Cina mulai terapkan larangan beberapa impor sampah, termasuk plastik ... KEPONEWS Cina mulai terapkan larangan beberapa impor sampah, termasuk plastik

Cina mulai terapkan larangan beberapa impor sampah, termasuk plastik … KEPONEWS Cina mulai terapkan larangan beberapa impor sampah, termasuk plastik

Cina baru saja melempar lagi bola panas ke industri daur ulang global. Negara-negara maju penyampah, kian gugup dan panik. Negeri Tirai Bambu ini bakal menambah larangan impor terhadap 32 jenis sampah dan limbah padat, dibanding tahun lalu yang “hanya” 24 jenis. Setengahnya akan mulai berlaku pada akhir tahun ini, setengahnya lagi akhir 2019. Selama beberapa dekade terakhir, negara-negara maju khususnya Amerika Serikat (AS), mengirim berkontainer-kontainer sampah dan limbah ke Cina untuk didaur ulang.

Pemerintah Cina mengatakan, kebijakan ini memperpanjang larangan tahun lalu terhadap impor limbah, seperti: kertas yang tidak disortir, beberapa jenis plastik dan puluhan jenis sampah lainnya yang dapat didaur ulang, termasuk limbah baja, suku cadang mobil bekas, dan kapal tua. Larangan itu diberlakukan sebagai cara Cina mengurangi kerusakan lingkungan.

Keputusan Cina yang diumumkan Kamis (19/4/2018) ini, menimbulkan sakit kepala baru bagi negara-negara yang bergantung pada Cina untuk mendaur ulang limbah mereka. “Mereka masih berjuang menyesuaikan diri atas larangan yang diumumkan pada 2017 dan akan membutuhkan tahunan untuk memperluas fasilitas (daur ulang) mereka sendiri,” kata Adam Minter, jurnalis yang menulis “Planet Sampah: Perjalanan dalam Perdagangan Sampah Miliar Dolar”.

Pembatasan itu dilaporkan menyebabkan limbah daur ulang menumpuk di negara-negara maju tanpa ada tempat untuk mengirimnya. Awal pekan ini, satu kota di negara bagian Queensland Australia mengatakan, karena biaya yang diminta kontraktor sangat besar untuk mengatasi limbahnya, mereka akan mulai mengubur sampah yang dapat didaur ulang di tempat pembuangan akhir (TPA).

Postcomended   Dengan Memunguti Sampah Kota, Miliarder ini Merasa Stabil

Menanggapi hal ini, sejumlah pengamat mengatakan, larangan itu bisa membuat kondisi lebih buruk. Bagaimana bisa? Minter berteori, pembatasan impor yang dilakukan Cina dapat menyebabkan produsen bahan daur ulang berhenti memproduksi bahan yang dibutuhkan industri dalam negeri Cina sendiri. Dengan kata lain, Cina harus membeli bubur kertas dan plastik baru, yang akhirnya meningkatkan biaya operasional lingkungan mereka sendiri.

Langkah-langkah terbaru Cina ini kata Minter, dapat memutus pabrikan Cina dari sumber alternatif logam murah, nikel misalnya. “Langkah ini akan meningkatkan biaya produksi di Cina, yang akan diteruskan ke konsumen (dengan harga yang lebih mahal),” tambah Minter.

Bisnis Senilai Puluhan Triliun

Cina telah menjadi negara pengimpor sampah asing selama bertahun-tahun. Dengan tiba-tiba membatasi, menyebabkan perusahaan-perusahaan harus beradaptasi dengan aturan baru ini. Impor sampah Cina merupakan bisnis tahunan senilai 5 miliar dolar AS (sekitar Rp 70 triliun) yang sekarang terancam tenggelam. Kepingan sampah daur ulang dan limbah lainnya, adalah ekspor AS terbesar keenam ke Cina.

Institute of Scrap Recycling Industries (Lembaga Pemulung Sampah Daur Ulang/ISRI) AS, mengatakan, larangan impor limbah tersebut akan berdampak pada ekspor barang bekas dari AS ke Cina senilai sekitar 400 juta dolar AS.

“Kami prihatin akan dampak kebijakan ini terhadap rantai pasokan komoditas skrap (kepingan sampah) global ramah lingkungan yang hemat energi,” kata presiden institut itu, Robin Wiener, dalam sebuah pernyataan. Menariknya, perusahaan Cina yang dulu mengimpor limbah plastik dari negara maju, kata Minter, kini malah mulai berinvestasi dalam operasi daur ulang di AS.

Postcomended   Mengherankan, Ducati Lebih Sayang Dovizioso Ketimbang Lorenzo

Pada Juli 2017, Beijing memberi tahu Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bahwa pihaknya berencana melarang impor 24 jenis limbah padat, termasuk jenis kertas dan plastik yang tidak disortir, yang kebanyakan dikirim dari AS. Kepada WTO, Cina juga mengatakan, sejumlah limbah dikirim dalam keadaan kotor dan berbahaya yang menyebabkan pencemaran lingkungan yang serius.

Dewan Negara Cina mengatakan dalam sebuah pernyataan, mereka berharap dapat mereformasi sistem manajemen limbah padat impor, dan lebih mempromosikan penggunaan limbah padat domestik demi melindungi lingkungan ekologi dan kesehatan masyarakat.

Cina pada Juli itu mengatakan, larangan akan berlaku mulai September 2017. Namun belum juga perusahaan-perusahaan AS siap (misalnya dengan membangun fasilitas daur ulang sendiri), Cina sudah mengumumkan lagi akan menambah jenis sampah yang akan dilarang diimpor sebanyak 32 (total jadi 56) jenis.

AS Gugup dan Panik
Pengumuman ini, seperti dilaporkan CNN, telah membuat pendaur ulang AS yang berdagang dengan Cina sangat gugup. “Dalam jangka pendek kita akan melihat penurunan ekspor yang signifikan dari AS ke Cina, dan (akan) ada sedikit kepanikan di pasar,” kata Adina Adler, seorang pejabat di ISRI.

“Kami menghormati apa yang sedang coba dilakukan pemerintah Cina, dan kami ingin membantu. Tetapi mereka praktis tidak memberi kami waktu untuk transisi apa pun,” keluh Adler.

ISRI kata Adler, bermaksud melawan larangan tersebut. “Cina memiliki hak mengatasi krisis lingkungan di tangan mereka dan mereka perlu melakukan sesuatu untuk itu, tetapi kami tidak setuju untuk menerapkan larangan langsung,” kata Adler.

Postcomended   Raisa dan Hamish Menikah: Gambar-gambar Olah Komputer yang Menggelitik Perut Bertebaran

Disarikan dari CNN, awal mula “perdagangan” sampah berjalan dari AS ke Cina adalah ketika terjadi suply dan demand sampah AS yang sangat dibutuhkan industri daur ulang Cina, dikaitkan dengan kekosongan bagian belakang kapal pelayaran yang pulang ke Cina. Pihak pelayaran disebut memberi diskon untuk pengangkutan di bagian belakang tersebut.

Hal ini menjadi anugerah bagi industri daur ulang AS, yang memiliki banyak sekali besi tua, kertas, plastik, karet, dan limbah elektronik yang didambakan pendaur ulang Cina. Minter menggambarkan, mengekspor kepingan limbah ke Cina bisa jauh lebih murah daripada mengirimkannya dengan kereta api dari Los Angeles ke Chicago.

Share the knowledge