Atraksi Ekowisata di Tangkahan Sumatera Utara (sumber Kompas.com)

Atraksi Ekowisata di Tangkahan Sumatera Utara (sumber Kompas.com)

Tren wisata dunia salah satunya mengarah ke wisata berbasis alam dan ramah lingkungan. Banyak orang mengenal tipe wisata ini dengan istilah ekowisata. Ekowisata merupakan istilah ideal bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak alam bahkan justru menjadi pengungkit bagi upaya pelestarian alam yang lebih optimal.

Ada beberapa poin penting dari ekowisata yang berasal dari kata ecotourism. Berikut pengertin ekowisata dari Wikipedia yang lebih mudah dipahami secara umum. Ecotourism is a form of tourisminvolving visiting fragile, pristine, and relatively undisturbed natural areas, intended as a low-impact and often small scale alternative to standard commercial mass tourism. It means responsible travel to natural areas conserving the environment and improving the well-being of the local people. Its purpose may be to educate the traveler, to provide funds for ecological conservation, to directly benefit the economic developmentand political empowerment of local communities, or to foster respect for different cultures and for human rights (baca tentang ecotourism di sini).

Ekowisata berawal dari keprihatinan dunia terhadap kerusakan lingkungan yang salah satunya diakibatkan oleh pembangunan infrastruktur pariwisata yang serampangan. Menjamurnya bangunan hotel dan vila di kawasan hijau adalah salah satu hal yang mendorong bangkitnya kesadaran lingkungan pengelola wisata. Termasuk juga mulai terkikisnya nilai tradisi dan budaya lokal akibat komersialisasi wisata. (Baca  Perkiraan Tren Pariwisata Indonesia 2015disini)

Penulis pernah menjadi salah satu tim ahli yang mendampingi lembaga pengelolaan hutan tingkat tapak di beberapa Kabupaten di Sumatera Utara (Sumut) untuk membuat rencana pengelolaan hutan jangka panjang pada akhir Desember 2017.  Semua wilayah dibawah pengelolaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) memiliki program kerja pengembangan ekowisata. Ini mengindikasikan bahwa ekowisata menjadi alternatif terbaik bagi pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sangat tepat dengan visi pembangunan kehutanan nasional yaitu “Hutan Lestari dan Rakyat Sejahtera”. Apalagi provinsi Sumatera Utara sangat kaya dengan keindahan alam, budaya, etnis dan kehidupan toleransi dalam keberagaman.

Postcomended   Rayakan Hari Kopi, Kemenperin terus Tingkatkan Ekspor Kopi Nasional

Pengelolaan ekowisata bukan tanpa kendala. Banyak lokasi ekowisata yang lebih mengakomodir keinginan wisatawan mancanegara dari negara barat yang mayoritas nonmuslim. Pengalaman saya berkeliling di beberapa lokasi ekowisata di Sumut, fasilitas bagi turis mancanegara dari Barat begitu mudah ditemukan termasuk makanan dan minuman. Sebut saja minuman beralkohol dan cara berpakaian yang sangat terbuka. Pengelola ekowisata cenderung membuka diri dan kadang memaksakan diri dengan melonggarkan aturan konsumsi minuman beralkohol dan tata cara pakaian ala Barat di daerah wisata. Padahal lokasi ekowisata tersebut banyak pemeluk agama Islam dan masih memiliki budaya ketimuran termasuk dalam hal berpakaian dan pergaulan.

Fenomena begitu terbukanya penerapan budaya asing di lokasi ekowisata bisa berimplikasi pada menurunnya minat wisatawan yang menginginkan wisata halal. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang sangat besar sebagai destinasi pariwisata halal skala global. Wisatawan muslim domestik  maupun wisatwan dari negeri muslim umumnya enggan berwisata ke tempat yang tidak menyediakan suasana dan tempat yang aman bagi terpeliharanya suasana keagamaan yang mendukung.

Wisatawan muslim tetap merasa resah bila perjalanan wisatanya tidak menjamin terpeliharanya aktivitas ibadah dan syariah yang mereka yakini meski berada di tempat yang sangat indah. Bukankah bagi seorang muslim, berkunjung ke tempat wisata bisa merupakan sarana lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Pencipta dan Yang Maha Besar. Bukan sebaliknya, malah terjerumus pada perbuatan dosa atau lalai dalam mengingat-Nya.

