Tiga buzzer Saracen setelah dibekuk (sumber foto: https://elshinta.com/news/120396/2015/05/26/aliran-dana-dari-asma-dewi-ke-saracen-diusut)

Tiga buzzer Saracen setelah dibekuk (sumber foto: https://elshinta.com/news/120396/2015/05/26/aliran-dana-dari-asma-dewi-ke-saracen-diusut)

Komunitas buzzer politik saat ini sedang riuh diam-diam. Jelang pemilu presiden (pilpres) 2019, miliaran rupiah bahkan mungkin triliunan, akan bersirkulasi dengan brutal… termasuk kepada para buzzer, “pendengung”, di medsos. Seorang buzzer, seperti dikatakan dalam tulisan pertama, merasa jijik kalau harus mendengungkan hoax. Tapi “hari gini”, banyak yang tak akan menolak jika dengan hanya bermain kata-kata, duduk di depan komputer, atau bahkan bermain smartphone dimanapun, Rp 4 juta sebulan atau Rp 20 juta sekali mencuit, masuk kantong.

The Guardian dalam laporannya Agustus 2018 menulis, seorang pakar strategi media sosial yang mengaku bekerja di tim kampanye melawan Ahok (saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017) mengatakan bahwa berdengung adalah industri besar.

“Beberapa orang dengan akun berpengaruh dibayar sekitar 20 juta rupiah hanya untuk satu tweet (cuitan di Twitter). Atau jika Anda ingin membuat suatu topik yang sedang tren bertahan selama beberapa jam, itu harganya antara 1-4 juta rupiah,” kata si pakar yang mengaku bernama Andi ini, kepada The Guardian.

Pusat Kebijakan Inovasi dan Pemerintahan (CIPG), berdasarkan penelitiannya mengenai industri buzzer di Indonesia yang dipublikasikan banyak media nasional dan asing pada Agustus silam, menyebutkan, buzzer mulai digunakan untuk mempromosikan kepentingan politik pada 2014, yang  digunakan secara luas untuk menyebarkan propaganda selama pilpres tahun itu.

Postcomended   Nama-nama Unik Ini Bikin Senyum-senyum

Para peneliti CIPG juga mengatakan, semua kandidat dalam pemilihan Gubernur Jakarta 2017 (Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) versus Anies Baswedan), menggunakan tim buzzer. Beberapa laporan menunjukkan lusinan buzzer ini  bekerja dalam kelompok untuk membanjiri media sosial dengan propaganda politik untuk mempengaruhi hasil pemilu.

Laman The Guardian menyebutkan, setidaknya satu buzzer dari lawan Ahok dengan terampil menciptakan ratusan bot (program komputer yang dijalankan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan otomatis) yang terhubung, untuk mendukung portal web.

Sementara itu Pradipa Rasidi dari Transparansi Internasional Indonesia, seperti ditulis laman The Guardian Agustus 2018, menunjukkan karakter akun bodong alias palsu. “Pada pandangan pertama mereka tampak normal, tetapi kemudian mereka kebanyakan hanya mencuitkan tentang politik,” katanya.

Seorang juru bicara dari Twitter menolak menyebutkan berapa banyak akun palsu Indonesia yang telah diidentifikasi atau dihapus dari platformnya pada 2017. Perusahaan itu mengatakan telah “mengembangkan teknik baru dan pembelajaran mesin eksklusif untuk mengidentifikasi otomatisasi berbahaya”.

Postcomended   Go-Jek Mulai Main di Bisnis Media

Sementara itu, tim kampanye Anies Baswedan telah menyangkal menggunakan baik akun palsu atau bot. Seorang juru bicara Agus Yudhoyono mengatakan mereka tidak melanggar peraturan kampanye. Namun penyangkalan ini berbeda dengan temuan polisi,

Awal tahun ini, polisi melakukan serangkaian penangkapan terhadap jaringan cyber-jihadis yang mengaku diri sebagai Muslim Cyber ​​Army (MCA), yang menurut penyelidikan The Guardian menggunakan akun semi-otomatis dan buzzer untuk mendorong berita palsu dan menyebarkan konten fitnah politik. Laporan itu mengungkapkan bahwa MCA terkait dengan beberapa partai oposisi, dan diyakini didanai oleh setidaknya satu entitas dengan pengaruh politik.

Salah satu contoh konten politik negatif, katakanlah “black campaign”, yang diduga diproduksi buzzer dengan memanfaatkan sentiment agama adalah ketika Rahmat Effendi –waktu itu cawalkot Bekasi, Jawa Barat– seperti dilansir Al Jazeera dan diteruskan Business Insider, dituduh akan membangun 500 gereja.

“Ada desas-desus dan cerita palsu menyebar dari masjid ke masjid bahwa saya akan membangun 500 gereja dan bahwa perang salib akan terjadi,” kata Effendi kepada Al Jazeera. “Tapi kami telah bertindak cepat bersama polisi untuk menangkap mereka yang bertanggung jawab menyebarkan kebohongan.”

Postcomended   Akun Facebook Anda "Log Out" Sendiri Beberapa Hari Ini? Mungkin Ini Penyebabnya!

Pihak berwenang pun telah membuat gerakan untuk menindak berita palsu dan penyebaran pidato kebencian secara online. Yang menjadi masalah adalah, para buzzer ini sebagian besar telah lolos dari celah-celah karena mereka beroperasi di daerah abu-abu,(***/selesai)

 

Share the knowledge