Dyah Pitaloka Citraresmi atau Citra Rashmi (1340-1357), bunuh diri untuk membela kehormatan dan harga diri negaranya #beritahariini

Dyah Pitaloka Citraresmi atau Citra Rashmi (1340-1357), bunuh diri untuk membela kehormatan dan harga diri negaranya #beritahariini

#PesonaIndonesia Politik
Share the knowledge

Rombongan kerajaan Sunda berniat untuk bela pati melakukan puputan demi membela kehormatan mereka di Lapangan Bubat. Meskipun memberikan perlawanan dengan gagah berani, rombongan kerajaan Sunda kewalahan dan akhirnya gugur dalam kepungan tentara Majapahit. Hampir seluruh rombongan kerajaan Sunda ditumpas dengan kejam dalam tragedi ini.

Mitos atau fakta, keterangan seperti diatas banyak kita temukan dilingkungan penulis-penulis sejarah nasional yang coba memetakan culture gap yang sampai sekarang terus terpelihara dibenak para anak cucu keturunan sunda dan jawa, bahwa orang sunda laki-laki tidak bisa menikahi perempuan asal jawa.

Kearifan sunda yang memang selalu mengganggu hasrat hegemoni jawa tertanam sejak jaman dahulu kala sebelum terjadinya jaman imperialisme dunia, menjadi sebuah sajian empuk dan dimanfaatkan dengan baik oleh penjajah Belanda sebagai bahan untuk menjalankan politik devide at impera nya di bumi Nusantara.

Sampai tahun 2020 issue sejarah ini terus digulirkan oleh beberapa kelompok yang mungkin punya kepentingan dibalik terminologi ini. Coba sendiri search di embah google dengan query “jalan gajahmada bandung”, About 4,700,000 results (0.80 seconds)  dan dipimpin oleh media-media online yang sekarang merajai browser-browser handphone kita semua. Tapi silahkan kroscek sendiri tanya sama orang kota Bandung, apakah ada jalan gajahmada disana ? Seperti hal nya yang dilakukan penulis, bertanya pada Scott naia sebagai salah satu orang tergabung di grup WA “Saat itu di Madurasa” disamping bandross, gumno, duck, kudil dan hardware, “ah asa euweuh, aya ge jalan gajah dibuah batu”, hardware menambahkan “ti jalan gajah mengkol ka kenca eta jalan mada”. Dibenak mereka tidak sedikitpun kompetensi issue tersebut untuk dibicarakan.

Postcomended   Konser Tembus Pandang - FRAU
 detikNews Ini Alasan Jalan Citraresmi Masuk Rekonsiliasi Sunda-Jawa Images may be subject to copyright. Learn More Related images
detikNews Ini Alasan Jalan Citraresmi Masuk Rekonsiliasi Sunda-Jawa Images may be subject to copyright. Learn More Related images

Dyah Pitaloka Citraresmi atau Citra Rashmi (1340-1357) adalah putri Kerajaan Sunda. Menurut Pararaton, ia dijodohkan dengan Hayam Wuruk, raja Majapahit yang sangat berhasrat untuk menjadikannya sebagai permaisuri. Akan tetapi dalam tragedi Perang Bubat dia melakukan bunuh diri. Tradisi menyebutkan Dyah Pitaloka sebagai gadis yang sangat cantik.

Hayam Wuruk, raja Majapahit, dan dengan didasari alasan politik, ingin menjadikan putri Citra Rashmi (Pitaloka) sebagai istrinya. Ia adalah anak perempuan dari Prabu Maharaja Lingga Buana dari Kerajaan Sunda. Patih Madhu, makcomblang dari Majapahit, datang ke kerajaan Sunda untuk menjodohkan dan melamar tuan putri Sunda dalam suatu pernikahan kerajaan. Berbesar hati serta melihat perjodohan ini sebagai peluang untuk mengikat persekutuan dengan kerajaan Majapahit yang besar dan jaya, raja Sunda dengan suka cita memberikan restunya dan ikut pergi mengantarkan putrinya ke Majapahit untuk dinikahkan dengan Hayam Wuruk.

Pada tahun 1357 rombongan kerajaan Sunda tiba di Majapahit setelah melayari Laut Jawa. Rombongan kerajaan Sunda mendirikan pesanggrahan di Lapangan Bubat di bagian utara Trowulan, Ibu Kota Majapahit. Mereka menantikan jemputan dari pihak Majapahit serta upacara kerajaan yang pantas layaknya pernikahan agung kerajaan. Akan tetapi Gajah Mada, Mahapatih Majapahit, memandang peristiwa ini sebagai kesempatan untuk menaklukan Sunda dibawah kemaharajaan Majapahit, dan bersikeras bahwa Sang Putri tidak akan diangkat menjadi Ratu Majapahit, tetapi hanya menjadi Selir yang dipersembahkan untuk Raja Majapahit, sebagai tanda takluk Kerajaan Sunda di bawah kekuasaan Majapahit. Raja Sunda amat murka dan merasa dipermalukan oleh tuntutan Gajah Mada yang sungguh keterlaluan ini.

Postcomended   Ibukota RI Tak Akan Lagi di Pulau Jawa
 Aji Raksa Aji Raksa: Teori Perang Bubat (Analisa Kitab Kidung Sunda) Images may be subject to copyright. Learn More Related images
Aji Raksa Aji Raksa: Teori Perang Bubat (Analisa Kitab Kidung Sunda) Images may be subject to copyright. Learn More Related images

Menurut tradisi, kematian Dyah Pitaloka diratapi oleh Hayam Wuruk serta segenap rakyat Kerajaan Sunda yang kehilangan sebagian besar keluarga kerajaannya. Oleh masyarakat Sunda kematian Sang Putri dan Raja Sunda dihormati dan dipandang sebagai suatu keberanian dan tindakan mulia untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Ayah Sang Putri, Prabu Maharaja Lingga Buana disanjung dan dihormati oleh masyarakat Sunda dengan gelar “Prabu Wangi” (Bahasa Sunda: Raja yang memiliki nama yang harum) karena tindakan heroiknya membela kehormatan negaranya melawan Majapahit.

Keturunannya, raja-raja Sunda yang kemudian, diberi gelar “Siliwangi” (dari kata Silih Wangi dalam bahasa Sunda berarti: Penerus Prabu Wangi). Tragedi ini sangat merusak hubungan antara kedua kerajaan ini yang berakibat permusuhan hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan kedua negara ini tidak pernah pulih kembali seperti sediakala. Sementara itu di kraton Majapahit, Gajah Mada menghadapi permusuhan dan ketidakpercayaan, karena tindakannya yang ceroboh bertentangan dengan kepentingan keluarga kerajaan Majapahit dan telah melukai perasaan Raja Hayam Wuruk.

Postcomended   9 Juni Dalam Sejarah: Pada 68 Masehi, Kaisar Romawi Nero melakukan bunuh diri setelah mengalami kudeta

Kisah Putri Dyah Pitaloka dan Perang Bubat menjadi tema utama dalam Kidung Sunda. Catatan sejarah mengenai peristiwa Pasunda Bubat disebutkan dalam Pararaton, akan tetapi sama sekali tidak disinggung dalam naskah Nagarakretagama.


Share the knowledge

Leave a Reply

Specify Instagram App ID and Instagram App Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Instagram Login to work