United Nations Human Rights Council (Mary Robinson Foundation —
UN Photo)

Sementara banyak negara anggota menyesalkan keputusan Amerika Serikat (AS) menarik diri dari Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, analis menduga Cina kegirangan karena kritikusnya berkurang. Selasa (19/6/2018), AS menarik diri dari organisasi ini karena dianggap anti Israel.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan, keputusan meninggalkan Dewan HAM PBB ini karena adanya “bias kronis terhadap Israel”. Dia juga menyesalkan fakta bahwa dewan beranggotakan 47 orang itu termasuk para pelaku pelanggaran HAM seperti Cina, Kuba, Venezuela, dan Kongo.

“Komitmen AS terhadap HAM tidak akan mengizinkan untuk tetap menjadi bagian dari organisasi yang munafik dan melayani diri sendiri yang membuat ejekan terhadap HAM,” katanya.

William Nee, peneliti Cina bersama Amnesty International (AI), mengatakan di Hong Kong, hengkangnya Washington akan memberi jalan bagi Beijing untuk mempromosikan pandangannya.
“AS telah menjadi salah satu dari sedikit negara pengritik Cina. Tanpa AS, Cina dan negara otoriter lainnya akan meningkatkan kekuatan mereka di Badan HAM tersebut,” ujar Nee.

Cina menyatakan penyesalan atas keputusan Washington, tetapi bersumpah untuk terus menjunjung multilateralisme. “Cina akan terus bekerja dengan semua pihak untuk memberikan kontribusinya bagi pengembangan HAM yang sehat di seluruh dunia melalui dialog dan kerja sama yang konstruktif,” kata juru bicara kementerian luar negeri Geng Shuang.

Sebuah artikel dalam publikasi resmi dari lembaga antikorupsi Cina mengatakan keputusan itu akan membahayakan citra AS sebagai pembela HAM. Sophie Richardson, direktur China di Human Rights Watch, mengatakan, penarikan AS itu akan menggerogoti upaya kelompok-kelompok HAM di seluruh dunia yang bergantung pada dukungan lembaga-lembaga internasional.

“AS harus bekerja untuk memperkuat lembaga-lembaga itu, bukan mengeluarkan isi perut mereka,” kritiknya. Zhang Guihong, seorang profesor organisasi internasional di Universitas Fudan, mengatakan, meskipun kepergian AS tidak baik untuk sistem multilateral yang digunakan PBB, itu tidak akan akan menghentikan negara-negara Barat dan negara lainnya untuk mempromosikan ide-ide HAM mereka di dewan.

Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, menyesalkan keputusan Washington namun mengatakan Inggris akan tetap berada di dalam. Kepala Dewan HAM PBB, eid Ra’ad al-Hussein, mengatakan, mengingat keadaan HAM di dunia sekarang ini, AS harusnya meningkatkan peran dan bukannya malah mundur.

Ni Feng, seorang profesor studi Amerika di Akademi Ilmu Sosial Cina, mengatakan, “Amerika percaya pendapatnya sulit untuk disuarakan dalam organisasi-organisasi ini, dan bahwa mereka bias terhadap isu AS dan Israel,” katanya.

Hengkangnya AS dari Dewan HAM PBB dilakukan sebelum masa keanggotaannya berakhir pada 2019. Sedangkan Cina saat ini menjalani masa keanggotaan tiga tahun yang kedua, setelah sebelumnya juga telah menjabat dari 2006 hingga 2012. (***/SCMP/theindependent)

Share the knowledge