Buy me a coffeeBuy me a coffee
Ekonomi

Huawei Mengaku Siap Hidup dengan Sanksi AS, Pengamat: Cina Bakal Kian Kuat

Share the knowledge

(gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=XBGcep_SDz4)

(gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=XBGcep_SDz4)

Produsen ponsel pintar Cina, Huawei Technologies, mengatakan Jumat (23/8/2019), mereka sepenuhnya siap hidup dan bekerja dengan sanksi AS. Pengamat telah melihat bahwa tekanan yang diberikan AS alih-alih membuat AS kembali hebat, justru akan membuat Cina kian kuat.

Dalam pernyataannya itu, Huawei mengaku bisnisnya tidak terlalu terpengaruh pembatasan perdagangan AS, seperti yang ditakutkan perusahaan pada awalnya. Bisnis Huawei senilai 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.400 triliun/kurs Rp 14 ribu) telah terpukul sejak pertengahan Mei 2019.

Saat itu, Washington menempatkan produsen ponsel pintar terbesar kedua di dunia ini dalam daftar entitas yang aksesnya ke komponen dan teknologi penting AS, akan diputus.

Dalam penilaian pertamanya tentang dampak larangan tersebut, pendiri dan CEO Huawei, Ren Zhengfei, mengatakan pada Juni, pembatasan perdagangan AS akan mencapai pendapatan sebesar 30 miliar dollar AS tahun ini.

“Sepertinya akan sedikit kurang dari itu, tetapi Anda harus menunggu sampai hasil kami pada Maret (2020),” Eric Xu, wakil ketua Huawei, mengatakan saat melakukan konferensi pers untuk memperkenalkan chip kecerdasan buatan baru di kantor pusatnya di Shenzhen, Jumat.

Sementara itu, buah dari KTT G20 di Jepang Juni lalu, Washington sedikit melunak. Mereka, misalnya, menunda penutupan akses Huawei ke sistem android Google. Setelah penangguhan hukuman sebelumnya berakhir pada akhir 2018, Washington kembali akan memperpanjang penangguhan hukuman 90 hari.

Postcomended   8 Agustus dalam Sejarah: Cornflakes Ditemukan dalam Sebuah Eksperimen Diet Ketat

Ini akan memungkinkan Huawei kembali membeli komponen dari perusahaan-perusahaan AS. Tapi Washington, sebut Reuters, juga tetap bergerak untuk menambahkan lebih dari 40 unit produk Huawei ke dalam daftar hitam ekonomi.

Cina Kian Kuat

Akibat penerapan tarif oleh AS, ekonomi Cina memang melambat. Gencatan senjata seusai KTT G20, belum banyak membantu. Tingkat pertumbuhan Cina menurun dari 6,6% pada 2018 menjadi 6,4% pada kuartal pertama 2019. Namun pengamat melihat bahwa tekanan ini dalam jangka panjang malah dapat kian memperkuat Cina.

Menulis di  laman The Conversation, Chang Zhang, kandidat PhD Universitas Warwick dan Nora von Ingersleben-Seip, Rekan Penelitian Doktoral Universitas Teknik Munich, menyebutkan bahwa tekanan AS akan membantu Cina mempercepat upayanya merestrukturisasi ekonominya. Cina juga akan menjadi lebih fokus pada inovasi, dan ini dapat meningkatkan kebanggaan nasional negara itu.

Dalam jangka pendek saja, Cina pada 9 Agustus lalu sudah menunjukkan giginya meskipun belum gigi taring. Pada saat itu, Huawei dikabarkan meluncurkan sistem operasi (OS) smartphone yang katanya dapat menggantikan Android Google.

Isu bahwa Huawei telah mengembangkan perangkat lunak pengganti android telah mengemuka sebelumnya. Mereka disebut sudah membangun OS bernama Hongmeng.  Namun saat pengumuman 9 Agustus itu, nama OS yang diperkenalkan Huawei adalah HarmonyOs, dan ini akan diujicobakan pada ponsel pintar bikinan Huawei lainnya, Honor.

Postcomended   Menyusul Pengungkapan Kotak Hitam JT601, Boeing Sebar Instruksi untuk Para Pilot 737 Max

Dalam hal teknologi 5G, AS bahkan keteteran habis oleh Huawei. Tidak ada perusahaan AS yang memiliki peralatan nirkabel sebanding dengan Huawei. Inilah yang mendorong Presiden AS, Donald Trump, untuk mengobarkan perang terhadap perusahaan teknologi Cina.

Dalam artikelnya, Zhang dan Ingersleben-Seip mengingatkan bahwa larangan dan tarif Huawei atas barang-barang Cina tidak akan memperlambat Cina, melainkan malah akan merangsang sistem inovasi barunya dan mendorong penelitian ilmiah yang bertujuan untuk menjadi lebih mandiri.

Huawei, kata mereka, adalah produk dari strategi kebijakan industri pemerintah Cina. Visi untuk meningkatkan rantai nilai ekonomi dari produsen kelas bawah ke pemimpin inovasi global, imbuh mereka, telah membawa Cina pada peluncuran inisiatif “Made In China 2025” dan “Rencana Pengembangan Kecerdasan Buatan” untuk menyalurkan sumber daya ke sektor-sektor strategis seperti komputasi, kecerdasan buatan (AI), robotika , dan dirgantara.

Kedua pengamat itu juga menyebutkan, Cina bertujuan mencapai tingkat produksi swasembada AI sebesar 80%, meminimalkan ketergantungannya pada negara lain untuk komponen kompleks yang dibutuhkan dalam teknologi ini. Ini juga ditujukan untuk membuat Cina menjadi pusat teknologi terkemuka di AI pada tahun 2030.

Motif ini tampaknya telah membuahkan hasil, karena pada tahun 2017 kata Zhang dan Ingersleben-Seip, 48% pendanaan AI global adalah Cina dibandingkan dengan 38% AS. Perusahaan AI Cina, iFlyTek, sering kali mengalahkan Facebook, Alphabet DeepMind, dan IBM Watson dalam kompetisi untuk memproses ucapan alami, bahkan dalam bahasa Inggris, “bahasa kedua”-nya.

Postcomended   Siswi Inggris Pendukung ISIS yang Hamil Ingin Pulang

Mereka juga mengingatkan bahwa Cina sekarang adalah produsen sarjana semantik dan makalah penelitian ilmiah terbesar di dunia. Mesin pencari akademik untuk artikel ilmiah menunjukkan para sarjana Cina telah melampaui rekan-rekan AS mereka dalam memproduksi makalah AI.

jadi mulai sekarang, jangan salahkan Cina untuk kebodohan kita sendiri.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply


Buy me a coffeeBuy me a coffee
Buy me a coffeeBuy me a coffee
To Top