Internasional

Cina Siap “Tampung” Saudi Jika Hubungan Saudi-AS Memburuk

Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman dan Presiden Cina, Xi Jinping --foto islustrasi (Rolex - Pool/Getty Images)

Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman dan Presiden Cina, Xi Jinping –foto islustrasi (Rolex – Pool/Getty Images)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampaknya termakan ancaman Arab Saudi. Sempat mengancam akan memberi sanksi berat kepada Saudi terkait hilangnya jurnalis Jamal Khashoggi jika negara kerajaan ini terbukti menjadi dalangnya, namun Trump mendadak menjadi macan ompong terkait kesepakatan jual beli senjata senilai 110 miliar dollar AS. Padahal jika AS jadi memberi sanksi pada Saudi, Cina telah bersiap menampung.

Setelah seolah-olah mengancam Arab Saudi, di akun Twitter-nya Trump menulis bahwa dia telah berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, dan diberitahu bahwa Saudi tidak tahu apa-apa tentang yang terjadi di konsulatnya di Istanbul tersebut. Trump juga menyebutkan bahwa Saudi sedang mengembangkan penyelidikan.

Sebelum mengirim Menteri Luar Negerinya, Mike Pompeo, ke Saudi, Trump pada Minggu (14/10/2018) juga mengungkapkan keengganannya menjatuhkan sanksi dengan dibayangi ancaman Saudi tersebut.

“Saya tidak suka konsep menghentikan investasi US $ 110 miliar ke Amerika Serikat karena Anda tahu apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan mengambil uang itu dan membelanjakannya di Rusia atau Cina atau di tempat lain,” Trump mengatakan kepada wartawan minggu lalu.

Postcomended   Potensi Zakat Indonesia Rp 213 Triliun per Tahun

Minggu (14/10/2018), media corong Saudi, Al-Arabiya dalam tajuk rencananya memperingatkan bahwa jika AS memberlakukan sanksi terhadap Riyadh, itu akan menikam perekonomiannya sendiri, hingga mati! Harga minyak yang mencapai setinggi 200 dollar AS (sekitar Rp 3 juta) per barel, akan memimpin Riyadh untuk mengizinkan (pendirian) pangkalan militer Rusia di kota Tabuk, dan menggerakkan Timur Tengah ke dalam pelukan Iran.

Kecemasan Trump sudah di depan mata. Dikutip dari laman South China Morning Post (SCMP), sejak ingin menghilangkan ketergatungannya pada komoditas minyak dan perdagangan dengan AS, Saudi juga telah berusaha meningkatkan hubungan dagang dengan Cina.

Tahun lalu (2017), Cina merupakan mitra dagang Saudi terbesar dengan nuilai hingga US $ 42,36 miliar. Maret lalu, kedua negara juga menandatangani US $ 65 miliar penawaran di berbagai bidang mulai dari teknologi energi hingga ruang angkasa.

SCMP dalam laporannya Kamis (17/10/2018) juga menyebutkan, dalam editorial yang ditulis Manajer Umum Al Arabiya, Turki Aldakhil, Saudi bisa beralih ke negara-negara seperti Cina atau Rusia  untuk membantu memenuhi kebutuhan militernya jika sanksi AS dikenakan. Saudi juga, kata Aldakhil sedang mempertimbangkan lebih dari 30 tindakan balasan yang harus diambil terhadap AS, termasuk memperdagangkan minyak dalam yuan, bukan dolar AS.

Postcomended   Kemesraan Trump dan Putin Patahkan Hati Pemberontak Suriah

Namun dalam hal militer, ekspor senjata Tiongkok ke Saudi jauh tertinggal dibanding ekspor AS dan sekutu Eropanya. Beijing mengekspor hanya sekitar US $ 20 juta dalam bentuk senjata tahun lalu dibandingkan dengan US $ 3,4 miliar dari Washington, menurut data dari Stockholm International Peace Research Institute, sebuah lembaga pemikir Swedia.

Jonathan Fulton, asisten profesor ilmu politik di Universitas Zayed di Abu Dhabi, mengatakan, Cina telah tumbuh lebih serius dalam hubungan persenjataan regionalnya dengan negara-negara Teluk dalam beberapa tahun terakhir, dengan potensi untuk melayani sebagai “irisan” saat hubungan AS-Saudi memburuk.

Bersamaan dengan indikasi sebelumnya di Riyadh bahwa Saudi bersedia mempertimbangkan pendanaan dalam yuan, kata Fulton, peningkatan penjualan senjata akan menjadi “perkembangan alami” dari hubungan Cina-Saudi.

Simone van Nieuwenhuizen, seorang peneliti hubungan Cina-Timur Tengah yang berbasis di Australia, mengatakan, Cina akan cenderung tetap low profile pada masalah ini dan melihat bagaimana hasilnya sebelum menyikapi lebih lanjut.

Robert Mason, direktur Pusat Studi Timur Tengah di Universitas Amerika di Kairo, menambahkan, Cina (tampaknya) tidak ingin terlibat pada tahap ini (kasus hilangnya Khashoggi) untuk menghindari ketegangan lebih lanjut dengan pemerintahan Trump. Menurutnya, Cina akan tertarik memperluas hubungan dengan Saudi jika hubungan AS-Saudi memburuk.

Postcomended   Cina Surplus, Tarif Tak Bikin Selera Orang Amerika Berkurang pada Produk Cina

Sun Degang, seorang ahli Timur Tengah di Shanghai International Studies University, mengatakan, jika AS dan Saudi berpisah, akan mungkin bagi Cina untuk mengembangkan hubungan ekonomi lebih dalam dengan negeri itu, termasuk menggunakan yuan untuk memperdagangkan minyak.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top