Iran uji coba rudal jarak menengah setelah dicemooh Trump - BBC ... BBC1024 × 576Search by image Iran uji coba rudal jarak menengah setelah dicemooh Trump - BBC Indonesia

Iran uji coba rudal jarak menengah setelah dicemooh Trump – BBC … BBC1024 × 576Search by image Iran uji coba rudal jarak menengah setelah dicemooh Trump – BBC Indonesia

Kebawelan Amerika Serikat (AS) melalui mulut presidennya, Donald Trump, telah menciptakan “musuh baru”. Belum lagi selesai pembangkangan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, AS kembali memancing penentangan Iran yang semula sudah “jinak”. Iran mengatakan telah berhasil menguji rudal jarak menengah baru yang diberi nama Khoramshahr. Iran disebut melakukan ini karena ingin menantang ucapan Trump yang menyebut Iran sebagai “small group of rogue regimes”; kelompok kecil rezim begundal. 

Dilansir BBC, bagai menyontek langsung buku teks Korea Utara, Iran mengirim sinyal perlawanan terhadap AS dengan menguji-tembak sebuah rudal baru.

Peluncuran rudal yang memiliki daya jangkau 2.000 km (1.242 mil) ini diperlihatkan di televisi pemerintah. Tidak jelas kapan uji coba tersebut berlangsung.

Jumat (22/9/2017), Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengatakan, Iran akan meningkatkan kekuatan militernya “sebagai pencegah”. Trump pun mengritik peluncuran tersebut dengan mengatakan bahwa rudal tersebut mampu menyerang sekutunya, Israel.

Postcomended   Aleppo pun Menangis

Khoramshahr pertama kali ditampilkan pada sebuah parade militer pada Jumat di ibukota Iran, Tehran. Rudal ini mampu membawa banyak hulu ledak, sebut media Iran.

Menteri Pertahanan Iran, Jenderal Amir Hatami, menyebutkan “spesifikasi unik” rudal tersebut. “Kemampuannya menghindari lini pertahanan udara musuh yang dipandu sejak peluncuran sampai targetnya, menjadikan Khoramshahr rudal yang taktis,” katanya.

Hatami menambahkan, Iran “tidak akan meminta izin dari negara manapun untuk memproduksi berbagai jenis rudal”; sebuah pesan untuk Trump.

Uji coba rudal ini bisa dibilang menjadi ambang batas terhadap resolusi PBB yang menyerukan kepada Iran untuk tidak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan rudal balistik yang dirancang untuk dapat mengirimkan senjata nuklir.

Tes tersebut dilakukan menjelang dua tanggal penting di AS: 1) Administrasi Trump akan mengumumkan rincian strategi vis-a-vis Iran sekitar akhir September. 2) Pada 15 Oktober, Trump harus menyatakan kepada Kongres (DPR-nya AS) bahwa Iran mematuhi kesepakatan nuklir yang diraih bersama enam negara “kekuatan dunia” pada 2015.

Jika Trump menolak memastikan kepatuhan Iran, Kongres akan memiliki 60 hari untuk menjatuhkan sanksi kepada Iran.

Postcomended   Malala Desak Sejawatnya Sesama Peraih Nobel agar Kutuk Kekerasan pada Rohingya

Tes rudal Iran adalah sebuah pesan kepada AS bahwa mereka bertekad mempertahankan diri dengan cara apa pun yang dianggap sesuai. Namun, BBC menganalisis, tes rudal tersebut bisa menjadi kontraproduktif karena opini publik akan membandingkan Iran dengan Korea Utara.

 

Uji coba rudal di Iran adalah sesuatu yang memerlukan persetujuan Rouhani. Karenanya Rouhani dianggap telah terdorong ke satu sudut bersama kelompok garis keras Iran yang melihat cara Korea Utara sebagai reaksi terbaik terhadap retorika Trump, termasuk penghinaan Trump terhadap urusan nuklir Iran.

AS mengumumkan sanksi baru kepada Iran pada Juli lalu atas program rudal balistiknya pada Januari 2017. Peluncuran rudal tersebut dikatakan telah melanggar semangat kesepakatan 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia untuk membatasi program nuklirnya dengan imbalan bantuan kelonggaran sanksi.

Namun Tehran menegaskan, program rudalnya tidak bertentangan dengan kesepakatan tersebut. Dikatakan bahwa misil tersebut tidak dimaksudkan untuk membawa hulu ledak nuklir.

Dalam kicauannya di Twitter, Sabtu, Trump mengritik Iran dan menuduhnya, tanpa merinci, telah bekerja sama dengan rezim Korea Utara.

Postcomended   Apple Ogah Dipaksa FBI Bongkar Kunci iPhone Milik Teroris

Di Majelis Umum PBB minggu ini, para pemimpin AS dan Iran saling serang kata-kata. Trump menyebut Korut dan Iran sebagai “kelompok kecil rezim begundal”.

Rouhani menyesalkan retorika “kebencian, bodoh, dan absurd” pemimpin AS tersebut. Dia mengatakan negaranya bakal “tidak menjadi yang pertama” melanggar kesepakatan tersebut, karena kata Rouhani, ada penandatangan lain dan pemantau internasional yang mengatakan Iran telah mematuhi kesepakatan.

Tak lama setelah pelantikannya sebagai presiden, Trump bersumpah akan mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Dia menganggap kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan enam negara berpengaruh dunia sebagai perjanjian yang sangat buruk.

Sejak 1980, Tehran dan Washington tidak memiliki hubungan diplomatik. Hal itu terjadi menyusul periatiwa penyerbuan kelompok pelajar ke Kedutaan AS setelah terjadi revolusi Islam yang menggulingkan pemerintah sokongan AS di sana.***