Kronologi “Papa Minta Saham” dari Masa ke Masa ArrahmahNews670 × 400Search by image 9 Desember 2015

Kronologi “Papa Minta Saham” dari Masa ke Masa ArrahmahNews670 × 400Search by image 9 Desember 2015

Masih hangat dalam ingatan rakyat Indonesia tatkala anggota Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR-RI, dipanggil “Yang Mulia” oleh para saksi yang hadir dalam kasus “Papa Minta Saham”, pada Desember 2015. Netizen Indonesia di berbagai media sosial sontak heboh, seolah tak sudi anggota dewan disebut dengan sapaan tersebut. Pada pekan kedua September 2017, netizen kembali bergemuruh sinis menanggapi berita seorang anggota Pansus KPK DPR yang meminta dipanggil “Yang Terhormat” oleh KPK.

“Yang terhormat anggota DPR kalau ingin dihormati dan dimuliakan ngaca dulu #savekpk,” tulis pemilik akun Facebook bernama Wiwit.

Facebooker lainnya menulis singkat, “DPR – Dewan PReeettt!”

Seperti ramai diberitakan media, anggota Komisi III DPR F-PDIP, Arteria Dahlan, dalam rapat Panitia Khusus (Pansus) KPK dengan pihak KPK, Senin (11/9/2017), tak terima para komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menghadiri rapat, tidak memanggil anggota DPR dengan sebutan “Yang Terhormat”.

Postcomended   Skandal Setya Novanto: "Tiang Listrik" Mendadak Jadi "Social Media Darling"

“Saya menunggu dari lima Saudara-saudari komisioner, tidak pernah terucap ‘anggota Dewan yang terhormat’. Kami, Pak Jokowi sendiri kalau ketemu, walaupun Arteria masih b***sat, dia katakan ‘yang terhormat’. Pak Kapolri mengatakan ‘yang mulia’,” kata Arteria, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, seperti dikutip Detikcom.

Kelima saudara-saudari yang dimaksud Arteria adalah Ketua KPK, Agus Raharjo, dan emoat komisioner KPK lainnya yakni Basaria Panjaitan, Alexander Marwata, Laode Muhammad Syarif, dan Saut Situmorang.

Selama ini, kata Arteria, DPR membela KPK. Tidak pernah terucap apa yang dilakukan KPK melenceng. “Ini sudah enough-lah,” ucap dia. “Saya aja mau ngomong KPK yang dihormati. KPK nggak mau,” sambungnya.

Postcomended   Walikota Tegal yang Ditangkap KPK Pernah Ikut Kontes Kecantikan

Sebutan Yang Mulia atau Yang Terhormat, sesungguhnya tidak ada dasar hukumnya. Tak pelak muncul anggapan bahwa DPR “gila hormat”.

Terlebih di Twitter pernah viral sebuah foto yang antara lain diposting wartawan senior Gunawan Mohamad, yang menunjukkan sebuah foto bertuliskan permintaan agar anggota MKD dipanggil dengan sebutan “Yang Mulia”.

Tulisan yang ditempel diduga di ruang sidang MKD itu adalah pada masa sidang kasus “Papa Minta Saham”, Desember 2015.

“Perhatian!!!! Bapak/Ibu/Sdr Peserta Sidang Yang Kami Hormati. Jangan Lupa untuk Penyebutan Anggota MKD dengan Sebutan Yang Mulia Pimpinan/Anggota MKD.” Demikian bunyi tulisan tersebut.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia), Luhut Pangaribuan, mengatakan, penyebutan “Yang Mulia” (atau Yang Terhormat), tidak ada dasar hukumnya.

Postcomended   Cekal Setnov Diperpanjang, Berbuah Pelaporan Pimpinan KPK ke Polisi

“Mereka selalu bilang ‘Yang Mulia’ satu sama lain. Pertanyaannya, apakah ini benar menurut hukum kita? Jawabannya tidak benar,” kata Luhut.

Keharusan menyebut Yang Mulia baru muncul dalam Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat RI Nomor 2 tahun 2015. Peraturan ini mengatur tentang Tata Beracara Mahkamah Kehormatan DPR RI.***