Heru Kurnia, salah seorang deportan ISIS. Heru menceritakan, saat berada di Suriah, dia melihat tubuh manusia tanpa kepala diikat di satu bunderan jam. Kepala mayat itu ditendangi anak-anak. (credit: BNPT)

Usai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggunggah video curhatan para deportan ISIS pada 12 September 2017, dua televisi nasional menyiarkan secara langsung wawancara dengan lima dari 18 deportan tersebut. Para pewawancara, salah satunya adalah Pemred KompasTV, mewakili keheranan khalayak penonton Indonesia mengenai jalan pikiran mereka ketika memutuskan pulang jika jihad tujuan mereka.

“Kenapa pulang?” tanya Pemred KompasTV, Rosiana Silalahi. “Ya karena kami ingin pulang ke Indonesia,” ujar Lasmiati (40), salah seorang dari 18 deportan yang dipulangkan ke Indonesia pada medio Agustus 2017.

Tak puas dengan jawaban itu, Rosiana mencuplik pernyataan keras Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu, yang menyarankan agar WNI yang sudah memilih hengkang dari Indonesia untuk bergabung dengan ISIS baik di Irak, Suriah, maupun Marawi, tidak usah pulang.

“Enggak usah balik lagi. Daripada ngerepotin, biar saja di sana,” kata Ryamizard, 17 Juli lalu. Pada waktu itu beredar video yang dibuat oleh relawan kemanusiaan di kamp pengungsian Raqqa, Suriah, tentang simpatisan ISIS asal Indonesia yang ingin pulang karena kata mereka ISIS sudah menipu mereka.

Saat berada di studio KompasTV dan MetroTV, dua deportan ISIS perempuan memakai penutup muka. Sementara para deportan laki-laki tak memakai sehelai benangpun untuk menutup muka mereka.

Postcomended   Muslim Marawi Ajari Warga Kristen Teriak "Allahu Akbar"

Menjawab pertanyaan Rosiana yang mengutip pernyataan Menhan itu, baik Lasmiati maupun deportan wanita lainnya, Nurshadrina Khaira Dhania (19), terdiam sejenak. Lalu menjawab bahwa itu dulu, sedangkan sekarang mereka sudah berubah. Mereka bahkan bertekad akan memberitahukan siapapun agar tidak tertipu bujuk rayu ISIS di internet; ISIS bukan Islam.

Pada kesempatan itu juga kedua deportan ini menyebutkan bahwa di Suriah mereka hanya akan dijadikan “pabrik” anak.

Sedangkan dalam wawancara dengan MetroTV, diketahui bahwa deportan ISIS bernama Dwi Djoko Wiwoho, pernah menjadi direktur satu perusahaan sebelum berangkat ke Suriah. Menurutnya, dia pergi ke sana karena anak laki-lakinya yang memengaruhi dia.

Si anak mengatakan kepada Dwi, bahwa mencium bau surga pun tidak akan pernah jika hanya diam di Indonesia, begitu kira-kira.

Kesemua deportan itu mengaku bisa keluar dari Suriah dengan bantuan penyelundup. Saat berusaha kabur, Dwi misalnya nyaris mati tertembak saat melalui perbatasan dengan Irak.

Sementara itu, Heru Kurnia (55), baik dalam video BNPT maupun dalam wawancara dengan MetroTV menceritakan kengerian yang dia temui di Suriah. Alih-alih mendapatkan kehidupan yang lebih baik di bawah naungan pemerintahan islami sesuai yang diharapkannya saat berangkat ke sana, Heru malah melihat anak-anak menendangi kepala orang yang dipenggal, bagai bola.

Seperti diberitakan Kompas, pada 12 Agustus lalu, perwakilan pemerintah Indonesia menjemput 18 WNI deportan ISIS di Bandara Soekarno-Hatta. Mereka melakukan perjalanan pulang ke Indonesia dari kota Erbil, Irak.

Postcomended   Rumah Para Pengemplang Pajak Mobil Mewah, Bakal Didatangi

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Rikwanto, menyebutkan, rombongan deportan ini selanjutnya dibawa ke BNPT Sentul Bogor untuk diinterogasi oleh BNPT dan Densus 88 Antiteror.

Kemudian sesuai prosedur, mereka akan mendapatkan pembinaan lebih lanjut dalam rangka pemulihan mentalnya selama satu bulan di Pusat Deradikalisasi BNPT yang berada di komplek IPSC, Bogor.

Ke-18 deportan tersebut adalah:

1. Lasmiati, kelahiran Ngawi, 29 Juli 1977;
2. Muhammad Saad Al Hafs, kelahiran Jakarta, 26 Agustus 2014;
3. MUTSANNA KHALID ALI, kelahiran Jakarta, 26 Januari 2004;
4. Difansa Rachmani, kelahiran Tanjung Redeb, 21 Maret 1986;
5. Muhammad Habibi Abdullah, kelahiran Jakarta, 12 Oktober 2011;
6. Muhammad Ammar Abdurrahman, kelahiran Jakarta, 26 Agustus 2014;
7. Dwi Djoko Wiwoho, kelahiran Medan, 15 Januari 1967;
8. Fauzakatri Djohar Mastedja, kelahiran Padang, 28 April 1959;
9. Febri Ramdhani, kelahiran Jakarta, 19 Februari 1994;
10. Sita Komala, kelahiran Jakarta, 4 Januari 1961;
11. Intan Permanasari Putri, kelahiran Jakarta, 13 September 1989;
12. Sultan Zuffar Kurniaputra, kelahiran Jakarta, 5 Januari 1999;
13. Ratna Nirmala, kelahiran Jakarta, 9 September 1966;
14. Nurshadrina Khaira Dhania, kelahiran Jakarta, 6 April 1998;
15. Heru Kurnia, kelahiran Jakarta, 12 Juli 1962;
16. Tarisha Aqqila Qanita, kelahiran Batam, 4 Oktober 2004;
17. Mohammad Raihan Rafisanjani, kelahiran Jakarta, 2 Februari 1999;
18. Syarafina Nailah, kelahiran Jakarta, 26 Februari 1996.

Postcomended   Dr Zakir Naik Kehilangan Kewarganegaraan dalam Pelariannya

Dalam video berdurasi 12 menit 10 detik yang dirilis di situs BNPT, para mantan simpatisan ISIS mengaku termakan bujuk rayu dan iming-iming yang dijanjikan kelompok teroris tersebut.

“ISIS pembohong, jangan percaya mereka lagi. Semoga ISIS enggak ada lagi, seharusnya damai jangan asal bunuh. Mereka bukan Islam,” kata Mohammad Raihan Rafisanjani (18). Hal sama dikatakan Lasmiati dan deportan lainnya.

Sementara itu pada Rabu (3/9/2017), ada 15 mantan simpatisan ISIS yang sudah insyaf yang dikembalikan ke masyarakat. Kasubdit Bina Dalam Lapas Khusus BNPT, Kolonel Mar. Andy Prasetyo, pada hari yang sama mengatakan, mereka sudah menyatakan penyesalan saat mereka masih di Suriah, dan ingin kembali ke NKRI.

“Identitas mereka sudah hilang seperti KTP dan Kartu Keluarga. Kami berharap para stakeholder yang ada di daerah bisa membantu hak-hak para deportan ini,” ujar Andy seperti dilansir situs BNPT.***