Internasional

Edward Snowden Mengemis Suaka kepada Prancis dan Jerman

Share the knowledge

Edward Snowden (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=KQ4UvlQE3-8)

Edward Snowden (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=KQ4UvlQE3-8)

Mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional AS (NSA), Edward Snowden, yang membocorkan dokumen rahasia yang merinci program pengawasan oleh pemerintah, memohon suaka kepada Presiden Prancis. Sebelumnya, Snowden juga mengharapkan suaka politik di Jerman.

Dilansir The Associate Press, Snowden, yang sekarang tinggal di Rusia untuk menghindari penuntutan di Amerika Serikat (AS), menekankan dalam wawancara yang disiarkan Senin (16/9/2019) di radio Inter Prancis bahwa “melindungi pelapor bukanlah tindakan bermusuhan” dan bahwa dia merasa berhak mendapatkan status dilindungi di Prancis.

Snowden gagal mengajukan permohonan suaka di Prancis pada 2013 di bawah pendahulu Presiden Emmanuel Macron, yakni Francois Hollande. Dia juga mencari suaka di beberapa negara lain. Kepresidenan Prancis belum berkomentar.

Dua hari lalu, peniup peluit (whistleblower) AS ini, juga menyatakan sekali lagi minatnya untuk mencari suaka politik di Jerman, seraya memperingatkan bahwa jika dia mati, itu bukan hasil dari bunuh diri –untuk tak mengatakan kemungkinan dibunuh.

Laman Deutschewelle (DW) melaporkan, dalam sebuah wawancara dia mengaku masih menginginkan suaka politik di Jerman. Menggunakan frasa sama dengan saat diwawancara radio Prancis, Snowden mengatakan, “Jika Jerman memberi saya suaka, itu tidak akan dipandang sebagai tindakan bermusuhan terhadap AS.” Snowden mengatakan hal itu kepada surat kabar Jerman, Die Welt.

Snowden mengritik Jerman dan Prancis karena tidak melakukan apa pun untuk mendukung kasusnya sejauh ini. “Pemerintah kedua negara ini mencari alasan untuk menghentikan saya datang,” katanya. Snowden juga menegaskan bahwa dia tidak mengungkapkan apa pun yang membahayakan nyawa orang.

Postcomended   Kepuasan Berlebihan Telah Membunuh Harapan Piala Dunia Jerman

Snowden sebelumnya mencari suaka dari sejumlah negara, termasuk Jerman, meskipun tidak berhasil. Mantan kontraktor NSA ini telah tinggal di pengasingan di Rusia selama enam tahun terakhir. Sejak dia membocorkan rincian “program pengawasan global pemerintah AS yang rahasia dan ekstensif” pada 2013, AS telah menganggapnya sebagai musuh negara dan menamparnya dengan tuduhan spionase.

Dalam wawancara terpisah dengan majalah berita Jerman, Der Spiegel, dia mengatakan bahwa jika dia ditemukan mati itu tidak akan menjadi hasil bunuh diri. “Aku punya keberatan filosofis dengan gagasan bunuh diri, jadi jika aku jatuh dari jendela, bisa dipastikan aku didorong,” ujarnya.

Postcomended   22 November dalam Sejarah: Di Hari ke-17 Menjabat Presiden, Rene Moawad Tewas Dibom

Informasi Snowden menyebabkan penggunaan teknologi enkripsi yang lebih luas dan perbaikan praktik transfer data dari Eropa ke AS. Tindakan Snowden pada 2013 memicu perdebatan besar tentang tingkat pengawasan pemerintah oleh badan-badan intelijen.

Para pejabat AS yang melakukan penilaian tahunan diklasifikasikan sebagai kerusakan dari pengungkapan Snowden mengatakan dokumen akan terus mengalir ke domain publik selama bertahun-tahun yang akan datang.

Rilis Memoar Kisah Hidupnya

Selasa (17/9/2019), Snowden (akan) merilis buku memoarnya yang menceritakan hidupnya secara rinci untuk pertama kalinya. Buku berjudul “Permanent Record” ini akan dirilis di sekitar 20 negara, termasuk Prancis.

Buku ini sejauh ini menawarkan informasi paling luas dan pribadi tentang bagaimana Snowden datang untuk mengungkapkan perincian rahasia tentang kumpulan massa pemerintah tentang email, panggilan telepon, dan aktivitas Internet pemerintah atas nama keamanan nasional.

Buku ini mengisahkan evolusi Snowden sejak kecil, dari tumbuh pada 1980-an di North Carolina dan pinggiran kota Washington, di mana ibunya bekerja sebagai juru tulis di NSA dan ayahnya bertugas di Coast Guard.

Postcomended   Nitilaku Kebangsaan 17 Desember 2017

Meskipun buku ini muncul enam tahun setelah pengungkapannya, Snowden mencoba dalam memoarnya untuk menempatkan keprihatinannya dalam konteks kontemporer. Dia membunyikan alarm tentang apa yang dia lihat sebagai upaya pemerintah di seluruh dunia untuk mendelegitimasi jurnalisme, menekan hak asasi manusia dan mendukung gerakan otoriter.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top