Edisi Hari Bumi: Ilmuwan Temukan Enzim Pemakan Sampah Plastik ... Tribun Jogja - Tribunnews.com Edisi Hari Bumi: Ilmuwan Temukan Enzim Pemakan Sampah Plastik

Edisi Hari Bumi: Ilmuwan Temukan Enzim Pemakan Sampah Plastik … Tribun Jogja – Tribunnews.com Edisi Hari Bumi: Ilmuwan Temukan Enzim Pemakan Sampah Plastik

Hati lega bukan, jika kemasan plastik bekas minuman diambil pemulung. Untuk apa? Didaur ulang pastinya. Menurut informasi yang beredar, plastik-plastik bekas minuman ini, yang biasanya berkualifikasi PET, akan didaur ulang antara lain sebagai bahan pembuat karpet, tas,

hingga pakaian (baju hangat). Namun itu hanya 30 persen dari keseluruhan sampah botol plastik. Selebihnya, menjadi beban Bumi. Padahal butuh ratusan tahun untuk Bumi mengurainya. Menyadari ini, para ilmuwan tak henti memutar otak. Salah satu hasilnya: enzim pencerna PET yang dinamakan PETase; bakteri pemakan plastik yang mampu mengurai plastik hanya dalam beberapa hari.

PET adalah plastik kuat yang biasa digunakan untuk membuat botol, yang merupakan kependekan dari Polietilena tereftalat (bisa juga disingkat PETE atau PETP atau PET-P). PET merupakan resin polimer plastik termoplast dari kelompok poliester. Poliester, diproduksi secara industri dari minyak bumi, yang banyak digunakan untuk membuat botol plastik dan pakaian.

Para ilmuwan di Inggris, dikabarkan telah memodifikasi enzim alami yang dapat mencerna sejumlah jenis plastik yang paling sering mencemari ini. Enzim termodifikasi ini, yang dinamakan PETase, disebut dapat mulai memecah bahan PET hanya dalam beberapa hari.

Kabar ini memunculkan harapan bagi revolusi proses daur ulang, yang memungkinkan plastik digunakan kembali dengan lebih efektif.

Postcomended   Hati-hati, Gegar Otak Bisa Menjadi Pemicu Parkinson

Enzim yang awalnya ditemukan di Jepang ini, diproduksi oleh bakteri yang “memakan” PET. Bakteri tersebut, Ideonella sakaiensis, diketahui menggunakan plastik sebagai sumber energi utamanya.

Sebelumnya, para peneliti melaporkan pada 2016 bahwa mereka telah menemukan strain yang tinggal pada sedimen (endapan) di tempat daur ulang botol di kota pelabuhan Sakai, Jepang.

“(Sampah PET) hanya ada dalam jumlah besar selama 50 tahun terakhir, jadi sebenarnya bukan skala waktu yang lama bagi bakteri untuk berevolusi untuk memakan sesuatu yang buatan manusia sekali,” komentar Prof John McGeehan, yang terlibat dalam studi ini.

Poliester sebenarnya terbentuk secara alami di alam. Mereka, kata peneliti Universitas Portsmouth ini, melindungi daun pada tanaman. “Bakteri telah berevolusi selama jutaan tahun untuk memakannya,” ungkap McGeehan.

Namun, peralihan ke (memakan) PET “sangat tidak terduga”. Atas dasar itu, tim ilmuwan internasional mulai mempelajari bagaimana enzim PETase ini berevolusi, dengan harapan dapat meningkatkan kinerja mereka memakan PET.

Mereka kemudian menciptakan sebuah model tiga dimensi definisi tinggi dari enzim tersebut dengan menggunakan sinar x-ray yang kuat di Diamond Light Source di Oxfordshire, Inggris. Begitu mereka memahami strukturnya, tim mencatat bahwa mereka dapat meningkatkan kinerja PETase dengan menyesuaikan beberapa residu di permukaannya.

Postcomended   Amnesty Internasional: Militan Rohingya Juga Bantai Etnis Hindu

Ini menunjukkan bahwa enzim alami belum sepenuhnya dioptimalkan dan ada potensi untuk memproduksinya. PETase juga diuji pada plastik PEF, satu alternatif berbasis tanaman yang diusulkan untuk PET yang sama-sama lambat untuk menurunkan sifatnya.

“Kami benar-benar terkejut ketika kami melakukan eksperimen tersebut karena (enzim) benar-benar bekerja lebih baik pada PEF daripada PET,” kata McGeehan kepada BBC News. Tim peneliti itu selain melibatkan guru besar, juga mahasiswa PhD, dan mahasiswa S1.

McGeehan menjelaskan, proses daur ulang yang saat ini dilakukan pada botol bekas adalah dijadikan bahan pembuat baju hangat, karpet (dll), namun tetap saja setelah itu mereka berakhir juga di tempat sampah. Dengan PETase, poliester dapat dipecah dalam beberapa hari.

Mereka (enzim PETase) bisa digunakan untuk membuat lebih banyak plastik tanpa menggunakan lebih banyak minyak. Maka pada dasarnya kita akan menutup loop (lingkaran setan). “Kami benar-benar memiliki daur ulang yang tepat,” jelas McGeehan.

Enzim ini kata McGeehan dalam beberapa tahun lagi bisa digunakan untuk penggunaan skala luas. Ini dibutuhkan untuk menurunkan jumlah PET lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan saat ini, sebelum secara ekonomis menjadi layak sebagai bagian dari lanskap daur ulang. McGeehan berharap ini akan menandai awal dari pergeseran manajemen plastik.

Postcomended   Dibujuk PBB, Israel Batal Deportasi Ribuan Pencari Suaka dari Afrika

Menanggapi temuan ini, David Shukman, seorang editor sains, mengatakan, tantangan besar di depan adalah bagaimana agar temuan cerdik ini bisa diaplikasikan di dunia nyata. Misalnya mengembangkan teknik untuk memproduksi enzim dengan biaya murah. Dalam mencari solusi ilmiah untuk krisis pencemaran plastik, kata Shukman, momentum seperti ini sangat penting.(***/BBC)

Share the knowledge