DGJNKF0U0AIztVj.jpg TopTwitter.com917 × 516Search by image Menkominfo dan CEO Telegram bahas penanganan konten radikal goo.gl

DGJNKF0U0AIztVj.jpg TopTwitter.com917 × 516Search by image Menkominfo dan CEO Telegram bahas penanganan konten radikal goo.gl

Netizen, khususnya netizen perempuan, heboh atas kedatangan Boss Telegram, Pavel Durov, ke Indonesia menyusul diblokirnya media sosial ini oleh pemerintah. “OMG!!! Mas ganteng @durov ada di siniiii…” ujar akun @Dian_Supolo. Tapi kedatangan Durov ke negeri ini bukan untuk melakukan jumpa penggemar, melainkan melakukan kesepakatan win win solution dengan pemerintah Indonesia. 

“In Jakarta, meeting with local teams brainstorming ways how to eradicate ISIS propaganda more efficiently,” tulis Durov di akun Twitter-nya, saat menginformasikan rencana kehadirannya di Jakarta.

Kesepakatan yang dicapai antara Durov dan pemerintah Indonesia yang diwakili Menteri Komunikaksi dan Informasi, Rudiantara, CEO Telegram itu bersedia mengikuti aturan menutup kanal-kanal berkonten terorisme dan radikalisme, termasuk pornografi. Sementara pemerintah berjanji akan membuka kembali blokir atas Telegram.

Postcomended   Batal Konser di Indonesia, Bieber Lelah atau Religius?

“Kita sudah berdiskusi soal cara-cara memblok propaganda terorisme pada Telegram,” kata Durov setelah akhirnya tiba di Jakarta dan melakukan jumpa pers di Kantor Kemenkominfo, Selasa (1/8/2017). Durov saat itu memakai kaos hitam yang ngepas di tubuhnya.

Durov mengungkapkan, salah satu cara memblok konten-konten tersebut adalah pihaknya akan mensyaratkan pendaftar Telegram untuk menyetujui dan menyepakati syarat tersebut.

Demi hal itu, Durov mengaku akan menambah tim di Telegram yang anggotanya berasal dari Indonesia dan berbicara dalam bahasa Indonesia. Tujuannya agar reaksi dalam mengidentifikasi konten terorisme/ISIS, cepat dan akurat.

Tak hanya Telegram, Kemenkominfo juga akan melakukan pendekatan dengan media sosial lain untuk masalah ini. “Besok akan datang Facebook, Youtube, dan lain-lain,” kata Rudiantara.

Pada 14 Juli 2017, Pemerintah Indonesia memblokir Telegram. Alasannya, Telegram membahayakan keamanan negara karena tidak memenuhi standar konten terorisme. Ada 11 domain Telegram yang dibekukan.

Postcomended   Lagi, Rendang Terlezat! Facebooker Indonesia Kompak?

 

Durov melalui akun Instagramnya memrotes pemblokiran itu. Namun sehari kemudian dia meminta maaf kepada pemerintah Indonesia dengan alasan dia tak membaca email yang dikirim Kemenkominfo kepadanya.

Peneliti dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Nava Nuraniah, mengatakan, hasil riset IPAC menyebutkan aplikasi Telegram memang menjadi alat komunikasi favorit kelompok simpatisan ISIS di Indonesia. Pasalnya percakapan melalui Telegram bebas dari penyadapan dan pantauan pemerintah.

Menurut catatan Nava, ada ratusan kanal publik yang digunakan untuk menyebarkan propaganda ISIS. Satu saluran publik anggotanya bisa tidak terbatas.

Telegram juga digunakan Bahrun Naim, terduga teroris bom Sarinah pada Januari 2016. Bahrun pernah membentuk grup di Telegram untuk berkomunikasi dengan simpatisan ISIS di Indonesia, bahkan mengajarkan cara membuat bom mobil dan meretas kartu kredit.

Postcomended   9, 10, dan 11 Agustus dalam Sejarah: PD II Berakhir

Di Indonesia, sekitar 20 ribu akun baru Telegram dibuka setiap hari. Secara global, pengguna Telegram berkisar 100 juta. ***(ra)