(Photo by David Silverman/Getty Images)

Crocs memicu kepanikan kecil di kalangan penggemar bakiak plastik warna-warni ini dengan mengumumkan Rabu (8/8/2018) bahwa perusahaan menutup fasilitas manufaktur terakhirnya. Namun perusahaan ini bukannya berhenti memroduksi sepatu. Crocs –yang secara bisnis menguntungkan– sekadar menutup pabrik dan beberapa tokonya untuk memangkas biaya dan meningkatkan pendapatan. Crocs tampaknya bakal mengikuti tren perusahaan pada umumnya: outsourcing, bahkan sepenuhnya.

Kenyataannya, saham Crocs di Wall Street, yang telah naik 49 persen tahun ini, naik lebih lanjut pada Kamis (9/8/2018). Perusahaan ini mengeluarkan pernyataan Kamis sore yang membantah rumor bahwa perusahaan itu sedang tutup.

Juru bicara perusahaan tersebut mengeluarkan pernyataan, seperti dilaporkan CBS News, bahwa menutup fasilitas terakhir yang dimiliki perusahaan, di Meksiko dan Italia, adalah bagian dari rencana untuk sepenuhnya meng-outsource produksi Crocs. Kebanyakan Crocs sudah dibuat di pabrik-pabrik yang tidak dimiliki oleh pembuat sepatu ini.

Postcomended   Boeing Tandatangani Kesepakatan Selamatkan Antonov

“Di sini (sana) telah muncul beberapa laporan media bahwa Crocs meredakan produksinya di fasilitas manufaktur milik kami,” kata pernyataan itu. “Meskipun akurat, beberapa orang telah menginterpretasikan bahwa itu berarti bahwa Crocs tidak akan lagi membuat dan menjual sepatu. Sebaliknya, Crocs akan terus berinovasi, merancang dan memroduksi sepatu paling nyaman di planet ini.”

“Saat kami menyederhanakan bisnis kami untuk memenuhi permintaan Crocs yang terus meningkat, kami hanya mengalihkan produksi ke pihak ketiga untuk meningkatkan kapasitas produksi kami,” imbuh pernyataan tersebut.

Pabrik-pabrik yang tutup itu memroduksi kurang dari 10 persen dari produk Crocs, kata Steven Marotta, seorang analis di CL King & Associates. Rantai suplai mereka, sebut Marotta, sangat kuat. “Jumlah (sepatu) yang sangat sedikit itu dapat dengan mudah diserap melalui rantai pasokan,” ujarnya.

Outsourcing, Strategi Bisnis

Outsourcing produksi telah menjadi strategi bisnis umum untuk perusahaan pakaian sejak tahun 1980-an. Saat ini, kontrak perusahaan mulai Apple hingga Trump Organization dengan perusahaan  lain untuk memasok barang-barang mereka, sering menjadi kritik dari kalangan pro-buruh.

Postcomended   Dana APBD Mengendap di Bank adalah Kejahatan terhadap Rakyat

Untuk Crocs, outsourcing dapat mempermudah mengubah lini produk dan menanggapi permintaan pelanggan, kata Sam Poser, analis untuk Susquehanna Financial Group. “Katakanlah Anda memiliki pabrik yang hanya membuat Crocs. Ketika pabrik mengalami kesulitan, Anda masih harus membayar sewa dan membayar orang,” ujar Poser. Poser menyebut bahwa perusahaan seperti Nike, dll, tidak satupun memiliki pabrik sendiri.

Rencana putar balik Crocs ini, yang sudah dimulai pada 2014, juga melibatkan penutupan beberapa toko dan lebih berfokus pada penjualan online. Perusahaan menutup sekitar 160 toko selama setahun terakhir, katanya dalam presentasi baru-baru ini kepada investor, dan sudah sekitar 400 hingga saat ini.

Sejauh ini, Wall Street adalah penggemar rencana perubahan haluan ini. Saham Crocs, yang mencapai posisi harga terendah pada April 2017 yakni 6,23 dollar AS, saat ini telah naik tiga kali lipat.***

Share the knowledge