Indonesia, Menuju Takhta E-Commerce Asia Tenggara | Good News from ... Good News from Indonesia1189 × 664Search by image Indonesia, Menuju Takhta E-Commerce Asia Tenggara | Good News from Indonesia

Indonesia, Menuju Takhta E-Commerce Asia Tenggara | Good News from … Good News from Indonesia1189 × 664Search by image Indonesia, Menuju Takhta E-Commerce Asia Tenggara | Good News from Indonesia

Alibaba tampaknya benar-benar cemas atas ekspansi Amazon di Asia Tenggara. Baru awal Agustus 2017 lalu raksasa e-commerce asal Amerika Serikat (AS) ini buka lapak di Singapura, pada 17 Agustus 2017, CEO Tokopedia mengumumkan Alibaba telah menanamkan saham di toko jual beli daring Indonesia ini. Nilainya tak tanggung-tanggung: 1,1 milar dolar AS atau sekitar Rp 14 triliun. Sebelumnya, Alibaba sudah mengakuisisi Lazada besar-besaran pada 2016.

CEO Tokopedia, William Tanuwijaya, pun tak malu-malu lagi mengakuinya. Sebab gosip masuknya Alibaba ke Tokopedia sudah berembus sejak beberapa bulan terakhir, namun waktu itu William masih sering ngeles. “Itu mah bisa-bisanya wartawan saja,” ujarnya.

Namun dengan investasi sebesar itu, Alibaba kata William, hanya akan menjadi pemegang saham minoritas di Tokopedia.

Lebih lanjut William mengatakan, dana investasi tersebut akan dipakai untuk membangun pusat riset yang lebih besar di Indonesia dan terbaik di Asia Tenggara, yang akan memanggil putra terbaik Indonesia agar kembali dan berkiprah membangun Indonesia di kancah dunia.

Postcomended   Perang Narkoba Duterte: Warga Jadi "Pembunuh Bayaran" Demi 5,5 Juta

Selain itu, kemitraan dengan e-commerce milik Jack Ma ini, menurut William, akan meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus mempermudah para penjual dan para mitra Tokopedia mengembangkan usahanya ke seluruh nusantara bahkan dunia. Tokopedia kata William memang memiliki misi pemerataan ekonomi secara digital.

CEO Alibaba Group, Daniel Zhang, dalam keterangan tertulisnya mengatakan, Alibaba dan Tokopedia memiliki kesamaan visi dalam membantu usaha menengah kecil mikro (UMKM). (http://m.inilah.com/news/detail/2398610/tokopedia-diguyur-alibaba-rp14-triliun).

Seperti diketahui, Asia Tenggara dengan jumlah penduduk 620 juta orang, merupakan pasar besar bagi e-commerce. Menurut laporan yang dibuat Google dan Temasek pada 2016, e-commerce di kawasan ini diyakini akan tumbuh dari 5,5 juta dolar AS pada 2015 menjadi 87,8 juta dolar AS pada 2025.(lihat: www.dejournal.id/amazon-tak-ingin-biarkan-alibaba-sendirian-di-asia-tenggara/).

Alibaba menjadi pemain internasional pertama yang memasuki Asia Tenggara melalui Lazada. Alibaba tak bakal membiarkan Amazon merebut begitu saja pasar Asia Tenggara setelah mereka bersaing ketat di India. (www.techcrunch.com/2017/03/24/alibaba-gets-serious-in-southeast-asia/).

Postcomended   Program Keluarga Berencana, Gagal!

Lazada diakuisisi e-commerce terbesar asal Cina tersebut pada 12 April 2016. Para pemegang saham Lazada termasuk Rocket Internet dan Kinnevik, sudah melepas semua sahamnya ke Alibaba. Tesco, operator supermarket asal Inggris, masih memiliki saham di Lazada sebesar 8,3 persen.

Nilai total investasi Alibaba di Lazada mencapai kisaran 1 miliar dollar AS, sedikit lebih kecil dari investasi di Tokopedia. (http://tekno.kompas.com/read/2016/04/12/14233257/Raksasa.E-commerce.China.Alibaba.Akuisisi.Lazada).

Untuk menghapus penghalang di Asia Tenggara, boss besar Alibaba, Jack Ma, diketahui telah beramah tamah tahun lalu (2016) dengan sejumlah kepala negara di negara-negara kunci kawasan Asia Tenggara, termasuk Singapura, Thailand, dan Indonesia.

Sementara itu dengan Malaysia, sejak Jack diangkat pemerintah negeri jiran ini sebagai penasihat ekonominya, tepatnya November 2016, Jack mulai menghasilkan buah pertamanya. Pemerintah Malaysia bersedia bermitra dengan Alibaba, yakni melalui e-commerce Cainiao (logistik), Ant Financial (fintech), dan Lazada.

Hal ini dilakukan untuk menghilangkan hambatan birokrasi dan hambatan seputar lintas batas e-commerce di negara ini.

Postcomended   Ibukota yang Ditinggalkan itu Kini Padat Lagi

Zona Malaysia nantinya akan terhubung dengan zona yang ada di Hangzhou (lokasi markas Alibaba di Cina), untuk memungkinkan pertukaran barang lebih bebas antara Malaysia dan Cina dan membuka peluang ekonomi dan sosial.

Keterlibatan kantor pusat Alibaba secara langsung ini menunjukkan bahwa proyek ini sangat strategis bagi tujuan Alibaba untuk menghubungkan Asia Tenggara dengan Cina.(www.techcrunch.com/2017/03/24/alibaba-gets-serious-in-southeast-asia/).***(ra)

 

Share the knowledge