Internasional

Di Buku Terakhirnya Hawking Memungkinkan Terjadinya “Time Travel”

Stephen Hawking was diagnosed with ALS in 1963 (Credit: Rob Bodman via Telegraph.co.uk)

Stephen Hawking was diagnosed with ALS in 1963 (Credit: Rob Bodman via Telegraph.co.uk)

Tujuh bulan setelah kematiannya, Stephen Hawking masih mewariskan karya terakhirnya: sebuah buku yang kemudian diselesaikan oleh keluarganya. Buku ini memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dikatakan Hawking paling banyak ditanyakan kepadanya sepanjang  waktu hidupnya, salah satunya terkait “time travel”; perjalanan waktu.

Diterbitkan 16 Oktober 2018 lalu, buku fisikawan Inggris ini meninggalkan pembacanya dengan memasukkan keyakinan-keyakinan yang bagi sebagian pihak masih nkontroversial dan  tidak dapat diterima akal. Menurut Hawking di bukunya itu seperti dilansir CNN, kehidupan asing ada di luar sana, kecerdasan buatan dapat mengakali manusia, dan perjalanan waktu tidak dapat dikesampingkan.

Hawking, dianggap sebagai salah satu ilmuwan paling cemerlang di generasinya, meninggal pada bulan Maret pada usia 76 tahun. “Tidak ada Tuhan. Tidak ada yang mengarahkan alam semesta,” tulisnya dalam “Jawaban Singkat untuk Pertanyaan Besar”.

Di bukunya itu Hawking mengatakan, “Selama berabad-abad, diyakini bahwa orang-orang cacat seperti saya hidup di bawah kutukan yang ditimbulkan oleh Tuhan. Saya lebih suka berpikir bahwa semuanya dapat dijelaskan dengan cara lain, oleh hukum alam.”

Postcomended   Gara-gara Bendera, Selandia Baru dan Australia Memanas

Hawking menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), gangguan neurodegenerative yang juga dikenal sebagai Lou Gehrig’s Disease, yang diderita sepanjang masa dewasanya. Kondisi ALS  terjadi saat sistem saraf di mana sel-sel tertentu (neuron) di dalam otak dan sumsum tulang mati secara perlahan.

Hawking meninggal saat masih mengerjakan buku, yang kemudian dituntaskan keluarga dan rekan-rekannya dengan bantuan arsip pribadi Hawking yang sangat luas. Sempat ingin bunuh diri, namun akhirnya Hawking bertahan hidup dengan bantuan komputerisasi dan kecerdasan buatan yang terus diperbaharui mulai oleh Apple dan kemudian Intel.

Sementara Hawking berbicara tentang ketidakpercayaannya pada Tuhan selama hidupnya –identitas keyakinan yang melekat pada Hawking sejak lama– beberapa jawaban lainnya menjadi lebih mengejutkan. “Ada bentuk-bentuk kehidupan cerdas di luar sana,” tulisnya. “Kami harus waspada untuk menjawab kembali (pertanyaan tentang ini) sampai kami telah mengembangkan sedikit lebih jauh.”

Postcomended   Stevie Wonder Bergabung dengan Twitter, Ini Cuitan Petamanya

Dia juga mewacanakan kemungkinan adanya fenomena lain. “Perjalanan kembali ke masa lalu tidak dapat dikesampingkan sesuai dengan pemahaman kami saat ini,” katanya. Dia juga memprediksi bahwa dalam seratus tahun ke depan kita akan dapat melakukan perjalanan ke mana saja di Tata Surya”.

Putri sang ilmuwan, Lucy Hawking, yang membantu menyelesaikan buku itu, mengatakan kepada CNN bahwa ayahnya menyadari orang-orang secara khusus menginginkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Hawking melihat dunia di ambang “perubahan transformatif besar” ketika dia meninggal, kata Lucy. “Dia meminta kami untuk tidak pergi ke masa depan dengan kondisi buta. Seberapa baik rekam jejak umat manusia dalam menggunakan kemajuan teknologi untuk kebaikan orang biasa?”

Dalam sambutannya yang disiapkan oleh Hawking dan dimainkan pada peluncuran buku tersebut di London, Senin (15/10/2018), ilmuwan itu juga memberikan perhatian ke dunia yang ditinggalkannya.
“Dengan Brexit dan Trump sekarang mengerahkan pasukan baru dalam kaitannya dengan imigrasi dan pengembangan pendidikan, kita menyaksikan pemberontakan global terhadap para ahli, dan itu termasuk para ilmuwan,” tulis Hawking.

Postcomended   Facebook Ungkap Data Kebocoran Pengguna yang Lebih Besar #FacebookDown

Hawking pernah menjadi kritikus keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa (Brexit), dan menyebut Donald Trump sebagai “demagog” (pemimpin yang menyesatkan demi kepentingan pribadi) pada 2016.

Pesan terakhir Hawking kepada para pembaca bukunya adalah harapan. Dia berusaha menjawab pertanyaan “Bagaimana kita membentuk masa depan?” yang tercantum pada bab terakhir bukunya. Jawaban Haking: “Ingatlah untuk melihat bintang-bintang dan bukan ke bawah pada kaki Anda.”***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top