Misalnya, ketika berkunjung ke lokasi wisata Danau Toba, sebagai salah satu lokasi ekowisata terbesar yang menjadi tujuan pariwisata dunia yang dimiliki Indonesia. Di situ wisatawan akan melihat betapa kekuasaan Allah demikian besar sehingga terbentuklah danau yang begitu luas dengan bentang alam yang sangat menakjubkan. Dengan melihat Danau Toba, muncullah kesadaran bahwa Tuhan begitu besar kuasanya dan Tuhan sangat indah dan menyukai keindahan. Dari perenungan tentang Danau Toba tersebut maka terbaharuilah iman wisatawan.

Danau Toba Sumatera Utara (sumber Kompas.com)
Danau Toba Sumatera Utara (sumber Kompas.com)

Contoh lain adalah ekowisata di Tangkahan Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Di situ wisatawan dapat melihat keindahan hutan hujan tropis, atraksi gajah, pantai kupu-kupu dan sungai yang sangat jernih. Keindahan alam yang sangat alami dan menakjubkan di Tangkahan ini, bisa membantu menjernihkan jiwa sehingga makin dekat dengan Tuhan.

Postcomended   Waspadalah, Serangan "WannaCry" Berikutnya Mungkin Lebih Besar

Alangkah baiknya bila spriritualitas yang meningkat dari wisawatan ekowisata ini tetap “lestari” dengan pelayanan pariwisata dan “nyambung” dengan suasana spritulitas ini. Pada saat iman meningkat, akan sangat bertentangan bila pengelola malah menyuguhkan suasana yang tidak halal menurut pengunjung muslim atau menyalahi budaya ketimuran. Saat suasana hati dekat dengan Tuhan ketika menikmati atrakasi pariwisata yang mengagumkan, maka suasana ini bisa terus bersambung dengan sarana ibadah yang nyaman, makanan halal yang lezat dan suasana penginapan yang aman syar’i serta lokasi yang terjaga adab yang tidak menyalahi syariah.

Di situlah indahnya berwisata halal di lokasi ekowisata. Alam terjaga, hutan lestari, masyarakat makin sejahtera dan iman terjaga. Bagaimana mewujudkan sinergi dua misi ini, lestari iman dan alam?

Salah satu wilayah di Indonesia yang sudah sukses dengan sinergi dua misi ini adalah Nusa Tenggara Barat (NTB). Menurut Gubernur NTB Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Zainul Majdi atau dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bajang, kunjungan wisatawan di NTB menunjukan tren peningkatan setiap tahunnya. Data 2015-2016 menunjukan adanya kenaikan cukup signifikan dari kunjungan wisatawan dari Timur Tengah yang meningkat hingga 190 persen, sedangkan dari Malaysia melonjak sebanyak 34 persen. Tahun ini, NTB menargetkan tingkat kunjungan wisatawan mencapai 3,5 juta, atau meningkat dibanding tahun sebelumnya yang sebanyak 3 juta wisatawan.  (Baca Ini Kunci Sukses Kembangkan Wisata Alam di NTBdisini)

Postcomended   Surveyor Indonesia Resmikan Laboratorium Lingkungan dan Preparasi Batubara Cabang Palembang

Kunci penerapan ekowisata halal adalah keberanian dari pengelola dengan dukungan pemerintah setempat, seperti yang diungkapkan oleh Gubernur NTB. Ekowisata halal harus berani memperbaiki image dari wisata bebas sebebas alam menjadi wisata alam dan iman. Hal ini membutuhkan dukungan banyak pihak dan dijalankan bertahap sesuai pemahaman masyarakat.

Meski tidak semua lokasi ekowisata harus menerapkan konsep wisata halal, namun penerapan wisata halan di lokasi ekowisata memiliki banyak dampak sampingan. Selain mampu menjaga keamanan suasana spiritual, melestarikan lingkungan, meningkatkan pendapatan masyarakat, juga mampu menjaga membangkitkan semangat keberagamaan dalam segala kondisi. Seperti saat berkunjung ke Danau Toba yang masyarakat sekitar lokasi wisata tersebut banyak yang non-Muslim, namun wisatwan muslim tetap nyaman, terjaga dan terjamin tetap bisa merasakan suasana spiritual di lokasi wisata. Wisatawan muslim bisa dengan mudah menemukan tempat shalat, kuliner halal dan pakaian yang sopan dari warga.

Dengan ekowisata halal, kita wujudkan alam lestari, masyarakat relijius dan masyarakat sejahtera.

 

 

 

 

 

Penulis Achmad Siddik