Loading...
Internasional

Diwarnai Penentangan Gereja, Taiwan Pertama di Asia Legalkan Pernikahan Sejenis

Share the knowledge

Anti gay marriage protesters display placards during a demonstration outside Parliament in Taipei on May 8, 2019. Photo by Sam Yeh/AFP

Pada 8 Mei lalu, para demonstran anti perkawinan gay menunjukkan poster-poster selama demonstrasi di luar Parlemen di Taipei. Namun upaya mereka dikalahkan hari ini (Photo by Sam Yeh/AFP via https://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/230175-taiwan-unveils-long-awaited-gay-marriage-bill)

Taiwan menjadi yang negara pertama di Asia yang melegalkan pernikahan sesame jenis, setelah DPR Taiwan mengesahkan undang-undang yang mengizinkan pernikahan sesama jenis, Jumat (17/5/2019).

Pemungutan suara yang dilakukan Jumat (17/5/2019), memungkinkan pasangan sesama jenis memiliki hak hukum pernikahan penuh. Artinya, pernikahan akan memberi pasangan homoseksual banyak manfaat pajak, asuransi, hingga hak asuh anak.

Para pembuat undang-undang ditekan oleh kelompok-kelompok LGBT dan juga organisasi-organisasi gereja yang menentang untuk menyetujui sebagian besar rancangan undang-undang yang disponsori pemerintah tersebut yang mengakui pernikahan sesama jenis.

Phil Robertson, wakil direktur Asia untuk Human Rights Watch, menulis di Twitter-nya, “Tindakan Taiwan hari ini harus terdengar sebagai seruan nyaring, memulai gerakan yang lebih besar di seluruh Asia untuk memastikan kesetaraan bagi orang-orang LGBT dan perlindungan proaktif hak-hak mereka oleh pemerintah di seluruh wilayah.”

Postcomended   12 Oktober dalam Sejarah: Columbus Berpikir Telah Sampai di Asia Timur, Ternyata...

Sejak pagi hari Jumat itu, ribuan orang termasuk pasangan sesama jenis, berdemonstrasi di jalan-jalan di luar gedung parlemen sebelum pemungutan suara dilakukan. Banyak yang membawa plakat berwarna pelangi bertuliskan “pemungutan suara tidak dapat gagal”.

Sementara itu para penentang pengesahan undang-undang itu termasuk kelompok-kelompok gereja duduk di bawah tenda di luar gedung parlemen dan memberikan pidato yang hanya mendukung pernikahan normal antara laki-laki dan perempuan. Mereka menekankan pentingnya nilai-nilai keluarga tradisional Cina yang menekankan pentingnya pernikahan dan menghasilkan keturunan.

Pemungutan suara ini seolah menjadi jawaban legislatif atas sikap Mahkamah Konstitusi Taiwan pada Mei 2017 yang mengatakan bahwa konstitusi memperbolehkan pernikahan sesama jenis dan memberi parlemen dua tahun untuk menyesuaikan hukumnya.

Postcomended   KPK Dukung KPU Jegal Mantan Napi Menjadi Caleg

Di Asia, agama, nilai-nilai konservatif, dan sistem politik, menjadi hal yang berhasil menghambat upaya-upaya  menuju pernikahan sesama jenis, mulai dari Jepang hingga sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara. Setelah Taiwan, Thailand dianggap sebagai yang berada pada rel untuk kemungkinan melegalkan kemitraan sipil sesama jenis.

Penerimaan Taiwan atas hubungan homoseksual dimulai pada 1990-an ketika para pemimpin Partai Progresif Demokratik yang berkuasa hari ini yang ingin membanggakan diri sebagai negara dengan masyarakat terbuka. Meskipun diklaim oleh Cina sebagai wilayahnya, Taiwan menolak dan memilih menjadi negara demokrasi mandiri.

Dikuasai oleh Partai Komunis yang otoriter, Cina tetap jauh lebih konservatif dan para pejabatnya berulang kali mengecilkan diskusi-diskusi yang melegalkan pernikahan sesama jenis.

Para penentang pernikahan sesama jenis dari kubu konservatif mengkhawatirkan terjadinya praktik inses, penipuan asuransi, dan anak-anak menjadi bingung memiliki dua ibu atau dua ayah.

Postcomended   American Airlines Baru Minggu Lalu Menyadari Sejumlah Fungsi pada 737 MAX

Pada November 2018, mayoritas pemilih Taiwan menolak pernikahan sesama jenis dalam referendum penasihat. Namun, legislator mendukung RUU tersebut, dan mengatakan itu mengikuti hukum serta semangat referendum.***

Loading...


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Loading...
To Top