telah berekspejrimen pada toko-toko yang kekurangan kasir.

Namun kata Jeffrey Ding, peneliti di Future of Humanity Institute, Universitas Oxford, ada risiko mengorbankan kualitas untuk kuantitas. Juga ada kekhawatiran bagaimana AI dan robot dapat memperburuk kesenjangan sosial dan kekayaan yang sedang tumbuh.

“Ada juga kemunduran terkait privasi pelanggaran,” katanya. Sebuah survei nasional, yang disebut China Economic Life Survey, menemukan hampir 80% konsumen Cina mengatakan mereka merasa perkembangan AI akan menghadirkan ancaman serius terhadap privasi mereka.(***/Helen Roxburgh/theguardian)