Ekonomi

Emas Berkilau Lagi!


Menjelang akhir 2018, emas
tampaknya mulai kembali mendapatkan kilaunya, setelah pada sebagian besar 2018, logam mulia ini kehilangan daya tariknya untuk investasi.

Komoditas ini cenderung dapat bertahan dengan baik pada saat terjadi gejolak moneter seperti yang terjadi akhir-akhir ini, membuatnya menjadi jenis investasi yang sangat menarik ketika kekhawatiran akan inflasi menguat seperti sekarang. Kabar buruknya –misalnya bagi negara seperti Indonesia– naiknya reputasi emas biasanya berimplikasi pada menguatnya dollar AS.

 

Menurut laporan kinerja Oktober 2018, seperti dilaporkan laman CNN, harga emas naik 3,5% sejak awal Oktober. Selama periode yang sama, S & P 500 telah jatuh 6,5%, dan upah tumbuh tercepat sejak 2009. Emas adalah komoditi yang sangat menarik bagi bank-bank sentral yang mencari aset yang aman dan likuid.

Pembelian emas oleh bank-bank sentral emas meningkat sebesar 22% selama kuartal ketiga. Ini adalah laju tercepat sejak kuartal keempat 2015, menurut Natalie Dempster, managing director untuk bank sentral dan kebijakan publik di World Gold Council (WGC).

Dempster mencatat, selama beberapa tahun terakhir, sebagian besar pembelian emas dilakukan oleh Rusia, Turki, dan Kazakhstan, yang  masih merupakan pembeli emas terbesar. Sementara itu, negara-negara seperti India, Polandia dan Hungaria, telah agresif menaikkan pembelian akhir-akhir ini. Tetapi yang paling menarik perhatian adalah pembelian oleh bank-bank sentral.

Postcomended   8 Juli dalam Sejarah: Erector Set Dipatenkan dan Menjadi Mainan Terpopuler Sepanjang Masa

Bank Sentral Borong Emas

Kepada CNN Business, Dempster mengatakan, cerita besar saat ini untuk emas adalah bank-bank sentral yang memborong emas. “Laju pembelian (oleh bank-bank sentral) benar-benar meningkat dan meluas,” ujarnya. Investor telah memperhatikan, saham Newmont Mining (NEM) –saham pertambangan emas di S & P 500– naik hampir 7% sejak awal Oktober.

EPFR Global, lembaga pendanaan yang melacak uang masuk dan keluar dari reksa dana, mengungkapkan, reksa dana berbasis komoditas telah menarik lebih banyak investasi minggu lalu terutama karena meningkatnya permintaan untuk emas.

Komoditas tambang ini disebut mulai berkinerja baik bahkan ketika komoditas lain yang lebih sensitif secara ekonomi masih stagnan bahkan cenderung negatif. Harga bahan tambang lainnya seperti minyak dan tembaga misalnya,  jatuh pada Oktober lalu.

Postcomended   Setelah Lebih dari 20 Tahun, Robert de Niro Kembali Bercerai

Dempster memperkirakan tren kenaikan harga emas akan terus berlanjut karena investor dari Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan minat lebih, terutama karena bank sentral AS, Federal Reserve, diperkirakan akan terus menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi. Itu bisa membuat dolar AS dan emas lebih menarik sebagai tempat “menyembunyikan” dana dalam kondisi yang penuh ketidakpastian.

WGC melaporkan, permintaan emas batangan dan emas koin di AS melonjak 74% pada kuartal ketiga. “Gejolak pasar saham telah mendorong lebih banyak orang lari ke (membeli) emas. Setiap goyangan lebih lanjut di Wall Street dapat menyebabkan lebih banyak permintaan untuk emas,” katanya.

Namun, emas memiliki jalan panjang sebelum kembali ke level tertingginya pada awal tahun ini; kondisi terakhir kali ketika investor panik akan inflasi. Emas diperdagangkan di atas 1.350 dollar AS per troy ons pada bulan Februari. Sekarang diperdagangkan sekitar 1,230 dollar AS.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top