Cus D’Amato tokoh dibalik pukulan maut Mike Tyson #beritahariini

Cus D’Amato tokoh dibalik pukulan maut Mike Tyson #beritahariini

Ekonomi Internasional Keluarga Lifestyle
Share the knowledge

Tanpa Constantino D’Amato, Mike Tyson mungkin tak akan menjadi salah satu petinju kelas berat yang fenomenal di dunia.

Tanpa pria yang kemudian dikenal dengan nama populer Cus D’Amato itu, Tyson mungkin tak akan menjadi juara tinju kelas berat WBC dalam usia muda, 20 tahun dan empat bulan. Tanpa Cus D’Amato, Tyson mungkin tak akan menjadi juara tinju kelas berat termuda yang pernah ada.

Constantine D’Amato dilahirkan dalam keluarga Italia-Amerika di wilayah New York City, Bronx pada 17 Januari 1908. Ayahnya, Damiano, kurir es dan batu bara di Bronx menggunakan kuda dan kereta. Pada usia muda, D’Amato menjadi sangat terlibat dan tertarik pada agama Katolik, dan bahkan dianggap menjadi seorang imam selama masa mudanya. Dia memiliki karir singkat sebagai petinju amatir, berjuang sebagai kelas bulu dan ringan, tetapi tidak dapat memperoleh lisensi profesional karena cedera mata yang dideritanya dalam perkelahian jalanan. Ini didokumentasikan dalam novel biografi Confusing The Enemy.

Dilansir deadline.com Pemenang Oscar Anthony Hopkins telah ditetapkan untuk membintangi biografi ‘Cus, kisah pelatih legendaris Mike Tyson, Cus D’Amato dan bagaimana ia membentuk petarung itu menjadi pemenang gelar termuda termuda yang pernah ada dan salah satu dari petinju paling ganas di generasinya.

Film Patriot Pictures, yang ditetapkan sebagai studi karakter serta biopik olahraga, akan diarahkan dan ditulis oleh The Notebook dan pembuat film John Q, Nick Cassavetes, berdasarkan skenario asli oleh Desmond Nakano, dan buku Mike Tyson : Uang, Mitos, dan Pengkhianatan oleh Montieth Illingworth.

Tapi kok jadinya Bruce  Willis yang berjudul CornerMan, ga tau deh, sampai tulisan ini dipublish redaksi masih mencari source yang bisa menjadi pijakan karya cipta dalam bentuk film buat Constantine D’Amato.
Kita tunggu saja exploitasi/komersialisme dari sebuah sejarah yang biasa dibuat oleh para mata duitan yang selalu haus darah itu.

Beberapa petinju terkenal yang pernah dilatih :

Floyd Patterson
Di bawah pengawasan D’Amato, Floyd Patterson merebut medali emas kelas menengah Olimpiade di pertandingan Helsinki tahun 1952. D’Amato kemudian membimbing Patterson melalui jajaran profesional, bermanuver Patterson untuk memperjuangkan gelar yang dikosongkan oleh Rocky Marciano. Setelah mengalahkan Tommy “Hurricane” Jackson dalam pertarungan eliminasi, Patterson menghadapi Juara Ringan Kelas Berat Archie Moore pada 30 November 1956, untuk Kejuaraan Dunia Kelas Berat. Dia mengalahkan Moore dengan KO dalam lima putaran dan menjadi Juara Dunia Kelas Berat termuda dalam sejarah pada saat itu, pada usia 21 tahun, 10 bulan, tiga minggu dan lima hari. Dia adalah peraih medali emas Olimpiade pertama yang memenangkan gelar kelas berat profesional.
Patterson dan D’Amato berpisah setelah kekalahan KO putaran pertama 1 berturut-turut Patterson dari Sonny Liston, meskipun pengaruhnya terhadap mantan juara dua kali itu sudah mulai berkurang.

Postcomended   Mengejutkan! Skala Prioritas Pernikahan Ternyata Bukan Anak

José Torres
D’Amato juga mengelola José Torres yang pada Mei 1965 di Madison Square Garden, mengalahkan anggota International Boxing Of Fame, Willie Pastrano, untuk menjadi juara kelas berat dunia ringan. Dengan kemenangan itu, Torres menjadi juara tinju dunia Puerto Rico ketiga dalam sejarah dan orang Amerika Latin pertama yang memenangkan gelar kelas berat dunia.

Mike Tyson
Setelah karir Patterson dan Torres berakhir, D’Amato bekerja dalam ketidakjelasan relatif. Dia akhirnya pindah ke Catskill, New York, di mana dia membuka gym, Klub Tinju Catskill. Di sana ia bertemu dan mulai bekerja dengan juara kelas berat masa depan, “Iron” Mike Tyson, yang berada di sekolah reformasi terdekat. Dia mengadopsi Tyson setelah ibu Tyson meninggal. D’Amato melatihnya selama beberapa tahun ke depan, mendorong penggunaan gaya mengintip a-boo, dengan tangan di depan wajah untuk perlindungan lebih. D’Amato secara singkat dibantu oleh Teddy Atlas, dan kemudian Kevin Rooney, seorang anak didik D’Amato, yang menekankan gerakan sulit dipahami.

