Obat PCC Sudah Lama Beredar, Warga Bahkan Punya Julukan Khusus ... Regional Liputan6640 × 355Search by image [Bintang] Gara-gara Obat PCC, Banyak Remaja di Kendari Masuk RSJ

Obat PCC Sudah Lama Beredar, Warga Bahkan Punya Julukan Khusus … Regional Liputan6640 × 355Search by image [Bintang] Gara-gara Obat PCC, Banyak Remaja di Kendari Masuk RSJ

Kendari dilanda wabah PCC. Satu dua hari sebelum puluhan remaja memenuhi rumah-rumah sakit (RS) di kota di Sulawesi Tenggara ini, para orang tua korban sudah melihat keanehan pada anak-anaknya. Korban berinisial A (16) misalnya, sampai dibawa ke dukun karena dikira kesurupan. Sedangkan Reski (20), salah seorang korban tewas, beberapa kali berusaha melompat ke selokan di depan rumahnya.

Akan tetapi, dukun yang memeriksa A, menyatakan A tidak kesurupan. Karenanya Adi Putra, orang tua A, memutuskan membawa anaknya ke RS Jiwa (RSJ).

Sesampainya di RSJ, Adi mengaku kaget. “Ternyata sudah banyak orang, dan keluarga korban yang lain keluhannya sama dengan saya,” jelas Adi, Rabu (13/9/2017) seperti dimuat Kompas.

Sejak kemarin siang, kata Adi, anaknya memang sudah memperlihatkan tingkah laku aneh. Pelajar SMA ini bahkan pulang ke rumah sampai diantar temannya.

Postcomended   13, 14, 15 Agustus dalam Sejarah: Tembok Berlin Dibangun

Sepulang dari sekolah itu, Adi melihat bicara anaknya ngawur dan tidak tenang. “Dia cari perlengkapan sekolahnya dan mondar-mandir terus di dalam rumah,” kata Adi.

Sementara itu, nasib tragis dialami Reski (20). Dia ditemukan tewas di Teluk Kendari, Kamis (14/9/2017).

Sebelumnya, sang ayah, Rauf, mengatakan, Reski dan adiknya, Reza, pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Beberapa kali mereka melompat ke selokan yang ada di depan rumahnya.

Sayang, ketika Rauf sedang berusaha menyelamatkan Reza dengan membawanya ke RSJ, Reski malah berlari laut lalu melompat. Reski ditemukan tim SAR Kendari, Rabu (13/9/2017), dalam keadaan sudah meninggal, bukan karena PCC-nya melainkan karena tenggelam.

Reski dan Reza diketahui meminum obat kependekan dari Paracetamol, Caffein, dan Carisoprodol ini, beberapa butir. Efeknya, Reski kepanasan sehingga melompat ke laut sekitar Teluk Kendari tak jauh dari rumahnya. pada Rabu (13/9/2017).

Rauf menyebutkan, kedua anaknya memperoleh PCC dari orang yang tidak dikenal. Sehari-hari, Reski adalah pengamen di kawasan Teluk Kendari.

Postcomended   Raisa Gelar Acara Siraman, @xraisa6690 : "Sweet Moment with Ayah"

Sementara itu korban lainnya yang sudah keduakalinya mengonsumsi PCC, HN (16), sebelum dibawa ke RSJ, mengaku telah mengonsumsi tiga jenis obat berbeda, yakni Tramadol, Somadril, dan PCC. Tiga jenis obat itu dicampur dan diminum secara bersamaan dengan menggunakan air putih.

Setelah meminum obat itu HN mengaku merasa nyaman. “Enak, tenang kaya terbang,” ujarnya. Sadar-sadar, HN sudah berada di RSJ dalam keadaan diikat karena mengamuk dan berusaha melukai diri sendiri. Tiga jenis obat itu, aku HN, dibelinya seharga total Rp 75 ribu.

Hingga Jumat (15/9/2017), korban penyalahgunaan obat golongan G ini sudah mencapai 76 orang. Detikcom melansir, mereka rata-rata masih remaja. Tiga dinyatakan tewas, termasuk seorang anak yang baru kelas 6 SD, yang tewas padab Selasa (12/9/2017).

Sementara itu, Dir Narkoba Polda Sulawesi Tenggara, Kombes Satria Adhi Permana, mengatakan, Kamis (14/9/2017), delapan orang tersangka pengedar obat sudah ditangkap.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Tenggara (Sultra), Asrum Tombili, menyatakan, pihaknya tidak mengakui PCC sebagai obat, sehingga tidak bisa menyembuhkan.

Postcomended   Indra Piliang Nyabu Buat Meresapi Rasanya Jadi Pemakai

“PCC hanya sebuah produk yang berbentuk obat dan diedarkan secara ilegal,” ungkap Asrum, saat jumpa pers di Kantor BPOM Sultra, Jumat (15/9/2017).

Beberapa tahun yang lalu kata Asrum, PCC memang pernah beredar namun telah ditarik izin edarnya karena lebih banyak mendatangkan kerugian. “Sebenarnya yang ditarik Carisoprodolnya karena menimbulkan efek gangguan kejiwaan,” kata dia.***