Pemantauan arus penerbangan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 (Nataru) oleh Pos Koordinasi Direktorat Jenderal Perhubungan memasuki hari-hari akhir. Hingga H+4 (Jumat, 4 Januari 2018), arus penumpang penerbangan Nataru 2017/2018 secara total mengalami kenaikan yang signifikan. Hal tersebut berimbas pada penerbangan tambahan (extra flight) yang juga terealisasi sangat tinggi.

Dari pemantauan Posko Ditjen Perhubungan Udara, hingga H+4, extra flight penerbangan domestik terealisasi 74,55 persen, yaitu 779 penerbangan dari 1045 penerbangan ekstra yang direncanakan. Sedangkan untuk extra flight penerbangan internasional terealisasi 98,61 persen, yaitu 71 penerbangan ekstra yang terealisasi dari 72 penerbangan ekstra yang direncanakan.

Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso menyambut baik realisasi extra flight yang tinggi tersebut. Hal ini menandakan bahwa penyelenggaraan penerbangan ternyata juga bisa dilakukan di waktu-waktu yang dianggap tidak favorit dan tetap diminati penumpang. Jika hal tersebut bisa tetap dilaksanakan di luar waktu peak season, tentu bisa mengurangi beban operasional bandara pada jam-jam sibuk. Dan dengan demikian keselamatan penerbangan juga bisa semakin ditingkatkan.

“Extra Flight itu dilakukan di jam-jam yang dianggap tidak favorit bagi penumpang, seperti di siang tengah hari atau malam dini hari dan ternyata tetap diminati, terlepas bahwa saat ini adalah peak season. Jika penerbangan di waktu-waktu tersebut juga dilaksanakan di luar peak season oleh maskapai penerbangan, tentu slot penerbangan akan bisa disebar lebih merata. Dengan demikian beban kerja pengatur penerbangan juga bisa lebih diratakan dan lebih ringan karena konsentrasi pengontrolan bisa diratakan. Hal tersebut sangat berarti untuk lebih meningkatkan keselamatan penerbangan,” ujar Agus Santoso.

Postcomended   Rencana Penerapan E-tol: Bank Diuntungkan, Biaya Isi Ulang Tetap Beban Konsumen

Memang tantangan dalam hal pengaturan slot time penerbangan adalah keinginan maskapai dan penumpang untuk melakukan operasional pada jam-jam tertentu yang sering disebut peak hour atau golden time. Yaitu pada pagi hari antara pukul 06.00 – 09.00 dan sore hari antara pukul 16.00 – 17.00. Hal tersebut berkaitan dengan aktivitas kegiatan masyarakat dan juga jam operasional bandara. Semua maskapai penerbangan selalu ingin melakukan operasi penerbangan pada peak hour atau golden time tersebut, sehingga mengakibatkan padatnya jadwal penerbangan dan beban kerja yang tinggi terkonsentrasi pada pengatur operasional penerbangan baik itu dari pihak bandara, maskapai, ground handling maupun navigasi penerbangan. Sementara itu jadwal penerbangan di luar peak hour atau golden time tersebut cenderung sedikit bahkan boleh disebut kosong.

“Operasional extra flight saat peak season sangat bagus untuk dijadikan bahan pelajaran bagi para penyelenggara penerbangan dan masyarakat untuk lebih bisa mengatur waktu penerbangan sehingga lebih merata setiap harinya. Dengan demikian keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan juga bisa lebih ditingkatkan,” ujar Agus lagi.

Postcomended   #mudik2018 Jangan Hanya Lewat Saja Saat Mudik Lebaran Tapi Destinasi Terbaik Serang Ini Wajib Dikunjungi

Sementara itu, dari laporan oleh Pos Koordinasi Direktorat Jenderal Perhubungan memasuki H+4 (Jumat, 4 Januari 2018), arus penumpang penerbangan domestik Nataru 2017/2018 secara total (H-7 s d H+3) mengalami kenaikan 7,8 persen dibandingkan tahun lalu. Jumlah penumpang yang berangkat tahun ini di 35 bandara yang dipantau mencapai 5.219.821 penumpang, sedangkan tahun lalu adalah 4.838.132 penumpang. Sementara untuk penerbangan internasional turun 1,72 persen yaitu dari 829.251 penumpang tahun lalu menjadi 815.003 penumpng tahun ini dari 7 bandara internasional yang dipantu.

Ke-35 bandara domestic yang dipantau tersebut adalah Bandara Soekarno – Hatta – Jakarta (CGK), Kualanamu Internasional – Medan, I Gusti Ngurah Rai – Denpasar, Juanda – Surabaya, Sultan Hasanuddin – Makassar, SAMS Sepinggan – Balikpapan, Adisutjipto – Yogyakarta, Adi Soemarmo – Solo, Ahmad Yani – Semarang, Syamsudin Noor – Banjarmasin, Sam Ratulangi – Manado, Supadio – Pontianak, Hang Nadim – Batam, El Tari – Kupang, Depati Amir – Pangkal Pinang, Internasional Lombok – Praya, Juwata – Tarakan, Sultan Syarif Kasim II – Pekanbaru, Sultan Thaha Syaifuddin – Jambi, Sultan Babullah – Ternate, Mutiara Sis Al Jufri – Palu, Sultan Iskandar Muda – Banda Aceh, Sultan Mahmud Badarudin II – Palembang, Internasional Minangkabau – Padang, Pattimura – Ambon, Fatmawati Soekarno – Bengkulu, Tjilik Riwut – Palangka Raya, Husein Sastranegara – Bandung, Sentani – Jayapura, Raden Inten II – Tanjung Karang, Djalaluddin – Gorontalo, Haluoleo – Kendari, Frans Kaisiepo – Biak, Raja Haji Fisabilillah – Tanjung Pinang dan Halim Perdanakusuma – Jakarta (HLP).

Postcomended   Tour de Singkarak ETAPPE 3, Senin 20 November 2017, SIJUNJUNG - DHARMASRAYA

Sedangkan 7 bandara Internasional yang dipantau adalah Bandara, yaitu Soekarno – Hatta – Jakarta (CGK), Kualanamu Internasional – Medan, I Gusti Ngurah Rai – Denpasar, Juanda – Surabaya, Sultan Hasanuddin – Makassar, Adisutjipto – Yogyakarta dan Husein Sastranegara – Bandung.

#PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia

Share the knowledge