Tidak jelas pada usia berapa (11 atau 12) Tyson pertama kali tertarik untuk menjadi petinju profesional. “Irlandia” Bobby Stewart, mantan Juara Sarung Tangan Emas, didekati oleh Tyson saat bekerja sebagai penasihat di Tryon School For Boys. Tyson tahu tentang kemuliaan mantan tinju Stewart dan secara khusus meminta untuk berbicara dengan Stewart yang segera mengambil sikap kasar dari subjek setelah menyaksikan perilaku mengerikan Tyson di hari-hari pertamanya di sekolah. Bobby Stewart memperkenalkan Mike Tyson ke D’Amato ketika Tyson berusia sekitar 12 atau 13 tahun, setelah Stewart menyatakan dia telah mengajarkan Tyson semua yang dia bisa tentang teknik dan keterampilan tinju. D’Amato meninggal sedikit lebih dari setahun sebelum Tyson menjadi pemegang gelar kelas berat dunia termuda dalam sejarah pada usia 20 tahun empat bulan, sehingga menggantikan rekor Patterson. [5] Rooney kemudian akan membimbing Tyson ke kejuaraan kelas berat dua belas bulan setelah kematian D’Amato. Cuplikan D’Amato dapat dilihat di Tyson, film dokumenter 2008. Tyson memuji D’Amato karena membangun kepercayaan dirinya dan membimbingnya sebagai figur ayah.

Postcomended   24 Maret dalam Sejarah: Bakteri Tuberkulosis Ditemukan; Penyakit yang Iringi Karya Besar Para Seniman

Cus D’Amato bukan hanya melatih Tyson dalam urusan bertinju, tapi juga menanamkan kedisiplinan, melatihnya mengendalikan diri, mengajari bagaimana menjadi pemenang.

“Ingatlah ini,” kata D ‘Amato berulang-ulang, “disiplin, kendalikan diri, dan jadilah pemenang!”

Mike Tyson berjanji akan mengingatnya.

Tiga resep itu kelak terbukti mampu mengantarkan Tyson menjadi pemenang sesungguhnya—sang petarung paling ditakuti di dunia—yang bisa menjatuhkan lawan mana pun hanya dalam hitungan detik!

Kelak, bertahun-tahun kemudian, Mike Tyson mengenang D’Amato sebagai guru yang luar biasa. “Dia menghancurkan hidup saya,” ujar Tyson, “tapi juga membangunnya kembali.”

Ketika Tyson sedang berlatih keras di bawah bimbingan D’Amato, ibunya sedang sakit keras. Sejak lama, Lorna Smith berjuang menghadapi kanker yang menggerogoti tubuhnya, dan Tyson selalu berharap ibunya mampu melewati masa-masa berat itu. Ia ingin menunjukkan pada ibunya, bahwa anaknya yang bengal bisa menjadi orang yang patut dibanggakan.

Tetapi, harapan Tyson tak terkabul. Sebelum ia sempat memulai karier sebagai petinju profesional, ibunya meninggal.

Sepeninggal sang ibu, Cus D’Amato menjadi wali bagi Tyson. Ia tidak lagi hanya menjadi pelatih, tapi juga menjadi ayah bagi bocah itu. Sayang, D’Amato meninggal, tak lama setelah ibu Tyson wafat. Setelah D’Amato meninggal, Tyson dilatih Kevin Rooney, yang semula menjadi asisten D’Amato. Sama seperti sebelumnya, Tyson terus berlatih keras di bawah bimbingan Rooney.

Akhirnya, pada 1984, ketika berusia 18 tahun, Mike Tyson memulai debut tinju profesional.

Bocah berandal dari Brooklyn itu menghadapi Hector Mercedes sebagai lawan pertama di ring. Tyson mampu menganvaskan lawannya di ronde pertama. Mengalahkan Hector Mercedes membuka jalan bagi Tyson untuk menghadapi lawan-lawan berikutnya. Dan kemenangan demi kemenangan terus ia raih. Hampir semua lawan tersungkur KO. Mike Tyson, si bocah rumahan, berandal bengal, kini mulai dikenal sebagai juara.

Lalu tiba 1986, dan usia Tyson 20 tahun. Itu menjadi waktu penting bagi Tyson, karena ia harus berhadapan dengan Trevor Berbick, juara kelas berat versi WBC. Waktu itu, Berbick bertubuh lebih besar dari Tyson. Tapi Tyson bisa merobohkan sang juara di ronde kedua, sekaligus mencatatkan diri sebagai petinju termuda dalam sejarah, yang berhasil meraih sabuk juara kelas berat dunia. Ia meraihnya dalam usia 20 tahun, 4 bulan, 22 hari.

Postcomended   Gambar Jaringan Tikus Ini Berhasil Memukau Juri Lomba Foto Riset

Sejak itu, para petinju lain mulai ketakutan.

Pada 1987, Tyson memukul KO James Smith, pemegang sabuk kelas berat WBA. Lima bulan kemudian, Tyson menjadi petinju pertama yang berhasil menyatukan seluruh gelar tinju kelas berat, setelah mengalahkan Tony Tucker, pemegang sabuk IBF. Tyson kemudian dikenal sebagai Raja KO. Selama itu, dia berhasil menang 28 kali, dan 26 di antaranya menang dengan KO atau TKO. Dari sejumlah pertarungan, 16 di antaranya menang KO di ronde pertama.

Setelah mengalahkan semua jawara di kelas berat, Tyson kemudian menghadapi para petinju yang mengincar gelar-gelar miliknya. Dari wajah-wajah baru sampai para jawara tua. Dan mereka semua menghadapi nasib sama; jatuh hanya dalam beberapa detik. Bahkan mantan juara kelas berat dunia, Larry Holmes, tersungkur di ronde keempat. Leonel Spinks jatuh dan tak bangun lagi, hanya dalam tempo 91 detik.

Kegarangan Tyson, yang kini dijuluki Si Leher Beton, terus mendunia. Resep Cus D’ Amato terbukti. “Disiplin, kendalikan diri, dan jadilah juara!”

 


Share the knowledge

Leave a Reply