200 Aplikasi Diblokir dari Facebook Industri Bisnis

200 Aplikasi Diblokir dari Facebook Industri Bisnis

Belajar dari skandal panen data pengguna oleh konsultan politik Cambridge Analytica, Facebook tampaknya tak mau ambil risiko lagi. Pihak Facebook menyebutkan, mereka baru saja menangguhkan 200 aplikasi untuk mengantisipasi penyalahgunaan serupa. Bagaimana tidak, gara-gara skandal tersebut saham Facebook anjlok 7 persen dan membuat harta sang boss, Mark Zuckerberg, tergerus sebanyak 6,06 miliar dolar AS (sekitar Rp 81 triliun).

Facebook mengatakan dalam sebuah posting blog, Senin (14/5/2018) bahwa mereka telah menyelidiki ribuan aplikasi. Aplikasi yang telah ditangguhkan itu tidak disebutkan, tetapi mereka mengatakan akan tunduk pada penyelidikan yang lebih menyeluruh tentang bagaimana mereka menangani data pengguna.

Cambridge Analytica, yang bekerja pada kampanye pemilihan Presiden Donald Trump 2016, menggunakan data yang dikumpulkan melalui aplikasi yang dikembangkan oleh profesor psikologi Universitas Cambridge, Aleksandr Kogan.

Postcomended   Bocah Autis Tahun Bangun Replika Titanic 8 Meter: Mengungkap Kejeniusan Penyandang Autisme

Aplikasi ini menawarkan tes kepribadian, tetapi pengguna Facebook yang mengunduhnya juga memberi izin kepada Kogan untuk mengumpulkan data di lokasi akun mereka, termasuk data teman-teman mereka dan konten yang mereka “sukai”.

Kogan menyediakan data itu untuk Cambridge Analytica, yang (sebenarnya) melanggar peraturan Facebook. Pada 2015, Facebook telah meminta Cambridge Analytica untuk menghapus data, tetapi pada Maret tahun itu juga mengetahui bahwa pemintaan itu tidak dipenuhi.

Kogan mencurigai bahwa ribuan pengembang lain dan para ilmuwan data, juga telah menggunakan metode serupa untuk mengumpulkan informasi tentang pengguna Facebook.

Ime Archibong, Wakil Presiden Facebook dari kemitraan produk, mengatakan dalam posting Senin, perusahaan akan melarang setiap aplikasi yang diketahui menyalahgunakan data. Dia mengatakan, Facebook akan memberi tahu pengguna Facebook tentang larangan tersebut dan memungkinkan mereka untuk memeriksa apakah data mereka disalahgunakan.

Postcomended   Dibelit Skandal Asusila dan Keuangan, Hadiah Nobel Sastra 2018 Ditangguhkan

“Kami melakukan investasi besar-besaran untuk memastikan penyelidikan ini selengkap dan sesegera mungkin,” kata Archibong.

Cambridge Analytica sendiri “keukeuh” membantah telah menyalahgunakan data pengguna Facebook untuk kampanye Trump, dan membela bahwa karyawannya telah berperilaku etis dan sah. Namun begitu, perusahaan yang sudah jatuh merek ini akhirnya mengumumkan penutupannya pada awal Mei 2018.

Mengenai itu, pendiri induk usaha Cambridge Analytica, SCL Group, Nigel Oakes, mengatakan, perusahaan analisis data itu tidak akan hadir kembali dengan nama baru. Pernyataannya ini disampaikan menyusul kekhawatiran Cambridge Analytica akan melakukan rebranding di bawah sebuah perusahaan misterius bernama Emerdata.

Dilansir Business Insider, Kamis (10/5/2018), Oakes dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, mengatakan, Emerdata telah berada dalam kondisi “administrasi”. Artinya, perusahaan itu dikelola oleh administrator yang ditunjuk pengadilan terkait proses kebangkrutan.

Postcomended   Masih Sering Salah Membedakan Margarin dan Mentega? Simak Perbedaannya

Cambridge Analytica dan SCL Elections (bagian dari SCL Group) telah mengumumkan penutupan dan kebangkrutannya pada pekan lalu.(***/CNN/businessinsider)

Share the knowledge