Ekonomi

Dari Konferensi Lingkungan Kolombia: Kepunahan Masal akan Berlanjut

10 | Desember | 2014 | Bunga Rosella Esai-Esai Sains dan Ekologi Sulaiman Djaya - WordPress.com Bali Climate Change Conference 2007

10 | Desember | 2014 | Bunga Rosella Esai-Esai Sains dan Ekologi Sulaiman Djaya – WordPress.com Bali Climate Change Conference 2007

Satu laporan yang disusun oleh hampir 600 ilmuwan selama tiga tahun, mengungkapkan bahwa dunia mengalami degradasi signifikan. Jika Asia-Pasifik dan Afrika bakal kehilangan potensi ikan dan setengah mamalianya, maka populasi spesies di benua Amerika bahkan telah berkurang 31% sejak saat pemukim Eropa pertama tiba di sana, dan akan menyusut terus hingga sekitar 40% pada 2050.

Kesimpulan ini merupakan hasil survei keanekaragaman hayati terluas yang dilakukan sejak 2005, yang bersumber dari
10.000 publikasi ilmiah para ilmuwan relawan. Temuan yang disetujui 129 ilmuwan dari negara-negara anggota IPBES (organisasi kebijakan keilmuan antarpemerintah untuk keanekaragaman hayati dan ekosistem) ini dilaporkan dalam konferensi lingkungan utama di kota Medelline, Kolombia, beberapa hari lalu.

Hal lain yang mengemuka dari laporan survei tersebut adalah, sekitar 500 ribu kilometer persegi tanah Afrika juga diperkirakan mengalami degradasi. Benua hitam ini disebut akan menderita kerugian di sektor tanaman secara signifikan. Danau-danau bakal 20-30 persen menjadi tidak produktif pada 2100.

Didorong Ratifikasi Kesepakatan Perubahan Iklim CNN Indonesia Pemerintah Didorong Ratifikasi Kesepakatan Perubahan Iklim

Didorong Ratifikasi Kesepakatan Perubahan Iklim CNN Indonesia Pemerintah Didorong Ratifikasi Kesepakatan Perubahan Iklim

Sementara itu di Eropa, hanya tinggal tujuh persen dari spesies laut yang dinilai masih memiliki “status konservasi menguntungkan”. “Jika kita terus melakukan cara hidup seperti ini, kepunahan massal keenam –kepunahan pertama pernah disebabkan oleh manusia– akan berlanjut,” ujar Ketua IPBES, Robert Watson, kepada AFP, 23 Maret 2018.

Postcomended   Food Tour Mangga Besar/Tangkiwood Town

Para ilmuwan mengatakan, kerakusan manusia dalam mengonsumsi keanekaragaman hayati, telah menimbulkan kematian spesies massal pertama sejak punahnya dinosaurus, hanya dalam urutan keenam di planet kita dalam setengah miliar tahun ini.

“Tuntutan akan Makin Besar”

Kebun Binatang Tempat Memelihara atau Menyiksa? | Lingkungan | DW ... Deutsche Welle Tanpa Mereka, Manusia Akan Punah

Kebun Binatang Tempat Memelihara atau Menyiksa? | Lingkungan | DW … Deutsche Welle Tanpa Mereka, Manusia Akan Punah

Di banyak tempat, perubahan iklim didorong oleh pembakaran bahan bakar fosil untuk energi yang memperburuk hilangnya keanekaragaman hayati, ungkap laporan iti. “Peran perubahan iklim dalam mengubah alam, telah meningkat dalam 30 tahun terakhir, yang mengubah kemampuan alam dalam berkontribusi terhadap kesejahteraan manusia, dan itu sejauh ini merupakan tekanan pertumbuhan tercepat,” kata Jack Rice, asisten penulis laporan mengenai Amerika.

Postcomended   Media Asing Soroti Peristiwa Keracunan Massal Miras Oplosan: Pelarangan Menimbulkan Pasar Gelap Miras Ilegal

“Ini sepertinya pada 2050 –hanya satu generasi lagi– perubahan iklim akan sekuat tekanan sebagaimana semua cara yang telah dilakukan manusia secara historis dalam mengonversi alam untuk sistem yang didominasi manusia,” papar Rice.

Apalagi, Watson menambahkan, pertumbuhan ekonomi akan terus berlanjut. Pertumbuhan penduduk (juga) akan menerus hingga 2050. Karena itu, permintaan untuk sumber daya pun akan tumbuh. Bahkan dalam skenario terbaik pun, pemanasan global akan terus menambah kerugian spesies, yang akan menyebabkan degradasi ekosistem lebih lanjut.

Tapi para ilmuwan menetapkan solusi yang memungkinkan bagi manusia, yakni dengan menciptakan lebih banyak kawasan lindung, memulihkan zona terdegradasi, dan memikirkan kembali subsidi yang mempromosikan pertanian-tak-berkelanjutan.

Pemerintah, pebisnis, dan individu, harus mempertimbangkan dampak pada keanekaragaman hayati ketika mengambil keputusan di sektor pertanian, perikanan, kehutanan, pertambangan, atau pembangunan infrastruktur. Daerah yang berbeda, kata Watson, akan memerlukan solusi berbeda.

Postcomended   Sarjana dan Tanggung Jawab Intelektual

Watson menegaskan bahwa masih belum terlalu terlambat untuk menghentikan bahkan membalikkan sejumlah kerusakan. “Apakah kita bisa menghentikan semua itu? Tidak. Dapatkah kita secara signifikan memperlambatnya? Ya,” kata Watson menegaskan.

IPBES berencana akan mengeluarkan laporan kelima yakni mengenai keadaan tanah secara global yang mengalami kerusakan cepat akibat polusi, penghancuran hutan, pertambangan, dan metode pertanian tidak berkelanjutan, yang telah menguras nutrisi tanah.(*/AFP/tamat)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top