(sumber foto ilustrasi: https://globalnews.ca/news/4190865/canadian-emergency-alert-system-test-phone/)

Dengan bermodalkan smartphone, seorang buzzer yang dibayar Rp 4 juta sebulan sampai Rp 20 juta sekali ngetweet, bias bekerja dimana saja, meskipun “berkantor” di rumah mewah. (sumber foto ilustrasi: https://globalnews.ca/news/4190865/canadian-emergency-alert-system-test-phone/)


Media sosial (medsos) telah melahirkan “profesi” baru: buzzer. Sesuai namanya yang berasal dari bahasa Inggris, buzz, “berdengung”, para buzzer –yang identik dengan pemilik akun bodong di medsos– ini akan mendengungkan misi yang diperintahkan sang boss di medsos, tak terkecuali misi politik suatu kelompok. Seorang anggota dari selusin lebih buzzer yang mendapat “orderan”, diberitahu bahwa misi yang diberikan padanya adalah “perang”, dengan bayaran Rp 4 juta sebulan, bahkan Rp 20 juta sekali tweet.

Dengan sekitar 100 juta pengguna medsos aktif, Indonesia adalah sasaran potensial para buzzer,  tak melulu buzzer politik praktis, melainkan juga promosi/iklan produk. Akan tetapi profesi ini menjadi negatif karena, ketika terkait dengan misi politik praktis, maka isu hoax alias bohong-besarlah yang akan dimainkan. Tak heran jika akun dengan identitas hoax juga yang digunakan, meskipun nama kelompoknya terkadang beredar di udara.

Penelitian yang dilakukan Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) seperti disebutkan di lamannya menyebutkan, salah satu dari banyak cara untuk menyebarkan kata-kata dan menghasilkan percakapan online di media sosial adalah melalui buzzer.

Menurut para peneliti, salah satu definisi umum buzzer adalah: seseorang yang memiliki akun Twitter (atau Facebook, dll) yang memiliki ribuan pengikut yang dibayar untuk berkicau. Meskipun definisinya masih cair, buzzer telah dianggap sebagai bagian penting dalam mendorong wacana online di Indonesia, yang dapat memengaruhi opini publik.

Sementara itu The Guardian dalam laporannya pada Juli lalu menulis dengan lebih lugas bahwa “Tim Buzzer” adalah bagian dari politik yang sedang berkembang, yang membantu memecah belah agama dan ras.

Alex, Saracen, dan MCA

Postcomended   Freeport Akhirnya Menurut Kepada Indonesia

Terkait hal ini, situs berita asal Inggris ini mewawancarai seorang buzzer yang mengaku dari kubu Ahok yang mengaku bernama bernama Alex. Dia dan timnya diberitahu oleh pemberi orderan bahwa “ini adalah perang”.

“Ketika Anda sedang berperang, Anda menggunakan apa pun yang tersedia untuk menyerang lawan,” kata Alex di satu kafe di Jakpus, seraya menambahkan bahwa dia terkadang merasa jijik dengan dirinya sendiri.

Alex mengaku dia adalah salah satu dari lebih dari 20 orang di dalam pasukan maya rahasia yang memompa pesan dari akun medsos palsu untuk mendukung Gubernur DKI Jakarta petahana kala itu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat ia berjuang untuk pemilihan kembali.

“Mereka mengatakan kepada kami bahwa Anda harus memiliki lima akun Facebook, lima akun Twitter dan satu Instagram,” katanya kepada The Guardian. “Dan mereka mengatakan kepada kami untuk merahasiakannya. Mereka mengatakan ini adalah ‘waktu perang’ dan kami harus menjaga medan perang dan tidak memberi tahu siapa pun tentang tempat kami bekerja.”

Pemilu Gubernur DKI Jakarta, yang mengusung tiga kandidat selain Ahok, yang minoritas baik secara etnis dan agama, juga putra mantan presiden Agus Yudhoyono, dan mantan menteri pendidikan, Anies Baswedan, mengaduk-aduk unsur agama dan rasial secara buruk di medsos.

Pertarungan ini memuncak dalam demonstrasi massa Muslim, diwarnai tuduhan bahwa agama digunakan untuk kepentingan politik. Para demonstran ini menyerukan Ahok dipenjara atas tuduhan penodaan agama.

