Era Komunikasi Bisnis Via Chatbot Dimulai: East Venture Kucurkan Modal ke Startup Bahasa.ai #SURUHGOOGLEAJA

Ekonomi Nasional
Share the knowledge

FILE - In this Tuesday, Oct. 4, 2016, file photo, Google CEO Sundar Pichai talks about Google Assistant during a product event in San Francisco. Google is likely to again put artificial intelligence in the spotlight at its annual developers conference, Thursday, May 10, 2018. (AP Photo/Eric Risberg, File)
Sundar Pichai sedang melakukan simulasi mengobrol dengan Duplex, operator berbasis kecerdasan buatan dengan suara sangat manusiawi (AP Photo/Eric Risberg, File)


Perusahaan rintisan alias startup berbasis kecerdasan buatan (AI), Bahasa.ai, Jumat ini (24/8/2018), mendapatkan pendanaan benih (seed funding) dari perusahaan modal ventura East Venture. Namun jumlahnya masih dirahasiakan. Dalam perkembangannya, Bahasa.ai diharapkan akan memahami cara orang menggunakan Bahasa, khususnya bahasa Indonesia, di media sosial.

Menurut Kevin Mintaraga, Co-Founder dan CEO Bridestory.com, dalam tulisan di laman Hitsss, pendanaan benih yang merupakan tahapan awal pendanaan oleh perusahaan modal ventura, biasanya berkisar antara 50 ribu dollar AS (sekitar Rp 700 juta) hingga 1 juta dollar AS (sekitar Rp 14 miliar).

East Ventures adalah perusahaan investasi yang berfokus pada pendanaan usaha tahap awal (early stage startup). Wilayah kerjanya adalah di Asia Tenggara plus Jepang.

Bahasa.ai menggambarkan diri sebagai perusahaan jasa berbasis AI (AI-as-a-service) yang bertujuan membangun modul NLP/NLU (bahasa alami/bahasa pemahaman) yang paling kuat untuk bahasa Indonesia.

Saat ini Bahasa.ai menerapkan teknologi untuk membantu suatu usaha dalam mengeksekusi strategi chatbot mereka. Chatbot adalah perangkat lunak computer yang dapat membantu/menggantikan manusia melakukan komunikasi dengan satu atau lebih manusia.

Investasi benih kepada Bahasa.ai ini diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan mesin NLP/NLU yang memungkinkan aplikasi AI menggunakan versi Bahasa Indonesia yang lebih kontekstual dan relevan.

Postcomended   KOMITMEN KATINGAN MENUJU KABUPATEN LAYAK ANAK

Menurut CEO Bahasa.ai, Hokiman Kurniawan, seperti dilaporkan laman Deal Street Asia, startup akan fokus pada dua faktor penting untuk membangun chatbot yang baik yakni teknologi dan desain. Secara teknologi, akan muncul tantangan bagaimana mengadaptasi dinamika kata-kata slang Indonesia dan struktur gramatikalnya yang rumit.

Menurut Hokiman, untuk mengatasi hal ini, Bahasa.ai telah mengembangkan berbagai mesin termasuk mesin crawler yang terus memantau bagaimana orang menggunakan bahasa di media sosial. “Misi kami adalah membuat mesin yang mengerti bahasa Indonesia secara komprehensif,” ujar Hokiman.

“Kami juga memiliki metode khusus untuk mengatasi kata-kata yang secara semantik terus berulang. Misalnya penggunaan kata saya, aku, dan gue yang secara semantik mirip, dapat dipetakan oleh mesin kami sehingga chatbot mampu mengenali konteks percakapan,” ujarnya.

Postcomended   Mobil Ningrat Inggris ini Ludes di Indonesia

Hokiman percaya bahwa teknologi ini tidak hanya dapat diimplementasi pada chatbot. “Ketika mesin dapat berbahasa Indonesia dengan baik, akan ada banyak potensi pertumbuhan produktivitas di Indonesia,” ujar Hokiman.

Mengomentari kesepakatan itu, pemimpin East Ventures, Melisa Irene, mengatakan, “Dengan lebih dari 700 dialek yang diucapkan di negara ini, sebagian besar orang Indonesia akan berbicara dalam bahasa ganda: bahasa Indonesia dan dialek.”

Hal ini lanjut Melisa, menghasilkan banyak variasi bahasa slang, ejaan, dan singkatan baik saat berkomunikasi secara lisan maupun tulisan, yang menghadirkan peluang besar untuk NLP/NLU di Indonesia sendiri.

East Ventures adalah salah satu perusahaan modal ventura yang paling aktif di Indonesia dan berspesialisasi dalam dukungan startup di tahap awal. Di antara investasi yang paling sukses adalah Tokopedia, Traveloka, dan Ruangguru. Investasi terbaru yang diumumkan kepada publik adalah putaran pendanaan benih untuk Katadata, platform media.

Fathur Rachman Widhiantoko, kepala teknologi Bahasa.ai menegaskan lagi, seperti dilaporkan laman Merdeka, penerapan dan teknologi yang tepat untuk chatbot berbasis AI dapat sangat bermanfaat bagi bisnis. “Salah seorang klien kami yang merupakan perusahaan distribusi lokal di Banten mampu secara konsisten menghasilkan pendapatan tambahan Rp 600-900 juta setiap bulan melalui strategi chatbot yang baik,” jelasnya.***

Postcomended   16, 17, 18 Agustus: Indonesia Merdeka hingga Skandal Clinton dan Lewinsky

 


Share the knowledge

Leave a Reply