Ekonomi

Era “Paperless” Telah di Ambang Pintu? Survei Nielsen Sebut Media Cetak Masih Menjadi Pilihan (Bagian I)

Frederick Wilfrid Lancaster - Alchetron, the free social encyclopedia Alchetron Best ...

Frederick Wilfrid Lancaster – Alchetron, the free social encyclopedia Alchetron Best …

Seorang pakar informasi Inggris, Frederick Wilfrid Lancester, sejak 1978 telah meramalkan era paperless; era tanpa kertas. Ramalan yang dinyatakan di tahun-tahun fotocopy sedang buming-bumingnya ini tampaknya mulai menunjukkan sosoknya. Salah satunya bisa dilihat dari bertumbangannya media massa cetak, dan menurunnya minat pada buku.

Lancaster kala itu menyatakan bahwa akan terbentuk “paperless society” alias masyarakat tanpa kertas. Professor emeritus Universitas Illinois, Amerika Serikat (AS) ini mengungkapkan, masyarakat tanpa kertas adalah masyarakat di mana komunikasi menggunakan kertas (dokumen tertulis, surat, surat, dll.) akan digantikan oleh komunikasi berbasis elektronik.

Tak hanya media massa, toko-toko buku pun mulai terdampak. Mereka mengeluhkan penjualan yang menurun. Bagaimana tidak, terlepas dari kualitasnya, bahan bacaan kini melimpah ruah hanya dalam satu genggaman.

Pada dekade kedua abad Milenium, dua ​majalah legendaris AS, “Newsweek” dan “Variety”, menyerah terbit secara cetak. Syukurlah mereka masih bisa ditengok secara daring, karena platform inilah yang kini masih bisa mengakomodasi kehadirannya di ruang publik. Kabar terakhir dari negeri sendiri, “Rolling Stones Indonesia” (RSI) telah mengibarkan bendera putih.

Majalah RSI hanya menyusul sejumlah media cetak lainnya yang telah almarhum lebih dulu. Sebut saja: “Sinar Harapan”, tabloid “Bola”, “koran Sindo” daerah, “Koran Tempo” edisi minggu, “Jakarta Globe”, majalah “Hai”, hingga “Galamedia” Minggu”.

Tak berhenti di “Bola” dan “Hai”, grup sebesar Kompas Gramedia pun pada 2016 mengaku menutup delapan media cetaknya (“Kawanku”, “Chip”, “Auto Expert”, “Motor”, “Car and Turning Guide”, “Sinyal”, “Chip Foto Video”, dan “What Hi Fi”)

Postcomended   Terbukti! Suasana ini dapat Membantu Kekuatan Penyimpanan Memori!

Namun indikator-indikator tersebut rupanya dianggap belum cukup kuat rupanya. Kejiwaan para pelaku media cetak tampaknya masih belum sudi menerima kenyataan tersebut. Terlebih belum lama ini ada kabar yang dirilis Nielsen.

Menurut hasil survei lembaga riset media ini di 11 kota besar di Indonesia (17.000 responden) yang diumumkan 6 Desember 2017, media cetak masih menjadi pilihan. Alasannya, beritanya dapat dipercaya. Survei dilakukan pada triwulan IV-2016 hingga triwulan III-2017.

Media cetak saat ini, sebut Nielsen, masih dibaca oleh 4,5 juta orang, dengan 83 persennya membaca koran. Lebih melegakan lagi karena dari jumlah tersebut terungkap bahwa usia pembacanya mencakup generasi Milenial –yang dianggap sudah mulai kurang kenal media cetak– yakni 20-49 (74 persen).

Namun frekuensi mereka mengakses internet tetap tinggi yakni 86 persen. Perolehan iklan meskipun turun masih tergolong besar dari Rp 25 triliun pada 2013, menjadi Rp 21 triliun pada 2017 di periode sama (Januari-September).

Kendati begitu, kalangan pegiat bisnis media termasuk penerbit buku tak bisa menafikan sejumlah fakta menurunnya permintaan terhadap bahan kertas, ketika sementara pengamat pun mengisyaratkan lampu kuning terkait generasi yang kian digitalis.

Postcomended   24 Jam Sejak Diresmikan, Patung David Bowie Sudah Dicorat-coret

Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Aryan Warga, seperti dilansir “Bisnis.com”, mengungkapkan, permintaan kertas untuk penerbitan saat ini stagnan, sedangkan kertas untuk koran: menurun.

Penurunan ini dapat dilihat dari data Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) seperti diwartakan situs “Kompas” bahwa jumlah penerbitan media massa cetak yang pada 2002 masih 2.003 penerbit, hanya dalam dua tahun (2004) terjun bebas ke angka 695 penerbit (16 juta eksemplar).

Ada indikasi media sedang mencari kesetimbangan kala itu karena pada 2006 naik lagi menjadi 825 penerbit dengan jumlah eksemplar bahkan melebihi 2002 yakni 18 juta eksemplar. Sementara data terakhir, 2013, jumlah penerbitan mencapai 850 dengan tiras turun lagi menjadi 17.000.

Ketua SPS, Ahmad Djauhar, memperingatkan, bahwa di pertengahan 2017 iklan media massa cetak mengalami penurunan hingga 40 persen. Padahal iklan adalah darah daging media massa.

Tengok juga hasil penelitian lembaga konsultan bisnis Pricewaterhouse Cooper (PwC) dalam riset media outlook 2017 yang menyebutkan bahwa laju global pertumbuhan koran dalam lima tahun ke depan adalah minus 8,3 persen (bandingkan dengan media majalah, radio, televisi, dan buku yang “hanya” minus pada 3,4-6 persen). Kondisi ini terjadi di saat media berbasis internet tumbuh 0,5-6 persen.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) seolah berbanding sejajar dengan pertumbuhan jumlah warganet, yakni ketika 2002 hanya ada 4,5 juta warganet, pada 2004 –saat jumlah penerbitan mulai tergerus– jumlah warganet menjadi 11,2 juta. Pada 2017, jumlahnya telah mencapai 145 warganet.

Postcomended   Tahanan Muslim di LP Anchorage Diduga Diberi Makanan Berbahan Babi untuk Berbuka

Menanggapi tren yang masih coba disangkal sejumlah pegiat media massa cetak ini, pengamat dan praktisi media massa, Wina Armada, mengingatkan, bahwa masa depan adalah “milik” Generasi Z (Penyebutan generasi Z oleh Wina mengacu pada teori sosiolog Hongaria, Karl Mannheim, bahwa Generasi Z adalah yang lahir pada periode 1995-2010).

Dalam tulisannya di “Antara.com”, Wina menulis bahwa Generasi Z lahir di dunia yang sudah serba digital.  Mereka kata Wina, hampir tak lagi membutuhkan pers konvensional, seperti koran dan majalah cetak. (*/BERSAMBUNG)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top