Indonesia Didesak untuk Hapuskan Hukuman Mati VOA Indonesia1023 × 575Search by image Para pelaku bom Bali, dari kiri: Ali Ghufron, Imam Samudra dan Amrozi Nurhasyim

Indonesia Didesak untuk Hapuskan Hukuman Mati VOA Indonesia1023 × 575Search by image Para pelaku bom Bali, dari kiri: Ali Ghufron, Imam Samudra dan Amrozi Nurhasyim

Hari ini sejumlah peristiwa penting terjadi. Wikipedia melansir: pada 1799 Napoleon merebut kekuasaan di Perancis. Pada 1921, Albert Einstein menerima Nobel Fisika. Tahun 1989, Tembok Berlin yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur, diruntuhkan. Dan peristiwa yang tak kalah menyita perhatian dunia adalah eksekusi mati tiga pelaku Bom Bali I.

Hari ini tahun 2008, tiga pelaku bom Bali I, Amrozi Nurhasyim, Imam Samudra, dan Ali alGhufron.(Mukhlas), menjalani eksekusi mati. Dalam pandangan media Inggris, apa yang dilakukan ketiganya merupakan salah satu kekejaman teroris palingn terkenal di zaman modern.

Bom Bali I pada 2002, meledak di Klub Sari dan Paddy yang terletak di kawasan Kuta. Sebanyak 202 orang, kebanyakan wisatawan asal Australia, tewas.

Ketiga militan Islam tetsebut, demikian Independent menulis dalam laporannya 9 November 2008, yakni Imam Samudra (38), Amrozi Nurhasyim (47) dan Ali Ghufron (48), dijemput jelang tengah malam menuju lokasi eksekusi di hutan yang terletak beberapa kilometer dari penjara mereka di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Postcomended   Bahan Pembuat Bom Panci Mudah Didapat

Kompas melaporkan bahwa ketiga dieksekusi pada dini hari, Minggu ,9 November 2008, sekitar pukul 00.15. Sementara Jasman Panjaitan, juru bicara kantor jaksa agung Indonesia kala itu, seperti dilansir Independent, menyebut ketiganya meninggal sesaat setelah tengah malam, waktu setempat.

Jenazah ketiganya akan dipulangkan ke kota asal mereka. Imam Samudra ke Serang, Jawa Barat, sedangkan Amrozi dan Ali Ghufron ke Lamongan, Jawa Timur.

Imam, Amrozi, dan Ali, dinyatakan bersalah lima tahun sebelumnya, setelah diadili atas tuduhan merencanakan dan membantu melakukan pemboman pada tanggal 12 Oktober 2002 tersebut.

Saat itu, Sabtu malam, klub-klub dan bar-bar di kawasan pantai Kuta penuh sesak saat seorang pembom bunuh diri masuk ke Bar Paddy dan meledakkan dirinya. Beberapa menit kemudian, tak jauh dari Bar Paddy, sebuah bom mobil besar meledak di luar Klub Sari, menangkap sejumlah orang yang melarikan diri dari serangan pertama.

Di antara korban tewas adalah 38 orang Indonesia, 28 warga Inggris, 88 orang Australia dan delapan orang Amerika. Selama persidangan, ketiga militan tersebut mencela keluarga korban dan tidak pernah mengungkapkan penyesalannya, padahal sejumlah Muslim terbunuh juga dalam ledakan tersebut

Postcomended   Serat, Susu, dan Air, Satukan Islam dan Yahudi

Mereka mengatakan, serangan tersebut merupakan pembalasan atas kekejaman yang dilakukan oleh Amerika Serikqt (AS) dan para sekutu Baratnya di Afghanistan dan tempat lain.

Mereka menyatakan harapan, eksekusi mereka akan memicu serangan balas dendam di seluruh Indonesia, sehingga menyebabkan polisi meningkatkan keamanan di kedutaan besar asing, depot minyak, dan resor wisata.

Menanggapi vonis hukuman mati terhadap ketiganya, keluarga korban tewas Bom Bali I rupanya keberatan terhadap eksekusi tersebut. Susanna Miller yang saudara laki-lakinya tewas pada kejadian itu, mengatakan bahwa hukuman mati untuk terorisme jihad, sangat aneh. Karena seolah-olah negara menyeponsori keinginan mereka mati sebagai jihadis.

Brian Deegan, seorang pengacara Australia yang putranya Joshua turut tewas, mengatakan, dia dan putranya menentang hukuman mati. “Tidak ada yang akan mengembalikan anak saya kepada saya, kepada ibunya, keluarga dan teman-temannya, saya melihat bahwa tidak ada yang baik yang akan datang dari eksekusi mereka. Saya hanya melihat kerugian,” tulisnya dalam sebuah surat kepada para pejabat.

Postcomended   5 November dalam Sejarah: Parker Bersaudara Mengeluarkan Permainan Monopoli

Imam, Amrozi dan Ali, adalah tiga dari 30 orang yang dihukum karena kasus Bom Bali I, yang diduga didanai oleh al-Qaidah dan dilakukan oleh kelompok militan Jemaah Islamiyah.

Bom Bali sangat menyulitkan industri pariwisata Indonesia. Walaupun tidak ada serangan besar lagi sejak Bom Bali II pada 2005, Kementerian Luar Negeri RI menganggap ancaman terorisme di Indonesia masih tinggi.***