Seorang wasit lapangan sedang “meminta” bantuan VAR (sumber foto: quotedbusiness.com)

Pemenang terbesar Piala Dunia FIFA Senin ini (26/6/2018) adalah Spanyol. Namun Negeri Matador ini harus memenangkan Grup B dengan cara dramatis, yakni dengan bantuan video pembantu wasit alias video assistant referee diseingkat VAR.Anak-anak Spanyol tadinya sudah berada di ambang kekalahan 2-1 atas Maroko, sesuatu yang akan menjatuhkan mereka ke tempat kedua di grup di belakang Portugal. Kemudian, di menit ke-91, Iago Aspas mencetak gol yang tampaknya menjadi penentu, namun disebut off-side oleh hakim garis.

Awak VAR lalu melihat lebih dekat. Hasilnya, keputusan off-side hakim garis tersebut, ditolak! Skor akhir Spanyol vs Maroko pun menjadi 2-2.

Sementara itu, di pertandingan Grup B lainnya, penalti saat detik-detik terakhir yang kontroversial yang diberikan setelah tinjauan VAR, memberi Iran goal menentukan melawan Portugal. Pertandingan pun berakhir imbang, 1-1.

Inilah drama baru yang terjadi setelah penerapan VAR. Padahal penerapan teknologi ini menurut menurut seorang warganet bernama Deden di akun Facebook-nya, justru telah memusnahkan peluang terjadinya drama-dama seru yang pernah terjadi dalam sejarah Piala Dunia sepanjang masa, meskipun dia juga “menyambut” peluang terjadinya drama baru atas penerapan VAR.

Deden menulis, “Andai gol ‘siluman’ Geoff Hurst ke gawang Jerman pada Piala Dunia 1966 tak disahkan. Andai gol ‘tangan tuhan’ Maradona ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1986 tak disahkan. Andai gol Lampard ke gawang Jerman pada Piala Dunia 2010 disahkan. Tahun 1966 Inggris juara dunia, Jerman protes tapi tak mengubah hasil. Tahun 1986 Argentina juara, Inggris protes tapi tak mengubah hasil. Tahun 2010 memang juaranya Spanyol, Inggris juga protes atas hasil laga lawan Jerman, tapi tak mengubah hasil. Itulah bagian dari drama di lapangan sepakbola.”

Drama-drama itu, tulis Deden, musnah hanya karena Video Assistant Referee (VAR) pada Piala Dunia 2018. “Alhasil ingin supaya keputusan wasit makin adil dan akurat, tapi Korea Selatan bisa merasakan ketidakadilan saat bola hidup masih berjalan dan pemain siap menembaknya ke gawang Swedia, tiba-tiba wasit menghentikan ‘bola hidup’ itu untuk memberikan penalti kepada Swedia berdasarkan keputusan VAR atas pelanggaran sekitar satu menit sebelumnya. Dan Korea Selatan pun dikalahkan teknologi bernama VAR. Dan itulah drama sebenarnya. Apapun keputusannya, hidup memang penuh drama, termasuk di lapangan sepakbola,” tulis Deden yang juga seorang wartawan daerah ini.

Postcomended   #mudik2018 Lebaran di Banyuwangi, Jangan Lupa Cicipi 10 Kuliner Ini

Temannya bernama Budhiana berkomentar, bahwa justru keasyikan bola itu ada pada relativitasnya manusia, termasuk wasit. “Kata saya mah VAR membuat pertandingan kurang dramatis,” sebut Budhiana.

Dilansir BBC, VAR ditetapkan untuk digunakan di Piala Dunia tahun ini di Rusia setelah anggota parlemen sepak bola memilih untuk menyetujui teknologi tersebut. VAR sebelumnya telah diuji coba di beberapa pertandingan piala domestik Inggris musim ini, dan telah digunakan di Jerman dan Italia.

Postcomended   Empat Bandara Ini Dijadikan Alternatif Parkir Pesawat Delegasi IMF World Bank

Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB), badan pengambil keputusan yang dapat mengubah aturan dalam olahraga, dengan suara bulat menyetujui VAR secara permanen setelah pertemuan di Zurich, Sabtu (3/6/2018). Dengan begitu, semua liga dan kompetisi bola sekarang harus menerapkan VAR.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengatakan, “Mulai hari ini, VAR adalah bagian dari sepakbola,” katanya waktu itu, seraya menyatakan bahwa pihaknya positif tentang VAR.

Salah satu kekhawatiran atas VAR adalah bahwa mereka yang menonton tidak yakin tentang apa yang sedang terjadi, tetapi FIFA mengatakan VAR bekerja pada sistem yang akan memberikan informasi kepada “operator layar raksasa serta penyiar dan komentator” tentang alasan dan hasil dari sebuah ulasan.

The Guardian menulis, awak VAR tidak harus berada di, atau bahkan dekat, stadion. Semua VAR saat percobaan di Bundesliga, misalnya, berbasis di satu pusat media di Cologne.
Namun bagaimanapun ini tetap tidak akan terlepas dari kesalahan manusia. Para pembuat keputusan penggunaan VAR bersikeras bahwa sepakbola harus selamanya mempertahankan rasa ketidakadilannya yang berharga.

Postcomended   Cina Beli Jet Tempur dari Rusia, AS Memblok dengan Sanksi

IFAB menjelaskan, tujuan mereka menerapkan VAR bukan untuk mencapai akurasi 100% untuk semua keputusan, tetapi lebih untuk dengan cepat memperbaiki kesalahan yang jelas dalam situasi yang bisa mengubah pertandingan seperti penalti dan gol. Sementara di setiap area lain yang tidak sensitif, wasit bebas melakukan keputusan sesuai yang diyakininya.(***/tribunenewsservice/BBC/theguardian)

Share the knowledge