SINDOnews | Kumpulan Berita Media Cetak Terbaru SINDOnews

SINDOnews | Kumpulan Berita Media Cetak Terbaru SINDOnews

Para pegiat media massa cetak seolah belum sudi bahwa era berakhirnya komunikasi dan informasi cetak, telah berada di depan mata. Survei Nielsen yang menyebut media cetak masih menjadi pilihan masyarakat, seolah menguatkan romantisme mereka pada kertas. Namun pemerhati media massa mengingatkan bahwa masa depan adalah milik Generasi digital.

Praktisi dan pemerhati media massa, Wina Armada, menyebutkan, masa depan adalah “milik” Generasi Z. Istilah Generasi Z diambil Wina dengan mengacu pada teori sosiolog Hongaria, Karl Mannheim, bahwa Generasi Z adalah generasi yang lahir pada kurun 1995-2010.

Dalam tulisannya di “Antara.com”, Wina menulis, Generasi Z lahir di dunia yang sudah serba digital. Mereka kata Wina, hampir tak lagi membutuhkan pers konvensional seperti koran dan majalah cetak.

Walhasil, Wina menyimpulkan dengan cukup kejam bahwa dunia pers cetak akan segera bangkrut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, di Pulau Jawa saja Generasi Z pada 2020 akan mencapai 61,8 persen; saat ini sudah sekitar 59 persen.

Jika prediksi Wina terjadi, satu saat di masa depan, bukan tak mungkin tak akan ada lagi toko-toko buku; mungkin semacam bangkrutnya toko kaset saat ini. Pasalnya, kalaupun suka membaca buku, generasi ini boleh jadi akan lebih suka membaca buku di layar tablet atau ponsel pintar, yang pada masanya nanti mungkin akan dilengkapi batere yang bisa berumur lebih panjang.

Dan ini bukan mimpi di siang bolong ketika pada 1993 saja, Peter James, telah memiliki ide menerbitkan novelnya, “Host”, ke dalam bentuk dua floppy disk, seperti dilansir “BBCIndonesia.com”. Seperti sebagian pegiat media cetak yang masih sulit menerima kenyataan bahwa tren paperless akan segera mengambil alih, terobosan James tersebut kala itu dirisak habis-habisan antara lain oleh wartawan, sesama penulis, dan praktisi penerbitan buku. James dituding telah “membunuh novel”.

Postcomended   Hentikan Menyiksa Hati, Ayo Konsumsi Probiotik

Pendiri Institute for the Future of the Book, Robert Stein, misalnya dengan defensif mengatakan, “Orang tidak akan pernah membaca dari layar.” Namun, para perisak James itu kini mungkin menunduk malu dengan tak tertahankannya kemunculan e-book.

Di Indonesia, sebelum menerbitkan versi cetaknya pada 2008, novelis Dewi Lestari bahkan telah menerbitkan novel “Perahu Kertas” melalui jaringan 3G yang bisa diakses pelanggan XL dengan mengunduh konten yang tersedia.

Pihak XL mengklaim, selama masa percobaan sekitar empat bulan, ada 60 ribuan pengguna yang mengunduh konten novel tersebut. Namun tak nyamannya membaca melalui layar yang kecil, kapasitas batere yang terbatas, dan sebagian masih dihantui kuota, untuk saat ini mungkin masih bisa membuat pegiat bisnis buku bernapas lega. Toh faktanya e-book “Perahu Kertas” akhirnya terbit cetak juga.

Postcomended   Gaet Wisman Vegetarian, Kemenpar Dukung Konser Budaya Alam Nusantara 2018

E-book memang sama sekali belum buming, namun Wandi S. Brata, salah seorang pimpinan di Gramedia Grup, dalam perbincangan di Sekretariat Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada Mei 2015 mengungkap fakta bahwa penjualan buku di jaringan toko buku Gramedia terus menurun, kalah oleh produk nonbuku.

Wandi lalu membocorkan data: penjualan total tahun 2012 mencapai 33.565.472 eksemplar, turun pada 2013 menjadi 33.202.154 eksemplar. Pada 2014 bahkan turun tajam menjadi 29.883.822 eksemplar.

Kertas mungkin saja tak punya masa depan di dunia penerbitan, khususnya media massa cetak. Pelaku industri kertas pun telah merasakan turunnya permintaan kertas terutama di sektor media massa cetak.

Namun industri kertas sendiri tampaknya berbeda nasib dengan konsumennya yang satu itu. Ketika permintaan penerbitan dari kalangan media massa turun, industri kertas bisa menggenjot permintaan dari sektor kemasan.

Di tengah kampanye pengurangan penggunaan plastik untuk kemasan yang menghangat, kertas adalah pilihan yang tak terbantahkan. Kenyataannya, seperti diungkapkan Ketua APKI, Aryan Warga, permintaan kertas terutama karton untuk kemasan, mengalami peningkatan (Bisnis.com, 17 November 2017).

Postcomended   Mau Souvenir Asian Games 2018, Cari Aja di Tempat Ini

Bahkan permintaan dari luar negeri naik seiring peningkatan kebutuhan, di saat kapasitas produksi kertas seperti di Jepang dan AS mengalami stagnasi. Ini belum termasuk pertumbuhan permintaan seperti untuk kertas tisu.

Mungkin saatnya eksploitasi tanah untuk hutan tanaman industri berhenti sejenak, untuk memberi waktu bagi Bumi bernapas.(*/tamat)

Share the knowledge