Kodokushi, fenomena mati karena kesepian di Jepang Artforia Related

Kodokushi, fenomena mati karena kesepian di Jepang Artforia Related

Seorang wanita berusia 76 tahun ditangkap karena meninggalkan mayat suaminya yang berusia 80-an, di rumah mereka di Arakawa Ward, Tokyo, Jepang. Persoalan lansia dan demografi yang menua di Jepang akhir-akhir ini semakin menjadi masalah bagi negeri ini. Bahkan belakangan ini terjadi “tren” kodokusi: mati dalam kesendirian.

Polisi di Arakawa Ward, seperti dilaporkan Fuji TV, mengatakan, mereka menerima telepon sekitar pukul 10.30 pagi dari tetangga wanita itu, dan melaporkan menemukan tubuh seorang pria ada di dalam rumah. Sang tetangga pergi mengunjungi rumah tetangganya karena dia tidak bertemu mereka lebih dari seminggu dan khawatir sesuatu mungkin terjadi pada mereka.

Polisi pergi ke rumah itu dan menemukan tubuh manusia yang membusuk, yang berusia 80-an. Istri pria itu, Katsue Suzuki, yang memiliki mobilitas terbatas di kakinya, dikutip oleh polisi mengatakan suaminya meninggal sekitar seminggu sebelumnya.

Postcomended   Disaksikan Puluhan Ribu Orang, Parade Asian Games 2018 Spektakuler

Dia meninggalkan tubuh suaminya di ruang tamu lantai pertama, karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Polisi mengatakan tidak ada tanda-tanda eksternal cedera pada tubuh dan akan melakukan otopsi untuk menentukan penyebab kematian.

Tren

Tren “Kodokushi”, Mati Dalam Kesendirian Terus Tumbuh di Jepang – HoLiDay majalah-holiday.com Majalah Taiwan Hong Kong berbahasa Indonesia untuk BMI TKI Pelajar Mahasiswa WNI

Lansia menjadi permasalahan pelik di Jepang. Ketika Indonesia menyambut era bonus demografi, dimana mayoritas penduduk akan diisi usia muda yang produktif, Jepang mengalami sebaliknya.

Di Jepang, sebesar 27,7 persen dari populasi berusia lebih dari 65 tahun. Banyak jomblo menyerah mencari pasangan hidup di usia paruh baya. Pemerintah Jepang yang pusing tujuh keliling sampai membentuk komisi perjodohan, untuk mendorong anak muda menikah dan memilik anak banyak-banyak.

Postcomended   Konflik Qatar: Tak Ada Sapi Arab, Sapi Hongaria pun Jadi

Para ahli menyatakan, kombinasi antara budaya Jepang yang unik, sosial, dan faktor demografi bergabung menjadi masalah serius. Kondisi ini antara lain memunculkan “tren” kodokushi di sana, yakni mati dalam kesendirian.(***/japantoday/AFP)

Share the knowledge