File:Malaria distribution (de).png - Wikimedia Commons Wikimedia Commons File:Malaria distribution (de).png

File:Malaria distribution (de).png – Wikimedia Commons Wikimedia Commons File:Malaria distribution (de).png

Rahasia tentang bagaimana malaria menjadi pembunuh manusia yang mematikan telah diungkap oleh satu studi genetik. Penelitian yang dipimpin peneliti dari Wellcome Sanger Institute di Cambridge, Inggris, ini, membandingkan tujuh jenis malaria, untuk menelusuri pohon keluarga parasit ini.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa, sekitar 50.000 tahun yang lalu, parasit mengalami penyimpangan, dengan satu “cabang” berevolusi menjadi spesies yang menginfeksi manusia paling mematikan. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Microbiology.

Salah satu elemen dari penyimpangan ini adalah saklar genetik yang memungkinkan malaria menginfeksi sel darah merah manusia, yakni “potongan DNA mematikan” yang menurut penelitian sebelumnya belum dapat memberikan target untuk penciptaan vaksin pemblok malaria.

“Studi kami telah menyatukan serangkaian langkah berurutan yang mengatur badai kritis. Membiarkan parasit tidak hanya memasuki manusia tetapi tetap, membelah dan ditransfer oleh nyamuk,” jelas salah satu peneliti utama, Dr Matt Berriman.

Pembunuh Global
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, lebih dari 200 juta orang terinfeksi malaria setiap tahun. Penyakit ini menyebabkan kematian hampir setengah juta orang secara global pada 2016. Mayoritas korban adalah anak-anak di bawah usia lima tahun.

Sejauh ini spesies parasit yang paling mematikan yang menyebabkan bencana kesehatan global ini adalah Plasmodium falciparum, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Namun ada banyak spesies terkait lainnya yang menginfeksi beberapa sepupu kera besar kita, simpanse dan gorila.

Postcomended   Lokakarya untuk Sekolah-sekolah Filipina Belajar Islam dari Indonesia

Untuk mempelajarinya, para peneliti bekerja sama dengan tim yang merawat kera yang terluka dan yatim piatu di sebuah tempat perlindungan di Gabon, Afrika. Sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan hewan, staf dokter hewan mengambil sampel darah dari mereka.

“Ternyata hewan yang sehat memiliki tingkat parasit yang sangat tinggi dalam darah mereka,” kata Dr Berriman kepada BBC News. Sampel darah mereka itu memberikan serangkaian kode genetik malaria yang dapat digunakan para ilmuwan untuk melacak sejarah evolusinya.

Membandingkan genom spesies malaria ini memungkinkan dia dan timnya untuk menelusuri kembali bagaimana kode genetik telah “direshuffle” ketika parasit berevolusi, dan bagaimana serta kapan pengacakan itu menciptakan satu resep genetik yang mematikan yaitu Plasmodium falciparum.

Postcomended   WhatsApp Pastikan Data Pengguna Aman Bahkan dari WhatsApp Sendiri

Kerabat Dekat
Para peneliti memeriksa tujuh jenis malaria yang berbeda, yakni tiga yang menginfeksi simpanse, tiga yang menginfeksi gorilla, serta satu spesies yang menginfeksi manusia.

Para ilmuwan menemukan bahwa garis evolusi yang mengarah ke terbentuknya parasit mematikan ini muncul 50.000 tahun yang lalu, tetapi belum sepenuhnya menyimpang sebagai spesies parasit spesifik manusia sampai 3.000 hingga 4.000 tahun yang lalu.

“Ekspansi manusia modern menciptakan rumah di mana parasit yang sudah tidak dapat diubah ini berevolusi menjadi bentuk yang spesifik (untuk) manusia,” jelas Dr Berriman.

Prof Janet Hemingway, direktur dari Liverpool School of Tropical Medicine mengatakan, penemuan ini “sangat penting” karena membangun gambaran bagaimana suatu penyakit berhasil melintasi penghalang spesies, sehingga menjadi penyakit manusia yang mematikan.

Memahami bagaimana itu terjadi, memungkinkan para ilmuwan mengenali –dan bahkan menghindari– pola yang mungkin mengarah pada skenario yang sama di masa depan.

“Hari-hari ini kebanyakan orang berpikir tentang malaria sebagai penyakit manusia, dan lupa bahwa ini adalah penyakit zoonosis yang melintasi penghalang spesies 50.000 tahun yang lalu dan kemudian berevolusi bersama dengan tuan rumah barunya untuk menjadi salah satu penyakit paling mematikan yang diketahui manusia,” kata Prof Hemingway.

Postcomended   Ini Kabar Terakhir Jurnalis Pelempar Sepatu ke Presiden Bush

“Ini akan menggarisbawahi mengapa sangat penting bahwa kita bereaksi terhadap pergerakan parasit dan virus hewan saat ini ke manusia, dan tidak memberi mereka kesempatan untuk secara permanen ditularkan dari manusia ke manusia.”(***/BBC)

Share the knowledge