Tentu saja tak hanya kubu Alex yang memperpanas alam maya. Pada Agustus 2017, polisi mengungkap kelompok bernama Saracen. Beberapa bulan kemudian tepatnya Maret 2018, kelompok yang tergabung dalam Muslim Cyber Army (MCA), dibekuk.

Postcomended   Ditjen Pajak: Kak Raffi, Bayar Pajak Mobil Mewahnya Ya

Terkait Saracen, laman Detikcom dalam laporannya pada 29 Agustus 2017 menyebutkan bahwa polisi menemukan kaitan sejumlah grup penyebar hoax dengan Saracen. Salah satunya adalah grup bernama “Keranda Jokowi Ahok”.

Grup ini berisi ujaran kebencian terhadap Presiden Jokowi, berikut foto yang diedit terkait Jokowi dan Ahok. Grup ini akhirnya ditutup seiring dengan penangkapan adminnya. Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Fadil Imran, Maret lalu juga mengatakan, di balik isu-isu kebangkitan PKI dan penyerangan tokoh agama, ada peran Saracen dan MCA.

MCA, menurut The Guardian, mempekerjakan ratusan akun palsu dan anonim untuk menyebarkan konten Islam rasis dan garis keras yang dirancang untuk mengubah pemilih Muslim terhadap Ahok. Sementara Alex mengatakan, timnya dipekerjakan untuk melawan banjir sentimen anti-Ahok, termasuk (menciptakan) hashtag yang mengritik kandidat oposisi, atau menertawakan sekutu Islam mereka.

Tim Alex, yang terdiri dari pendukung Ahok dan mahasiswa yang terpikat oleh bayaran yang menguntungkan sekitar 280 dollar AS sebulan (sekitar Rp 4 juta), diduga bekerja di “rumah mewah” di Menteng, Jakarta Pusat. Mereka masing-masing diberitahu untuk mengirim 60-120 kali cuitan dalam sehari di akun Twitter palsu mereka, dan beberapa kali setiap hari di Facebook.

Alex mengatakan timnya yang terdiri dari 20 orang, masing-masing dengan 11 akun media sosial, akan menghasilkan hingga 2.400 posting di Twitter sehari. Operasi ini dikatakan telah dikoordinasikan melalui grup WhatsApp bernama Pasukan Khusus, yang diperkirakan Alex terdiri dari sekitar 80 anggota. Tim itu memberi makan konten dan hashtag harian untuk dipromosikan.

“Mereka tidak ingin akun tersebut menjadi anonim sehingga mereka meminta kami untuk mengambil foto untuk profil tersebut, jadi kami mengambilnya dari Google, atau terkadang kami menggunakan foto dari teman-teman kami, atau foto dari grup Facebook atau WhatsApp,” kata Alex, seperti dilaporkan The Guardian.

“Mereka juga mendorong kami untuk menggunakan akun wanita cantik untuk menarik perhatian pada materi; banyak akun yang seperti itu. Di Facebook mereka bahkan membuat beberapa akun menggunakan foto profil aktris asing yang terkenal, yang entah kenapa tampak seperti penggemar berat Ahok.

Postcomended   Membaca Pola Evolusi Kanker Menggunakan Kecerdasan Buatan

Dari kediaman di Menteng, mereka beroperasi dari beberapa kamar. “Ruang pertama untuk konten positif, di mana mereka menyebarkan konten positif tentang Ahok. Ruang kedua adalah untuk konten negatif, menyebarkan konten negatif dan pidato kebencian tentang pihak oposisi,” kata Alex, yang mengatakan ia memilih kamar yang positif.

Banyak dari akun tersebut hanya memiliki beberapa ratus pengikut, tetapi dengan mendapatkan tren dari hashtag yang mereka siptakan, sering setiap hari, mereka secara artifisial meningkatkan visibilitas mereka di platform. Dengan memanipulasi Twitter, mereka memengaruhi pengguna asli yang polos di medsos dan media-media mainstream di Indonesia, yang sering mengukur barometer suasana nasional dengan mengacu pada hashtag yang sedang tren(***/bersambung ke sini)

Share the knowledge